Himbara Kebagian Banyak Tugas Pemerintah, Likuiditas dan Laba Jadi Sorotan
Himpunan Bank Milik Negara atau Himbara terus terlibat dalam berbagai proyek pemerintah. Keterlibatan mereka pun dipastikan bakal menyedot dana jumbo dari lembaga keuangan pelat merah tersebut.
Mulai dari membantu restrukturisasi BUMN karya yang tengah bermasalah hingga menjadi sumber pembiayaan awal Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), dengan plafon pinjaman hingga Rp 3 miliar untuk setiap koperasi. Tak hanya itu, pemerintah juga meminta Himbara untuk menggenjot penyaluran kredit kendaraan bermotor listrik.
Atas kondisi tersebut, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nurkholis Syafruddin, cenderung selektif dalam melihat prospek Himbara. Sebab, terdapat sejumlah faktor yang perlu menjadi perhatian, salah satunya terkait dengan likuiditas perbankan.
“Karena likuiditas perbankan terutama di bank-bank BUMN itu memang masih relatif agak sedikit ketat dibandingkan misalkan BCA gitu ya,” kata Nurkholis di Jakarta, dikutip Selasa (1/9).
Selain persoalan likuiditas, Nurkholis menilai restrukturisasi sejumlah BUMN infrastruktur juga perlu menjadi perhatian. Sejumlah langkah restrukturisasi yang telah berjalan berpotensi menekan profitabilitas bank-bank BUMN, terutama melalui kenaikan cost of credit.
Ia memperkirakan cost of credit Himbara berpotensi sedikit meningkat dibandingkan level pada kuartal pertama maupun semester pertama 2026.
Untuk jangka panjang, menurut dia, dampaknya akan bergantung pada eksekusi restrukturisasi dan perlakuan terhadap kualitas aset. Alhasil, Mirae Asset masih mengambil sikap wait and see dan selektif terhadap saham bank-bank BUMN.
Di antara bank BUMN, Mirae Asset cenderung lebih menyukai PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS). Nurkholis menilai eksposur BSI terhadap program pemerintah relatif lebih kecil dibandingkan bank-bank BUMN lainnya. Selain itu, BSI masih memiliki ruang pertumbuhan dari segmen konsumer seiring penetrasi pembiayaan syariah yang masih relatif rendah.
“Dan yang kedua juga dari sisi pinjaman emas yang berpotensi juga bisa dibilang secara ekonomi jauh lebih valuable dibandingkan produk-produk pinjaman consumer lainnya, seperti misalnya automotif,” ucapnya.
Adu Laba BUMN Himbara
Empat bank Himbara membukukan total laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk secara konsolidasian sebesar Rp 74,43 triliun sepanjang semester pertama 2026. Jumlah itu naik 19,06% dibandingkan laba bersih perseroan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, seluruh bank pelat merah ini membukukan pertumbuhan kinerja keuangan, khususnya laba dan kredit.
Berdasarkan laporan kinerja keuangan masing-masing bank, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencetak laba paling tinggi yaitu Rp 30,87 triliun. Posisi berikutnya disusul PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan laba sebesar Rp 30,41 triliun, lalu PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar Rp 10,75 triliun, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) senilai Rp 2,4 triliun.
| No. | Emiten | Laba hingga Kuartal III 2025 | Keterangan |
| 1. | PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) | Rp 40,77 triliun | Turun 9,5% |
| 2. | PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) | Rp 37,7 triliun | Turun 10,23% |
| 3. | PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) | Rp 15,11 triliun | Turun 7,3% |
| 4. | PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) | Rp 2,3 triliun | Naik 10,6% YoY |
| 5. | PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) | Rp 5,57 triliun | Naik 9,04% YoY |
(Sumber: laporan kinerja keuangan hingga kuartal III 2025 masing-masing emiten)