IHSG Rawan Terkoreksi, Saham BBCA, TPIA, MDKA dan TLKM Jadi Rekomendasi Analis
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diramal terkoreksi pada perdagangan saham awal pekan ini, Senin (21/9). Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan IHSG pada timeframe mingguan turun 1,53% dan masih didominasi tekanan jual dengan volume yang mengecil.
Menurut Herditya dalam skenario terburuk, IHSG masih berada pada fase wave iv dari wave (c) pada label hitam. Kondisi tersebut membuat IHSG masih berisiko menguji kembali level 6.290–6.370.
“Namun, selama IHSG masih mampu berada di atas 6.370 maka masih terdapat peluang IHSG menguat ke rentang 6.541–6.581,” tulis Herditya dalam risetnya, Senin (10/8).
MNC Sekuritas menargetkan area support IHSG berada di kisaran 6.279–6.201. Sementara itu level resistance diperkirakan berada pada rentang 6.585–6.633.
Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.
Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.
MNC Sekuritas merekomendasikan trading buy untuk saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) akumulasi beli di rentang Rp 6.100–Rp 6.275 dengan target harga di Rp 6.475–Rp 6.575, sementara level stoploss di bawah Rp 6.050.
Kemudian PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp 2.440–Rp 2.520 dengan target harga di Rp 2.620–Rp 2.720, dan stoploss di bawah Rp 2.420.
Sentimen IHSG
Phintraco Sekuritas mencatat indeks-indeks Wall Street bergerak mixed pada perdagangan Jumat (18/9). Indeks Dow Jones tertekan kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun lebih dari 5 basis poin menjadi 5,006%.
Yield US Treasury kembali menguat seiring ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed yang masih hawkish hingga tahun depan.
Di Asia, Bank of Japan menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 1,25% pada 18 September. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak April 1995.
Sementara itu, harga minyak melanjutkan pelemahan. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 1,6% menjadi US$100 per barel, sedangkan minyak Brent melemah 0,9% ke US$103 per barel.
Sebaliknya, harga emas di pasar spot menguat 0,3% menjadi US$4.352 per troy ounce. Kenaikan harga emas terdorong oleh koreksi harga minyak, meski penguatan dolar AS membatasi pergerakannya.
“Sementara itu Presiden Trump mengumumkan kesepakatan dengan Greenland dan Denmark untuk memperluas kehadiran militer AS di Greenland namun tidak mengambil alih wilayah itu (18/9),” tulis Phintraco Sekuritas dalam analisisnya, Senin (21/9).
Phintraco Sekuritas memperkirakan konflik di Timur Tengah masih berpotensi memengaruhi pergerakan bursa saham global, terutama melalui harga minyak, ekspektasi inflasi, dan arah suku bunga. Investor juga akan mencermati pernyataan sejumlah pejabat The Fed terkait prospek kebijakan moneter selanjutnya.
Selain itu, pasar akan menyoroti pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di Amerika Serikat pada 23–25 September 2026.
Di dalam negeri, IHSG ditutup melemah 0,33% ke level 6.441,16 pada perdagangan Jumat (18/9). Investor selanjutnya menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 23 September 2026.
Phintraco memperkirakan Bank Indonesia masih mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Pada hari yang sama, pasar juga akan mencermati data pertumbuhan kredit Agustus 2026 yang diperkirakan mencapai 15% secara tahunan atau year on year (YoY), meningkat dari 13,58% YoY pada Juli 2026.
“Jika IHSG breakdown 6.400, berpotensi menguji level 6.300–6.350,” tulis Phintraco.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).