MSCI mengeluarkan GOTO dari Global Standard Index dan memindahkan CPIN ke Small Cap. Sembilan saham lain juga keluar dari Small Cap, menambah tekanan terhadap pasar saham Indonesia.
GoPay untuk pertama kalinya melampaui Gojek dari sisi profitabilitas. Analis menilai GoTo kini tak lagi bertumpu pada bisnis transportasi online sebagai mesin laba.
Menjelang pengumuman hasil rebalancing MSCI pada 13 Agustus 2026, potensi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) keluar dari indeks kembali menjadi perhatian pasar.
Peta bisnis GoTo berubah. Lini fintech GoPay kini menghasilkan profit lebih besar daripada Gojek, memperkuat posisi perusahaan di tengah perubahan industri ojol.
GoTo mencatat perubahan struktur bisnis di kuartal II 2026. GoPay kini menjadi penyumbang profit terbesar dengan EBITDA melampaui bisnis transportasi Gojek.
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) memangkas target EBITDA yang disesuaikan pada segmen on demand services atau Gojek menjadi sekitar Rp 1,4–1,5 triliun dari sebelumnya Rp 1,7-1,8 triliun.
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 607,49 miliar hingga semester pertama 2026.
Pelaku pasar kini menanti-nanti apakah GOTO mampu mempertahankan profitabilitas setelah mencetak laba untuk pertama kalinya pada kuartal pertama 2026, setelah bertahun-tahun membukukan kerugian.
Saham GOTO sebelumnya sempat disorot lembaga pengelola indeks global seperti MSCI karena rendahnya likuiditas saham ini. Lalu, apa yang membuat GOTO bertahan sebagai konstituen indeks utama BEI?
Perusahaan penyedia sistem pembayaran (payment) mendominasi daftar 500 perusahaan fintech kelas dunia 2026 versi CNBC dan Statista, yakni mencapai 115 perusahaan.