Jejak Kreditur Senyap Grup Bakrie (DEWA) di Balik Proyek Tambang Gayo Mineral
Emiten Grup Bakrie PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mendapatkan pendanaan kredit dari PT Seraya Laju Karya maksimum Rp 455 miliar. Kucuran dana akan digunakan untuk membiayai proyek tambang emas entitas usahanya, PT Gayo Mineral Resources di Aceh.
Kredit jumbo itu dikucurkan pada 24 November 2025, tiga hari setelah mengalihkan saham PT Gayo Mineral Resources (GMR) melalui PT Mahadaya Imajinasi Nusantara (MIN). Menariknya, diberikan tanpa bunga dan akan jatuh tempo pada 31 Desember 2028.
“PT Gayo Mineral Resources memperoleh fasilitas pendanaan tanpa bunga dari PT Seraya Laju Karya untuk pembiayaan kegiatan pertambangan dengan batas maksimum sebesar Rp 455 miliar,” demikian tertulis dalam laporannya, dikutip Jumat (4/9).
Selain itu, berdasarkan dokumen Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU), PT Seraya Laju Karya baru didirikan pada 7 November 2025 atau sekitar dua pekan sebelum memberikan pinjaman kepada PT Gayo Mineral Resources.
Seraya Laju Karya dipimpin oleh Damianus Kerowe Hera sebagai direktur dan Muhammad Thibian Arrafi sebagai komisaris. Gayo Mineral Resources diketahui saat ini mengantongi izin eksplorasi emas yang berlaku sejak 3 Juli 2017 hingga 8 Maret 2025.
Mencakup area konsesi seluas 34.550 hektare di Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Perseroan telah melakukan pengeboran di sejumlah titik prioritas, salah satunya di kawasan Tengkereng Atas.
Berdasarkan hasil eksplorasi tersebut, DEWA telah melakukan penilaian aset oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP). Nilai bruto (gross valuation) GMR diperkirakan mencapai sekitar Rp 7 triliun. Setelah dikurangi biaya akuisisi, liabilitas, dan penyesuaian aset lainnya, perseroan membukukan negative goodwill sekitar Rp 4,5 triliun.
Direktur sekaligus Corporate Secretary DEWA, Mukson Arif Rosyidi, juga pernah menyampaikan bahwa pengembangan GMR menuju tahap komersial membutuhkan investasi yang besar sehingga perseroan mempertimbangkan berbagai sumber pendanaan eksternal.
Kendati demikian, ia menegaskan GMR masih berada pada tahap eksplorasi. Rencana pengembangan menuju produksi komersial masih menjadi strategi jangka panjang yang terus dikaji, termasuk terkait besaran investasi dan sumber pendanaannya.
Cari Dana Lewat IPO
Di samping itu Direktur DEWA Ricardo Silaen sebelumnya mengatakan GMR saat ini masih masih pada tahap penyelesaian eksplorasi. Setelah proses tersebut rampung, perseroan akan mulai mencari pendanaan untuk mendukung pengembangan proyek.
Meski IPO menjadi salah satu opsi, Ricardo menyatakan hingga kini belum ada jadwal pasti pelaksanaannya. "Untuk IPO belum ada timeline yang fixed," kata Ricardo kepada Katadata.co.id, Kamis (6/8).
GMR merupakan anak usaha DEWA yang 99,75% sahamnya dimiliki langsung oleh perseroan. Saat ini, perusahaan tersebut belum memasuki tahap operasi komersial.
Ricardo menyampaikan DEWA tengah menyiapkan pengembangan GMR sebagai proyek jangka menengah hingga panjang. Menurut dia, kebutuhan pendanaan untuk ekspansi dan monetisasi aset membuat IPO menjadi salah satu alternatif yang jadi pertimbangan.
"Salah satu metode untuk mengembangkan perusahaan adalah melalui funding. Untuk monetisasi, tentu saja IPO menjadi salah satu opsi yang sedang kami pertimbangkan," ujar Ricardo dalam siaran YouTube Samuel Sekuritas bertajuk Prospek DEWA hingga IPO Anak Usaha, dikutip pada Jumat (10/4).