Jejak Anak Usaha Pertamina Tugu Insurance (TUGU) di Proyek Raksasa Blok Masela 

Youtube Sekretariat Presiden
Ilustrasi terminal LNG di Blok Masela.
7/8/2026, 10.12 WIB

PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) mencatatkan langkah baru dengan masuk ke proyek gas raksasa lapangan abadi Blok Masela. Emiten asuransi milik PT Pertamina itu memimpin bisnis asuransi untuk proyek hulu migas dengan nilai investasi mencapai  US$ 20,9 miliar atau setara Rp 355 triliun.

Direktur Teknik Tugu Insurance, Fadlil Iswahyudi mengatakan perusahaan menjadi pemimpin konsorsium asuransi yang dibentuk SKK Migas, juga di dalamnya ada sejumlah perusahaan asuransi yang terlibat.  Ia mengatakan, bergabungnya Tugu Insurance merupakan mandat untuk mengasuransikan proyek strategis nasional yang salah satunya digenggam PT Pertamina Hulu Energi (PHE).

“Tugas Tugu sebagai leader adalah mengoordinasikan seluruh anggota konsorsium, supaya semuanya bisa berjalan dengan baik," ujar Fadlil dalam Literasi Asuransi Energi Tugu Insurance di Jakarta, Kamis (6/8). 

Meski begitu, Fadlil mengaku proyek tersebut memiliki tingkat kompleksitas tinggi mengingat skalanya sangat besar. Tak hanya itu, ia menyebut Blok Masela berpotensi menjadi salah satu proyek offshore terbesar di dunia. 

Ia mengatakan besarnya skala proyek membuat nilai aset yang harus dilindungi juga sangat besar dan membutuhkan dukungan kapasitas asuransi global.

Menurut Fadlil, proyek Blok Masela memiliki nilai investasi lebih dari US$ 20 miliar hingga US$ 30 miliar atau sekitar Rp 340 triliun–Rp 510 triliun. Dengan nilai sebesar itu, kapasitas pasar asuransi offshore global yang hanya sekitar US$ 5 miliar–US$ 6 miliar atau Rp 85 triliun–Rp 102 triliun tidak cukup untuk menanggung seluruh risiko proyek. 

Alhasil, ia mengatakan perlindungan asuransi dilakukan melalui konsorsium yang menggabungkan kapasitas sejumlah perusahaan asuransi dan reasuransi dari berbagai negara. TUGU juga harus memastikan terms and conditions yang sesuai kebutuhan klien dengan premi yang kompetitif dan berkelanjutan.

"Jadi kapasitas dari berbagai perusahaan di seluruh dunia akan dikumpulkan untuk meng-cover proyek Masela," kata Fadlil. 

Adapun Blok Masela mengembangkan Lapangan Gas Abadi yang diperkirakan mampu memproduksi sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 juta kaki kubik gas untuk kebutuhan domestik setiap hari, serta menghasilkan kondensat hingga sekitar 35 ribu barel per hari. 

Proyek jumbo itu mengolah gas alam dari bawah laut hingga menjadi Liquefied Natural Gas (LNG) yang siap dipasarkan. Prosesnya dimulai dari sumur gas di dasar Laut Arafura yang terhubung ke fasilitas produksi terapung atau Floating Production, Storage and Offloading (FPSO) melalui jaringan pipa bawah laut.

Blok Masela diproyeksikan memberikan penerimaan langsung kepada negara sekitar US$37,8 miliar atau setara Rp 680,8 triliun. Selain itu, proyek ini juga diproyeksikan akan menyumbang kontribusi pajak tidak langsung sekitar US$6,43 miliar atau Rp 115,8 triliun selama masa konstruksi hingga operasi. 

Proyek ini juga diperkirakan memberikan dampak ekonomi yang luas. Kontribusi terhadap perekonomian nasional diproyeksikan mencapai US$137,8 miliar atau setara Rp 2.482 triliun, disertai peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Maluku sekitar US$95 miliar atau Rp 1.711 triliun dan PDRB Kabupaten Kepulauan Tanimbar sebesar US$92 miliar atau Rp 1.657 triliun.

Pasar Asuransi Energi RI Tumbuh Dua Digit

Prospek bisnis asuransi energi di Indonesia juga menunjukkan tren pertumbuhan yang kuat. Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), premi asuransi energi offshore mencapai Rp 1,18 triliun hingga kuartal ketiga 2025, tumbuh 18% secara tahunan atau year on year (yoy). Sementara itu, premi asuransi energi onshore tercatat sebesar Rp 225 miliar atau meningkat 18,4% yoy.

Laju pertumbuhan tersebut jauh melampaui pertumbuhan industri asuransi umum secara keseluruhan yang hanya sebesar 4,8% pada periode yang sama. Pertumbuhan itu didorong meningkatnya nilai proyek di sektor energi, berlanjutnya investasi pada proyek hulu migas dan infrastruktur energi, hingga membaiknya disiplin underwriting di industri. 

Di sisi lain, percepatan transisi energi juga membuka peluang bisnis baru bagi perusahaan asuransi. Seiring munculnya berbagai proyek energi baru dan terbarukan yang membutuhkan perlindungan terhadap risiko operasional dan investasi.

Berdasarkan data SKK Migas dan Kementerian ESDM, lifting minyak nasional pada 2025 mencapai 605,3 ribu barel per hari (bph) atau 100,05% dari target APBN. Torehan ini menjadi yang pertama kali dalam sekitar sembilan tahun tren produksi minyak kembali meningkat.

Di samping itu lifting gas pada semester pertama 2025 tercatat sebesar 5.530 MMSCFD atau sekitar 97,4% dari target APBN. Pemerintah pun memperluas wilayah kerja migas menjadi 110 blok pada 2026, naik dari 75 blok pada tahun sebelumnya, sebagai upaya menarik investasi dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Sejalan dengan itu, pemerintah menargetkan investasi hulu migas mencapai US$ 16 miliar pada 2026. Investasi tersebut diharapkan mampu mendukung target lifting minyak sebesar 610 ribu barel per hari sekaligus mempercepat pengembangan berbagai proyek migas strategis.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila