Wall Street Melonjak usai Harga Minyak Turun, Investor Soroti Data Inflasi

Antara
Ilustrasi - Bursa Wall Street. ANTARA/Reuters/Mike Segar
14/8/2026, 06.13 WIB

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) ditutup melonjak pada perdagangan saham Kamis (13/8) seiring turunnya harga minyak dan investor menyoroti data inflasi AS terbaru. 

S&P 500 naik 0,65% dan menembus angka 7.800 untuk pertama kalinya sepanjang sejarah dan mencatatkan rekor penutupan di level 7.798,99. Nasdaq Composite tumbuh 0,81% dan ditutup di 26.803,03, didorong oleh kenaikan saham Meta Platforms, Micron Technology, dan Netflix. Dow Jones Industrial Average naik tipis 0,13%, atau 69,72 poin, menjadi 53.839,99.

Di samping itu harga minyak mentah dunia melemah lebih dari 2% pada perdagangan Kamis. Kontrak berjangka Brent ditutup di level US$ 87,07 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berakhir di US$ 81,25 per barel. Hal itu seiring pelaku pasar memperhitungkan potensi penurunan permintaan minyak di tengah konflik AS-Iran yang masih berlangsung.

Di sisi lain, perhatian Wall Street tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat. Indeks Harga Produsen (PPI) AS untuk Juli tidak berubah secara bulanan, berbanding dengan ekspektasi ekonom yang memperkirakan kenaikan 0,2%. Sementara itu, PPI inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi meningkat 0,2%, lebih rendah dari proyeksi 0,3%.

Data tersebut memperkuat sentimen positif setelah sehari sebelumnya AS merilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Juli yang sesuai dengan perkiraan. CPI tercatat naik 0,1% secara bulanan.

Angka tersebut mendorong S&P 500 menguat dan mengakhiri penurunan dalam dua sesi sebelumnya. Bahkan membuat pelaku pasar memangkas ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada September.

Kepala Riset Pasar Modal U.S. Bank Asset Management, Bill Merz, menilai kondisi inflasi saat ini belum cukup kuat untuk mengganggu reli pasar saham yang masih ditopang kinerja laba perusahaan. 

Namun, pasar masih menghadapi ketidakpastian terkait bagaimana The Fed di bawah Ketua Kevin Warsh akan membaca data inflasi tersebut dan menentukan langkah kebijakan selanjutnya. 

“Namun untuk saat ini, adanya moderasi bertahap pada angka CPI dan PPI merupakan hal yang konstruktif,” ucap Merz, dikutip Jumat (14/8). 

Cisco Systems menjadi salah satu emiten dengan kinerja terburuk hari ini, anjlok lebih dari 8% setelah laporan kuartalan terbaru perusahaan gagal memuaskan investor. Cerebras dan Coherent juga babak belur usai merilis laporan laba rugi terbaru, dengan anjlok hampir 12% dan 8%.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila