Indosat (ISAT) Disebut Cari Pinjaman Investasi AI Rp 35 T, Bagaimana Prospeknya?

ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/tom.
Teknisi operator seluler Tri memanjat tower telekomunikasi untuk melakukan perawatan di site BTS Kompleks Kehakiman, Mataram, NTB, Rabu (22/10/2025).
5/8/2026, 17.47 WIB

PT Indosat Tbk (ISAT) disebut tengah mencari pinjaman sekitar US$ 2 miliar atau setara Rp 35,87 triliun. Berdasarkan laporan Bloomberg, tujuan operator seluler terbesar kedua di Indonesia itu untuk membeli chip artificial intelligence (AI) canggih demi mendukung operasinya di dalam negeri.

pada semester pertama 2026 Pinjaman tersebut dilakukan seiring dengan meningkatnya permintaan akan kecerdasan buatan di Asia. Sumber Bloomberg menyebut Citigroup Inc. ditetapkan  bertindak sebagai koordinator penataan pinjaman dan telah menghubungi sejumlah bank agar berpartisipasi dalam pembiayaan tersebut.

Penulis Katadata telah meminta konfirmasi ke tim komunikasi Indosat. Namun belum menjawab hingga berita ini ditayangkan. 

Bloomberg juga mengatakan bank-bank dan dana kredit swasta kini semakin agresif membiayai sektor kecerdasan buatan (AI). Tak hanya untuk pembangunan pusat data (data center), tetapi juga perangkat keras pendukung seperti chip AI. Pembiayaan di segmen tersebut dinilai menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi bagi para kreditur.

Meski begitu, pendanaan untuk sektor AI juga membawa tantangan tersendiri. Bloomberg mencatat pemberi pinjaman menghadapi risiko seiring perdebatan mengenai keberlanjutan investasi AI. Apalagi adanya ketidakpastian geopolitik akibat persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok dalam pengembangan teknologi AI.

Sejumlah transaksi pembiayaan juga tengah berlangsung di sektor ini. Operator pusat data asal Amerika Serikat, GMI Cloud, tengah berupaya pinjaman multi-tranche senilai NT$ 20,45 miliar atau sekitar US$ 633 juta untuk proyek fasilitas di Taiwan. 

Di sisi lain, Brookfield Asset Management bersama Tor Investment Management telah mengucurkan pinjaman sebesar US$255 juta kepada platform infrastruktur AI berbasis di Silicon Valley, PaleBlueDot AI.

Bagaimana Kinerja hingga Semester I 2026?

Apabila menilik kinerja hingga 30 Juni 2026, laba bersih PT Indosat Tbk (ISAT) merosot 14,65% secara tahunan atau year on year (yoy) dari Rp 2,73 triliun menjadi Rp 2,33 triliun selama Januari–Juni. 

Merujuk pada memo yang diterbitkan Indosat bersamaan dengan laporan keuangan, manajemen menyebut penurunan laba disebabkan oleh menurunnya pendapatan, dan kenaikan beban penyelenggaraan jasa, beban penyusutan dan amortisasi dan beban lain-lain bersih.  

“(Penurunan laba) dimbangi oleh penurunan beban karyawan, beban pemasaran, beban umum dan administrasi, serta kenaikan penghasilan (beban) operasional lain-lain,” kata manajemen Indosat dalam memo terlampir di laporan keuangan, dikutip Kamis (31/7).

Pendapatan emiten jaringan telekomunikasi juga itu turun 3,11% yoy dari Rp 27,97 triliun menjadi Rp 27,10 triliun selama semester pertama. Pendapatan ini terdiri dari: 

  • Bisnis penjualan selular: turun 3,6% menjadi Rp 22,74 triliun, karena penurunan pendapatan data, telepon dan SMS yang diimbangi kenaikan jasa nilai tambah dan jasa interkoneksi. 
  • Bisnis multimedia, komunikasi data dan internet (MIDI): turun 1,2% menjadi Rp 3,96 triliun, karena kenaikan layanan IT yang diimbangi oleh penurunan pendapatan konektivitas tetap dan dan internet tetap. 
  • Bisnis telekomunikasi: anjlok 13,2% menjadi Rp 398,28 miliar, karena penurunan pendapatan telepon internasional yang dimbangi oleh kenaikan telepon jaringan tetap.
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila