Perusahaan teknologi raksasa Grab Holdings bersiap memperkuat kendalinya di saham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA). Aksi tersebut dilakukan dengan Grab yang akan mengonsolidasikan keuangan SUPA lewat anak usaha Grab yaitu GXS Bank.
Skenarionya, kepemilikan saham Singtel Alpha Investments Pte. Ltd di Superbank ke GXS Bank. Adapun GXS Bank merupakan anak usaha Grab di bidang perbankan digital.
Berdasarkan data kepemilikan saham SUPA per Mei 2026, Singtel Alpha Investments menggenggam sebanyak 7,36% dari total saham SUPA yang beredar. Sementara itu, proses pengalihan itu diperkirakan rampung pada Mei 2026.
Usai aksi itu, kepemilikan langsung dan tidak langsung Grab di Superbank akan meningkat menjadi lebih dari 50%.
“Dengan demikian, kinerja keuangan Superbank akan dikonsolidasikan ke dalam segmen layanan keuangan Grab,” tulis manajemen Grab dalam keterangan resmi yang dikutip Senin (25/5).
Superbank merupakan bank digital di Indonesia yang didukung oleh sederet perusahaan teknologi besar seperti Grab, Emtek, Singtel, KakaoBank dan GXS Bank. SUPA melantai di Bursa Efek Indonesia pada Desember 2025 dengan kapitalisasi pasar mencapai US$ 1,6 miliar.
Aksi penawaran umum perdana saham atau IPO memperkuat struktur permodalan Superbank dan mengangkat statusnya menjadi bank KBMI 2. Klasifikasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tersebut diberikan kepada bank dengan modal inti Rp 6 triliun hingga Rp 14 triliun.
Status KBMI 2 mencerminkan basis modal yang lebih kuat sekaligus memberi ruang lebih besar bagi Superbank untuk memperluas penyaluran kredit dan pengembangan produk.
Meski terjadi konsolidasi, Singtel tetap menjadi investor strategis untuk mendukung GXS Bank dan Superbank dalam memperluas inovasi serta inklusi keuangan di Indonesia.
Grab telah menjadi investor di Superbank sejak 2022. Menurut perusahaan, Indonesia sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan basis konsumen yang terus tumbuh dan semakin terdigitalisasi menjadi salah satu pasar layanan keuangan digital terbesar di dunia.
Ekosistem bisnis Grab dan OVO di sektor transportasi daring, pengantaran makanan, dan pembayaran digital dinilai menjadi keunggulan distribusi bagi Superbank. Selain itu, besarnya data transaksi di ekosistem Grab memperkuat kemampuan analisis kredit Superbank.
Transaksi ini juga sejalan dengan strategi GXS Bank untuk memperluas bisnis di Asia Tenggara sekaligus memperdalam kolaborasi antara Superbank dengan operasional GXS Bank di Singapura dan Malaysia.
Sejak meluncurkan aplikasi pada Juni 2024, Superbank tumbuh pesat dengan melayani lebih dari 6 juta nasabah di seluruh Indonesia dan mencatat lebih dari 1 juta transaksi harian. Hingga April 2026, sekitar 60% nasabah Superbank tercatat memiliki akun Grab dan/atau OVO.
Superbank juga membukukan laba tahunan penuh pertamanya pada tahun buku 2025. Pada April 2026, aset perseroan tumbuh 72% secara tahunan menjadi Rp 24 triliun atau sekitar US$ 1,4 miliar. Pendapatan bunga bersih juga meningkat 84% secara tahunan.
Mulai Mei 2026, hasil keuangan Superbank akan sepenuhnya dikonsolidasikan ke dalam segmen layanan keuangan Grab. Perseroan juga akan memperbarui panduan keuangan grup dalam paparan kinerja kuartal kedua 2026 pada Agustus mendatang.
Presiden sekaligus Chief Operating Officer Grab Alex Hungate mengatakan pihaknya bangga dengan pertumbuhan profitabel yang dicapai Superbank dalamdua tahun terakhir.
“Konsolidasi ini bertujuan memperdalam model tersebut dan memperluas dampaknya, sekaligus menegaskan komitmen jangka panjang kami untuk meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia,” ujar Alex.
Direktur Utama Superbank Tigor M. Siahaan menyambut baik langkah konsolidasi tersebut karena dinilai dapat memperkuat kolaborasi dalam ekosistem perusahaan.
“Dengan dukungan yang semakin terintegrasi dari Grab, kami optimistis dapat mempercepat inovasi produk, memperluas akses layanan keuangan digital, serta menghadirkan pengalaman perbankan yang lebih mulus, aman, dan relevan bagi jutaan nasabah di Indonesia,” kata Tigor.
Berdasarkan data pemegang saham per Mei 2026, Elang Media Visitama menjadi pemegang saham terbesar SUPA dengan kepemilikan 27,60%. Disusul Kudo Teknologi Indonesia sebesar 16,67%, A5-DB Holdings 15,95%, KakaoBank 8,55%, Singtel Alpha Investments 7,36%, Tiga Sira Sejahtera 2,83%, dan Glas Trust 1,92%.