Investor Asing Ramai Lepas Saham Bank Jumbo BMRI, BBCA, dan BBRI, Apa Pemicunya?

Katadata/Fauza Syahputra
Layar digital yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2026). IHSG kembali ditutup melemah dengan nilai koreksi mencapai 4,52% ke level 5.342 Sebanyak 78 saham menguat, 661 saham terkoreksi, dan 78 saham stagnan.
Penulis: Karunia Putri
22/9/2026, 17.27 WIB

Saham-saham bank jumbo (big banks) menjadi sasaran aksi jual investor asing dalam dua hari perdagangan terakhir. Aksi jual terjadi di saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).

Tekanan jual terjadi seiring dengan penurunan harga saham keempat bank jumbo pada perdagangan hari ini, Selasa (22/9). BBRI mencatat penurunan terdalam, yakni 3,64% ke level Rp 3.180 per saham. Selanjutnya, BBNI turun 1,38% menjadi Rp 3.570, BMRI terkoreksi 0,95% menjadi Rp 4.160, sedangkan BBCA turun 0,4% ke level Rp 6.200.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, tekanan terhadap saham bank jumbo pada perdagangan Selasa cukup jelas. Menurut dia, salah satu faktor utama yang menekan saham perbankan adalah aksi jual investor asing.

"Tetapi menurut saya pemicunya bukan karena ada masalah fundamental baru yang tiba-tiba muncul di perbankan," kata Nafan kepada Katadata, Selasa (22/9).

Menurut Nafan, hingga sesi pertama perdagangan, investor asing mencatat net sell sekitar Rp 351,12 miliar. Saham yang paling banyak dilepas asing adalah BBRI sekitar Rp 129,6 miliar, diikuti BMRI Rp 52,1 miliar dan BBCA Rp 42 miliar. Pada saat yang sama, IHSG sempat turun 1,42% ke level 6.293.

Nafan menjelaskan terdapat beberapa faktor yang mendorong aksi jual tersebut. Pertama, investor asing tengah melakukan risk-off terhadap aset Indonesia. Rupiah melemah sekitar 0,22% ke level Rp 17.887 per dolar AS, sedangkan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun masih berada di kisaran 7,1%.

Hal itulah yang membuat investor global cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko domestik, termasuk saham bank berkapitalisasi besar yang memiliki likuiditas tinggi dan relatif mudah menjadi sumber likuiditas.

Kedua, pasar tengah menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 22–23 September. Aksi jual tersebut juga dapat mencerminkan sikap wait and see investor terhadap arah kebijakan BI, terutama terkait suku bunga acuan, stabilitas rupiah, serta respons bank sentral terhadap tingginya yield global. Ekspektasi pasar saat ini mengarah pada BI Rate yang dipertahankan di level 5,75%, sembari BI melanjutkan langkah stabilisasi rupiah.

Faktor ketiga adalah tekanan terhadap saham bank jumbo sebenarnya telah berlangsung sejak pekan lalu dan bukan hanya terjadi pada perdagangan Selasa. Pada periode 14–18 September, investor asing mencatat net sell besar pada BMRI dan BBCA. 

Nafan mengatakan besarnya bobot dan likuiditas saham bank jumbo membuat sektor tersebut kerap menjadi sasaran ketika investor asing mengurangi risiko secara keseluruhan.

"Big banks menjadi sasaran jual karena bobot dan likuiditasnya besar, bukan otomatis berarti asing sedang mengubah pandangan fundamental terhadap sektor perbankan Indonesia," ujarnya.

Menurut dia, tekanan terhadap saham bank jumbo saat ini lebih mencerminkan kombinasi foreign outflow, penguatan dolar AS yang menekan rupiah, kenaikan yield obligasi, serta sikap wait and see menjelang RDG BI.

"Untuk sementara, saya melihat tekanan hari ini lebih banyak merupakan kombinasi foreign outflow, penguatan dolar atau rupiah yang tertekan, kenaikan yield obligasi, dan wait and see RDG BI, ketimbang adanya perubahan fundamental mendadak pada kinerja bank," kata Nafan.

Nafan menambahkan, investor perlu mencermati pergerakan foreign sell setelah keputusan BI. Jika aksi jual asing mulai mereda dan aliran dana kembali masuk ke saham bank jumbo, tekanan pada perdagangan hari ini dpat mencerminkan aksi profit taking atau risk-off sementara.

Sebaliknya, apabila net sell berlanjut selama beberapa hari dan disertai pelemahan rupiah serta kenaikan yield SBN, tekanan terhadap saham bank jumbo perlu dicermati lebih lanjut.

Selain keputusan BI, kenaikan suku bunga bank sentral global juga menjadi sentimen yang memengaruhi pergerakan aset emerging market. Kenaikan suku bunga The Fed dan Bank of Japan (BOJ) masing-masing sebesar 25 basis poin meningkatkan tekanan risk-off dan mendorong investor asing mengurangi eksposur pada aset pasar berkembang.

Dengan demikian, keputusan RDG BI pada 22–23 September menjadi katalis berikutnya yang akan dicermati pasar, teerutama terkait keputusan BI Rate di tengah tekanan terhadap rupiah, tingginya yield SBN dan arus keluar dana asing.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri