Menilik Prospek Bisnis Transisi Energi TOBA seusai Raup Pinjaman Rp 5,32 Triliun
Di tengah upaya mempercepat transformasi bisnis, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mengantongi pinjaman baru senilai SG$ 345 juta atau setara Rp 5,32 triliun. Fasilitas pinjaman sindikasi itu memiliki nilai maksimal SG$ 385 juta.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), fasilitas tersebut terdiri atas term loan hingga SG$ 345 juta dan revolving loan hingga SG$ 40 juta. Pembiayaan itu diberikan kepada tiga entitas anak TOBA, yakni Cora Environment Group Pte Ltd (CEG), SBT Invest Pte Ltd, dan Taonga Holdings Pte Ltd.
Tak hanya itu, sindikasi pinjaman melibatkan sejumlah bank internasional, dengan DBS Bank Ltd bertindak sebagai coordinating bank, mandated lead arranger and bookrunner, agent, common security agent, serta existing hedge counterparty.
Adapun Bangkok Bank Public Company Limited, Bank of China Limited, E.Sun Commercial Bank, Malayan Banking Berhad (Maybank), RHB Bank Berhad, Societe Generale, Taishin International Bank Co Ltd, dan Natixis Singapore Branch menjadi pemberi pinjaman.
Analis Ciptadana Sekuritas, Rizal Rafly menilai keterlibatan banyak bank internasional mencerminkan kepercayaan terhadap strategi TOBA dalam memperkuat portofolio bisnis berkelanjutan. Menurutnya, lembaga keuangan global umumnya menerapkan proses uji kelayakan yang ketat sebelum menyalurkan pembiayaan. Ini terutama berlaku untuk proyek infrastruktur, transisi energi, dan bisnis yang memiliki arus kas jangka panjang.
Dengan demikian, partisipasi para kreditur tersebut menunjukkan TOBA mulai dipandang sebagai emiten yang memiliki posisi strategis dalam tema transisi energi dan ekonomi berkelanjutan.
“Ini bukan sekadar refinancing, tetapi juga sinyal bahwa pemberi pinjaman melihat bisnis baru TOBA, terutama pengelolaan limbah dan energi bersih, memiliki prospek kredit yang layak,” ujar Rizal dalam analisisnya, Selasa (30/6).
Dia juga menyoroti masuknya Natixis dan Societe Generale sebagai pemberi pinjaman dalam sindikasi tersebut. Menurut dia, kehadiran dua bank asal Prancis itu memperkuat eksposur lembaga keuangan Eropa dalam struktur pendanaan TOBA.
Di kawasan Asia, bank-bank Eropa dikenal aktif membiayai proyek-proyek bertema lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), transisi energi, infrastruktur berkelanjutan, serta ekonomi sirkular. Ia menilai adanya Natixis dan Societe Generale dinilai dapat memperluas akses TOBA terhadap sumber pendanaan internasional sekaligus memperkuat kredibilitas perseroan di mata investor global.
“Ini juga memberi sinyal bahwa bisnis pengelolaan limbah yang dikembangkan perseroan mulai dipandang memiliki profil kredit menarik,” ujar Rizal.
Adapun TOBA akan menggunakan dana dari fasilitas pinjaman tersebut untuk melunasi sebagian pinjaman lama milik SBT Invest dan Taonga, sekaligus membiayai kebutuhan modal kerja serta belanja modal SBT Invest beserta anak usahanya.
Perseroan menyatakan langkah ini sebagai bagian dari strategi mengoptimalkan struktur pembiayaan, baik melalui penurunan biaya pendanaan, perpanjangan tenor, maupun peningkatan fleksibilitas dalam mengelola kewajiban keuangan.
Rizal mengatakan, struktur pembiayaan yang lebih efisien dinilai dapat memberi ruang bagi TOBA untuk mempercepat transformasi bisnis. Dalam beberapa tahun terakhir, TOBA secara bertahap mengurangi ketergantungan pada bisnis batu bara dengan memperbesar porsi usaha di sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan ekosistem kendaraan listrik.
Transformasi tersebut sejalan dengan komitmen TBS2030, yakni mengubah TOBA dari perusahaan berbasis batu bara menjadi perusahaan yang berfokus pada bisnis berkelanjutan dalam empat tahun mendatang. Strategi itu diwujudkan melalui ekspansi di sektor pengelolaan limbah, kendaraan listrik, dan energi terbarukan.
Pergeseran portofolio bisnis mulai tercermin pada kinerja keuangan perseroan. Pada kuartal I 2026, TOBA membukukan pendapatan sebesar US$ 86,3 juta, naik 20,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Segmen pengelolaan limbah menjadi penyumbang terbesar dengan pendapatan US$ 52 juta atau sekitar 60,2% dari total pendapatan.
Sementara itu, segmen kendaraan listrik menyumbang 3,7%. Rizal menilai perubahan komposisi pendapatan tersebut memperkuat daya tarik TOBA di mata investor maupun kreditur.
Di tengah meningkatnya fokus pasar terhadap dekarbonisasi, ekonomi sirkular, dan pembiayaan berkelanjutan, TOBA dinilai memiliki peluang untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu emiten yang identik dengan tema transisi energi di pasar modal Indonesia.
“Jika transformasi ini terus berjalan konsisten, TBS berpotensi memperoleh valuasi yang lebih baik karena pasar tidak lagi melihatnya semata sebagai emiten batu bara, tetapi sebagai platform bisnis berkelanjutan dengan eksposur pada waste management, renewable energy, dan EV ecosystem,” ujar Rizal.