IHSG Babak Belur 2 Hari Berturut-turut, BEI Sebut Fundamental Pasar RI Baik
Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan fundamental pasar modal Indonesia dalam kondisi baik meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat rontok nyaris 5% selama dua hari berturut-turut. Pejabat sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengingatkan investor untuk tetap mengambil keputusan investasi secara rasional dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan dan profil risiko masing-masing di tengah pelemahan IHSG.
Meski begitu, Jeffrey mengatakan kinerja emiten yang tercatat di bursa masih menunjukkan tren positif. Berdasarkan laporan keuangan tahun buku 2025, laba bersih seluruh perusahaan tercatat tumbuh lebih dari 21% dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kalau kita lihat perkembangannya sampai dengan kuartal pertama tahun 2026, dibandingkan dengan kuartal pertama di tahun 2025, khususnya untuk saham-saham dalam kelompok LQ45, terjadi pertumbuhan laba bersih hampir 30%,” ujar Jeffrey kepada di ruang wartawan Gedung Bursa Efek Indonesia, Kamis (4/6).
Tak hanya itu, sebanyak 80% perusahaan tercatat berhasil membukukan laba bersih pada kuartal pertama 2026. Persentase tersebut menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Sebagai perbandingan, pada 2020 hanya 63% emiten yang mencatatkan keuntungan. Adapun pada periode 2021 hingga 2025, proporsi perusahaan yang membukukan laba berada di kisaran 73% hingga 76%.
"Tentu ini dapat dijadikan landasan untuk mengambil keputusan bagi para investor," kata Jeffrey.
Di tengah volatilitas pasar, Jeffrey juga mengingatkan bahwa sejumlah kebijakan stabilisasi yang diterapkan sejak tahun lalu masih berlaku hingga saat ini. Kebijakan tersebut antara lain izin buyback saham tanpa melalui persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS) serta penundaan pelaksanaan transaksi short selling.
Menurut Jeffrey, langkah-langkah tersebut masih menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas pasar dan memberikan fleksibilitas bagi emiten dalam merespons kondisi pasar yang bergejolak.
Selain faktor fundamental, Jeffrey juga membantah kabar yang beredar bahwa MSCI telah menurunkan pasar modal Indonesia ke kelas frontier market. Sebelumnya beredar tangkapan layar yang mengatasnamakan MSCI dan menyebut Indonesia akan diturunkan statusnya dari emerging market menjadi frontier market.
Jeffrey menegaskan, informasi tersebut terbukti tidak benar dan berpotensi menyesatkan investor dalam mengambil keputusan investasi.
"Tentu kami sekali lagi menghimbau agar investor cek dan cross-cek atas informasi yang beredar di pasar sebelum mengambil keputusan," ujarnya.
BEI menyatakan keyakinannya bahwa pasar modal Indonesia akan tetap bertahan di kelas emerging market. Dua hari terakhir, pasar modal Indonesia mengalami kebakaran. IHSG rontok hampir 5%.
Pada perdagangan sesi pertama hari ini, IHSG ditutup rontok 3,48% atau 206,81 poin ke Rp 5.734,26. Level ini merupakan yang terendah dalam lima tahun terakhir, termasuk saat Indonesia berada dalam krisis pandemi Covid-19. Indeks sempat turun ke Rp 5.648 secara intraday. Namun IHSG sedikit menguat pada perdagangan sesi kedua. Indeks ditutup turun 1,7% atau 101,28 poin ke Rp 5.839 pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis (4/6).