Membaca Arah IHSG Melonjak 10,28% 2 Hari, Adakah Potensi Jebakan Investor Ritel?

Katadata/Fauza Syahputra
Layar digital yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2026).
12/6/2026, 12.36 WIB

Pasar saham Indonesia kembali mendapat angin segar setelah mengalami tekanan beruntun lebih dari sepekan. Dalam dua hari terakhir pada 9–10 Juni 2026 IHSG melonjak hingga 10,28% hingga reli tersebut memicu optimisme pelaku pasar setelah tekanan yang melanda bursa beberapa bulan terakhir. 

Namun di tengah kenaikan, tren transaksi di Bursa Efek Indonesia justru didominasik aksi jual. Pada 9 Juni 2026 di tengah IHSG ditutup 7,57% ke 5.746, investor asing melakukan aksi jual dan mencatatkan net sell hingga Rp 2,59 triliun. Aksi penjualan masif itu berlanjut hingga 10 Juni 2026, meski IHSG naik 2,71% asing justru lebih banyak keluar dari bursa Indonesia dengan mencatatkan net sell Rp 2,93 triliun.

Bila dilihat lebih jauh, kenaikan dua hari beruntun terjadi setelah Presiden Prabowo Subianto memanggil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan ke Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (9/6). Dalam pertemuan itu, Luhut didampingi sejumlah anggota DEN lainnya seperti Chatib Basri dan Septian Hario Seto.

Ketiga begawan ekonomi Tanah Air itu memasuki istana melalui gerbang yang menghadap arah Jalan Juanda sekitar pukul 15.40 WIB. Sosok Chatib Basri belakangan ini disebut-sebut menjadi salah satu pilihan Prabowo untuk mengisi posisi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.

Namun angin segar itu tak berlangsung lama. Pada perdagangan Kamis (11/6) kemarin, IHSG kembali merana dengan turun 0,28% ke Rp 5.886 dan kapitalisasi pasarnya mencapai Rp 10.314 triliun. Investor asing juga mencatatkan net sell Rp 261,60 miliar. Apabila dikalkulasikan, asing sudah keluar dari bursa Tanah Air mencapai Rp 5,78 triliun dalam tiga hari beruntun. 

Saham-saham yang sempat menjadi buruan investor seperti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) turun 8,90% ke Rp 655, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tergelincir 2,78% ke Rp 140, PT Petrosea Tbk (PTRO) terkoreksi 4,07% ke Rp 4.010, hingga PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 6,25% ke Rp 1.650. 

Di saat investor ritel mulai mengejar reli pasar, sejumlah peristiwa berisiko tinggi justru berada di depan mata. Dalam dua pekan ke depan, pasar akan menghadapi serangkaian agenda krusial mulai dari MSCI Market Accessibility Review pada 18 Juni, FTSE Rebalancing pada 19 Juni, hingga MSCI Market Classification Review pada 23 Juni yang akan menentukan apakah Indonesia tetap berstatus emerging marketatau berisiko turun menjadi frontier market

Selain itu, investor juga menanti RUPS BEI pada 29 Juni yang akan menentukan jajaran direksi baru. Pemerintah juga berencana demutualisasi BEI akan dirampungkan dalam waktu dekat. 

Pada perdagangan saham hari ini, Jumat (12/6)  IHSG ditutup melonjak 2,68% ke 6.043. Sebanyak 610 saham menguat, 101 saham terkoreksi, dan 100 saham tidak bergerak. 

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi saham siang ini sebesar Rp 11,84 triliun dengan volume 21,56 miliar saham dan frekuensi sebanyak 1,36 juta kali. Adapun kapitalisasi pasar IHSG sesi pertama hari ini Rp 10.579 triliun.

Ke Mana Arah IHSG?

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata menilai reli IHSG belum sepenuhnya menandakan risiko pasar telah berlalu. Menurutnya, tingginya volatilitas masih mengintai dan IHSG masih bisa mengalami koreksi lanjutan.

Kiwoom Sekuritas bahkan masih mengantisipasi kemungkinan terbentuknya pola double bottom pada IHSG. Meski pola tersebut secara teknikal sering diartikan sebagai sinyal pembalikan arah ke tren bullish, indeks tetap berpeluang mengalami satu atau beberapa kali penurunan lagi sebelum melonjak.

Di tengah kondisi tersebut, ia juga melihat sentimen pasar mulai bergeser ke arah risk-on dari pasar obligasi. Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun telah mencapai target di kisaran 7,515%. Level tersebut juga sudah mendekati puncak yang terjadi pada 2022 dengan potensi naik lagi hingga kisaran 7,676%.

