GOTO Respons Rilis Baru MSCI dan FTSE, Sebut Perubahan Indeks Tak Ganggu Kinerja

Dok.GoTo
Manajemen GoTo menggelar konferensi pers di Jakarta, Selasa (19/5/2026), merespons kebijakan pemerintah terkait skema komisi ojek online melalui Perpres Nomor 27 Tahun 2026. Direktur Utama GoTo Hans Patuwo menyatakan perusahaan siap menyesuaikan skema komisi sekaligus mengoptimalkan kekuatan ekosistem untuk menjaga stabilitas bisnis jangka panjang.
Penulis: Karunia Putri
3/6/2026, 16.14 WIB

Manajemen PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) buka suara terkait sejumlah keputusan lembaga penyedia indeks global, mulai dari MSCI hingga FTSE Russell yang memengaruhi status sahamnya. GOTO menegaskan perubahan tersebut tidak berdampak terhadap operasional maupun strategi bisnis perusahaan.

Head of Investor Relations GOTO Joel Ellis mengatakan perseroan terus mencatatkan kinerja operasional yang solid di tengah berbagai penyesuaian teknis yang dilakukan oleh penyedia indeks maupun Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dalam pengumumannya, BEI memindahkan saham GOTO dari Papan Ekonomi Baru ke Papan Pengembangan. Menurut Joel, perubahan tersebut bersifat administratif dan didasarkan pada kriteria kuantitatif tertentu, sehingga tidak mencerminkan kondisi fundamental maupun kinerja bisnis perseroan.

"Hal ini terjadi karena Perseroan tidak memenuhi salah satu kriteria yaitu ambang batas pertumbuhan rata-rata tahunan (CAGR) pendapatan bersih selama tiga tahun minimal 20%, sebagai akibat dari dekonsolidasi Tokopedia pada awal 2024," ujar Joel dalam keterangan resmi, Rabu (3/6).

Perpindahan ke Papan Pengembangan kemudian berdampak pada posisi saham GOTO di sejumlah indeks global. Dalam ketentuannya, FTSE Global Equity Index Series (GEIS) belum mengakui saham yang tercatat di Papan Pengembangan BEI sebagai saham yang memenuhi syarat masuk indeks. Karena itu saham GOTO akan dikeluarkan dari FTSE GEIS.

Selain itu, MSCI juga mengumumkan penundaan seluruh perubahan terkait saham GOTO dalam peninjauan indeks periode Mei 2026. Menurut Joel, langkah MSCI lebih dipengaruhi oleh kendala likuiditas perdagangan akibat harga saham GoTo yang berada di level minimum Rp 50 per saham atau gocap.

Kondisi tersebut dinilai dapat menimbulkan kesulitan dalam proses replikasi indeks. Ia menyatakan tidak ada satu pun perubahan status indeks tersebut yang memengaruhi aktivitas operasional maupun arah strategis perusahaan.

Di tengah berbagai sentimen tersebut, GOTO menyatakan kinerja bisnisnya terus menunjukkan perbaikan. Pada kuartal pertama 2026, perseroan membukukan laba bersih kuartalan pertama sepanjang sejarah perusahaan sebesar Rp 171 miliar. Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bersih sebesar 26% secara tahunan menjadi Rp 5,3 triliun.

Perseroan juga mempertahankan proyeksi adjusted EBITDA grup sepanjang tahun 2026 di kisaran Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun. Target tersebut setara dengan pertumbuhan sekitar 60% dibandingkan tahun sebelumnya.

"Fundamental bisnis GoTo kuat dan Perseroan tetap fokus pada pertumbuhan yang disiplin dan menguntungkan, serta menciptakan nilai bagi seluruh pelanggan dan pemegang saham," ujar Joel.

Tekanan dari FTSE hingga MSCI

Sebelumnya, MSCI mengumumkan pembekuan seluruh perubahan terkait saham GOTO dalam evaluasi indeks Mei 2026. Dalam pengumumannya, MSCI menyebut harga saham GoTo yang bertahan di level Rp 50 per saham berpotensi menimbulkan masalah likuiditas dan menyulitkan investor institusi dalam mereplikasi indeks secara efektif.

Karena itu, MSCI membekukan berbagai penyesuaian terhadap saham GOTO, termasuk perubahan jumlah saham beredar atau number of shares (NOS), foreign inclusion factor (FIF), domestic inclusion factor (DIF), constraint factor hingga kemungkinan penambahan maupun penghapusan saham dari indeks MSCI.

MSCI menyatakan akan kembali mengevaluasi likuiditas saham GOTO pada peninjauan indeks Agustus 2026. Jika pada saat itu perseroan masih belum memenuhi persyaratan likuiditas yang ditetapkan, MSCI membuka peluang untuk mengeluarkan saham GOTO dari indeksnya.

Tekanan terhadap saham GOTO juga datang dari FTSE Russell. pada 1 Juni 2026, FTSE menyatakan saham GoTo akan dikeluarkan dari FTSE Global Equity Index Series Mid Cap Index dan efektif berlaku mulai 22 Juni 2026.

FTSE menjelaskan penghapusan tersebut dilakukan karena saham GOTO kini tercatat di Papan Pengembangan BEI. Menurut FTSE, segmen tersebut tidak termasuk kategori pasar yang memenuhi persyaratan untuk masuk dalam FTSE Global Equity Index Series.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri