Profil dan Rekam Jejak Bisnis Robert Budi Hartono, Pengendali Tunggal BCA (BBCA)
Robert Budi Hartono resmi menjadi pengendali tunggal PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA setelah saudaranya, Michael Bambang Hartono, meninggal dunia pada Maret lalu. Sebelumnya, pengendali BBCA adalah PT Dwimuria Investama Andalan (DIA) yang dimiliki bersama oleh dua bersaudara itu.
Corporate Secretary BBCA, Rudy Budiardjo mengatakan, perubahan pengendali di emiten raksasa perbankan swasta itu terjadi seiring tutup usianya Bambang Hartono pada Kamis (19/3). Setelah itu, Budi Hartono tetap menjadi pemegang 51% saham PT Dwimuria Investama Andalan tanpa ada perubahan komposisi jumlah sahamnya.
"Dengan demikian pemegang saham pengendali terakhir perseroan menjadi Bapak Robert Budi Hartono," tulis Rudy dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Senin (3/8).
Perubahan pengendali ini membuat Robert menjadi sosok yang memegang kendali atas bank swasta terbesar di Indonesia dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp 776,63 triliun.
Berdasarkan data Forbes Real Time Billionaires per Senin (3/8), kekayaan Robert mencapai US$ 15,7 miliar atau sekitar Rp 283,5 triliun (dengan kurs Rp 18.058 per dolar AS). Nilai tersebut meningkat sekitar US$ 2 miliar dibandingkan dengan catatan terakhir Katadata pada 27 Juli 2026. Sebagian besar kekayaannya berasal dari kepemilikan saham di BBCA.
Lantas, bagaimana profil dan rekam jejak Budi Hartono membangun bisnisnya?
Profil Robert Budi Hartono
Robert Budi Hartono memiliki nama lahir Oei Hwie Tjhong. Ia adalah putra kedua dari pendiri perusahaan rokok Djarum, Oei Wie Gwan. Dari sang ayah itulah, tonggak kerajaan bisnis keluarga Hartono dimulai.
Pada 1951, Oei Wie Gwan mengakuisisi perusahaan rokok kecil bernama Djarum Gramophon dan mengubah namanya menjadi Djarum. Setelah pabrik Djarum terbakar pada 1963 dan Oei meninggal dunia, dua bersaudara Budi dan Bambang kemudian mengambil alih kepemimpinan perusahaan.
Di bawah kepemimpinan dua bersaudara Hartono itu, Djarum berkembang pesat. Perusahaan mulai mengekspor produk rokok pada 1972, meluncurkan Djarum Filter pada 1975, dan memperkenalkan Djarum Super pada 1981. Kini, Djarum menjadi salah satu produsen rokok kretek terbesar di Indonesia.
Suksesnya industri rokok Djarum menjadi modal awal keluarga Hartono mengembangkan usahanya menjadi sebuah gurita bisnis raksasa. Keduanya kemudian melakukan diversifikasi usaha ke berbagai sektor.
Yang paling mencolok adalah ketika keluarga Hartono memulai langkah besar setelah krisis ekonomi Asia 1997–1998. Saat itu, keluarga Hartono mengakuisisi saham BCA setelah keluarga Salim kehilangan kendali atas bank tersebut.
Berdasarkan historinya, kepemilikan saham BCA telah berganti sebanyak tiga kali. Mulai dari Salim, yang kemudian beralih ke tangan negara, sebelum akhirnya digenggam Grup Djarum. Investasi di BCA kemudian menjadi sumber utama kekayaan keluarga hingga saat ini.
Selain BCA, Grup Djarum memiliki bisnis di berbagai sektor, mulai dari properti; konsumer PT Supra Boga Lestari Tbk (SUPR); perkebunan kelapa sawit; elektronik PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), hingga; teknologi digital yang mencakup PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR), dan PT Remala Abadi Tbk (DATA).
Baru-baru ini, Grup Djarum juga menjadi pengendali perusahaan yang baru saja melantai di BEI, PT Bach Multi Global Tbk (BACH), emiten yang bergerak di bisnis digital.
Di sektor properti, grup ini mengembangkan sejumlah aset premium termasuk Grand Indonesia di Jakarta. Di bidang elektronik, mereka memiliki Polytron yang selama lebih dari tiga dekade memproduksi berbagai perangkat elektronik rumah tangga. Pada 2025, Polytron memperluas bisnisnya ke industri kendaraan listrik dengan meluncurkan dua model mobil listrik.
Di sektor digital, keluarga Hartono melalui GDP Ventures membangun portofolio investasi teknologi, termasuk mengembangkan Blibli. Pada 2022, PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) yang merupakan perusahaan induk Blibli, melantai di BEI dalam salah satu IPO terbesar tahun itu dengan menghimpun dana sekitar US$ 510 juta.
Di luar dunia bisnis, Budi Hartono dikenal memiliki perhatian besar terhadap olahraga bulu tangkis. Berawal dari hobi, dia bersama keluarganya mendirikan PB Djarum pada 1969 yang kemudian melahirkan banyak atlet nasional, termasuk legenda bulu tangkis Liem Swie King.
Budi Hartono menikah dengan Widowati atau Giok Hartono dan memiliki tiga putra, yakni Victor Hartono, Martin Hartono, dan Armand Hartono. Ketiganya kini turut berperan dalam berbagai lini bisnis Grup Djarum.
Victor Hartono menjabat sebagai chief operating officer (COO) PT Djarum dan memimpin operasional inti pabrik rokok. Martin Hartono menjabat sebagai CEO GDP Venture (Global Digital Prima Venture), lengan investasi Grup Djarum yang fokus pada ekosistem internet, media digital, dan startup teknologi. Sementara Armand Hartono menjabat sebagai wakil presiden direktur BBCA.