Meski investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih bernilai jumbo, Liza menilai valuasi saham Indonesia saat ini sudah berada di level yang sangat menarik. Bahkan, menurutnya, valuasi pasar saham domestik telah menyentuh level yang setara dengan titik terendah saat pandemi Covid-19. 

“Cuma bedanya saat itu seluruh dunia memang terpukul rata oleh pandemi, saat ini faktanya hanya IHSG bursa terburuk di dunia dengan kejatuhan -40% ytd (di saat negara2 tetangga di region Asia masih ada yang rajin bikin rekor),” tulis Liza dalam analisisnya, dikutip Jumat (21/6). 

Di balik kenaikan IHSG mendadak itu, muncul keraguan apakah bursa benar-benar memasuki fase pemulihan atau hanya menikmati reli sesaat di tengah sejumlah risiko yang masih membayangi pasar?

Liza mengatakan sikap skeptis investor hal yang wajar. Menurutnya, reli yang terjadi hanya sementara, sebagian besar masalah fundamental yang memicu tekanan terhadap Indonesia dalam beberapa bulan terakhir belum banyak berubah. 

Ia mencatat nilai tukar rupiah masih berada di kisaran Rp 18.000 per dolar AS setelah sempat mendekati level Rp 18.200 per dolar AS. Selain itu, arus keluar dana asing juga masih berlanjut, dengan akumulasi jual bersih investor asing sejak awal tahun mencapai Rp 78,5 triliun.

Di sisi lain, persepsi risiko terhadap Indonesia masih relatif tinggi. Liza menilai belum ada lembaga pemeringkat internasional yang menaikkan prospek Indonesia. Bahkan, beberapa lembaga pemeringkat dalam beberapa waktu terakhir justru menurunkan prospek Indonesia menjadi negatif.

Menurutnya, sejumlah upaya pemerintah untuk menarik devisa dan mengembalikan kepercayaan investor juga belum sepenuhnya berhasil meredakan kekhawatiran pasar. 

“Oleh karena itu, kenaikan hari ini lebih tepat dipandang sebagai reli pelepasan yang memiliki pemicu yang jelas, namun belum dapat dikategorikan sebagai bukti bahwa semua masalah telah teratasi,” tulis Liza. 

Namun, Liza mengingatkan penguatan pasar saat ini belum menghilangkan sejumlah faktor yang selama ini menjadi sumber kekhawatiran investor. Menurutnya, biaya modal justru meningkat setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50%. 

Sentimen yang Bisa Pengaruhi Gerak IHSG

Di sisi lain, nilai tukar rupiah memang mulai stabil, tetapi belum menunjukkan pemulihan yang kuat, sementara arus keluar dana asing juga belum berbalik menjadi aliran masuk yang konsisten.

Ia menilai pasar masih menunggu kejelasan arah kebijakan ekonomi jangka panjang pemerintah. Ia menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan kenaikan saat ini sebagai titik balik yang pasti bagi pasar saham Indonesia.

Apalagi Liza melihat reli yang terjadi lebih mencerminkan respons pasar terhadap kondisi yang sebelumnya sangat jenuh jual (oversold). Sentimen tersebut diperkuat oleh adanya dukungan kebijakan dan harapan bahwa pemerintah mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap kondisi pasar keuangan domestik.

Secara teknikal, ia menyebut area 5.430 hingga 5.318 menjadi level penopang utama IHSG. Sementara itu, level 5.900 menjadi target penguatan jangka pendek yang perlu ditembus sebelum pasar bisa pulih kedepannya.

Dengan kondisi tersebut, Liza menilai strategi yang lebih tepat saat ini adalah melakukan akumulasi secara bertahap atau pembelian yang bersifat spekulatif, ketimbang langsung melakukan investasi jangka panjang secara agresif.

Meski demikian, ia menjelaskan prospek jangka panjang Indonesia tetap menarik di mata investor global. Menurutnya, Indonesia masih sebagai salah satu motor pertumbuhan utama di Asia Tenggara bersama Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam. 

Hal itu ditopang dari ukuran ekonomi yang besar, kekayaan sumber daya alam, serta pasar domestik yang luas. Ia menilai perdebatan saat ini bukan pada potensi pertumbuhan Indonesia, melainkan pada kemampuan pemerintah dalam memulihkan kepercayaan pasar dan mengeksekusi kebijakan ekonomi secara konsisten.

“Isu yang saat ini diperdebatkan oleh pasar adalah apakah kebijakan yang diambil mampu mempertahankan kepercayaan investor dan mengubah potensi tersebut menjadi pertumbuhan yang benar-benar dapat dinikmati oleh para pemegang saham,” ucap Liza. 



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila