Bayang-Bayang Risiko Intai BYAN di Tengah Rencana Akuisisi Haji Isam
Ambisi Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam menjadi pengendali emiten batu bara PT Bayan Resources Tbk (BYAN) kini semakin kentara. Crazy rich asal Kalimantan Selatan itu telah mengemukakan rencana akuisisi 30% saham BYAN lewat PT Jhonlin Baratama.
Beberapa hari kemudian, beredar kabar Haji Isam bakal membeli lagi 32% saham BYAN. Di tengah kabar tersebut, Direktur BYAN Alastair Gordon Christopher McLeod menjual 709.500 sahamnya di emiten itu dalam dua hari berturut-turut dengan rentang harga Rp 13.000-an. Nilai transaksi penjualan saham tersebut mencapai Rp 9,48 miliar.
Masuknya Haji Isam ke dalam struktur kepemilikan BYAN berpotensi membawa perubahan terhadap arah bisnis sekaligus persepsi pasar terhadap emiten batu bara tersebut.
Pada perdagangan Kamis (24/9) ini, kapitalisasi pasar BYAN mencapai Rp 400,83 triliun. Sementara itu, porsi saham publik atau free float perusahaan tambang batu bara itu tercatat sebesar 21,29%. Harga saham BYAN turun 2,03% ke level Rp 12.050 pada penutupan sesi pertama perdagangan hari ini.
Analis Pasar Modal dan Komoditas, Wahyu Laksono mengatakan, masuknya Jhonlin Baratama sebagai pemegang saham BYAN membawa dampak terhadap operasional dan tata kelola perseroan.
Menurut Wahyu, dari sisi operasional dan regulasi, kehadiran pemain domestik dengan jaringan bisnis yang kuat berpotensi mengurangi sejumlah hambatan yang selama ini dihadapi perusahaan.
“Masuknya Jhonlin Group langsung memberikan jaminan pengamanan jalur logistik darat/sungai di Kalimantan, kuota RKAB dan relasi institusional yang selama ini menjadi keunggulan jaringan bisnis Jhonlin,” kata Wahyu kepada Katadata, Rabu (23/9).
Wahyu menilai hal tersebut relevan mengingat BYAN sebelumnya sempat menghadapi persoalan terkait persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Bahkan, tiga anak usaha BYAN sempat mendeklarasikan force majeure akibat kendala tersebut.
Menurut dia, kondisi itu menunjukkan bahwa perusahaan batu bara masih rentan terhadap perubahan kebijakan dan proses birokrasi domestik. Dengan masuknya Jhonlin Group, risiko terkait kelancaran logistik, kuota produksi dan hubungan institusional dinilai dapat lebih terkelola.
Dengan kapasitas produksi BYAN yang mencapai puluhan juta ton per tahun, kelancaran RKAB menjadi faktor penting untuk menjaga volume produksi dan penjualan perseroan.
Namun, di sisi lain, Wahyu menilai investor minoritas perlu mencermati aspek tata kelola serta potensi transaksi dengan pihak terafiliasi. Menurutnya, konsolidasi bisnis di bawah Jhonlin Group berpotensi meningkatkan transaksi pihak berelasi atau related-party transactions. Bentuknya dapat mencakup integrasi kontraktor tambang, penyewaan armada tongkang dan tugboat hingga pemanfaatan fasilitas pelabuhan batu bara internal.
Transaksi tersebut berpotensi mengubah struktur biaya perseroan, termasuk beban pokok pendapatan atau cost of goods sold (COGS). “Selama ini BYAN dikenal memiliki struktur efisiensi kas dan operasional mandiri terbaik di industri; pergantian pengendali berisiko mengubah efisiensi margin tersebut,” ujar Wahyu.
Membaca Sinyal di Balik Aksi Jual Saham Direksi BYAN
Di tengah isu perubahan pengendali, aksi penjualan saham oleh direksi BYAN juga menjadi perhatian pasar. Wahyu menilai penjualan saham oleh direktur BYAN di kisaran Rp 13.000-an dapat dibaca sebagai sinyal bahwa level harga tersebut menjadi area penting bagi investor untuk dicermati.
Namun, aksi penjualan saham oleh orang dalam tidak serta-merta menunjukkan bahwa harga saham BYAN telah mencapai nilai optimal. Menurut Wahyu, aksi tersebut dapat berkaitan dengan keputusan individu untuk merealisasikan keuntungan setelah harga saham mengalami kenaikan akibat sentimen akuisisi.
Di sisi lain, transaksi tersebut juga terjadi ketika pasar masih menunggu kejelasan mengenai harga transaksi akuisisi dan struktur kepemilikan baru BYAN.
Menakar Kinerja BYAN setelah Berada di Tangan Haji Isam
Dari sisi fundamental, BYAN membukukan pendapatan trailing twelve months (TTM) sebesar Rp 59,71 triliun dengan laba bersih Rp 13,96 triliun. Wahyu menilai normalisasi harga batu bara termal global ke kisaran US$ 120-US$ 140 per ton membuat lonjakan laba seperti yang terjadi pada 2022 sulit kembali terulang.
Karena itu, pertumbuhan laba BYAN ke depan akan lebih bergantung pada volume produksi dan penjualan. Penyelesaian persoalan RKAB menjadi salah satu faktor penting untuk mempertahankan volume penjualan di atas 50 juta-60 juta ton.
Dari sisi neraca, posisi keuangan BYAN masih kuat. Kas perseroan pada kuartal terakhir mencapai Rp 16,71 triliun dan tidak memiliki utang finansial berbunga.
Namun, kebijakan dividen juga perlu diperhatikan. Rasio pembayaran dividen BYAN sebelumnya berada di atas 100%, yakni sekitar 109%-121%.
Wahyu menilai rasio tersebut berpotensi berubah apabila manajemen baru mengalokasikan arus kas bebas untuk ekspansi belanja modal atau capex, khususnya pembangunan infrastruktur tambang yang terintegrasi.
Sementara itu, proyeksi laba per saham atau earnings per share (EPS) tahunan BYAN berada di kisaran Rp 420-Rp 450 per saham.
Valuasi BYAN Masih Premium
Di harga Rp 12.300, Wahyu menghitung saham BYAN diperdagangkan pada price to earnings ratio (PER) TTM sekitar 29,37 kali dan price to book value (PBV) 9,23 kali. Angka itu berada jauh di atas rata-rata emiten batu bara yang berada pada kisaran PER 5-7 kali dan PBV 1,2-1,8 kali.
Menurut Wahyu, tingginya premi valuasi tersebut menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan investor, terutama apabila terjadi perubahan persepsi pasar setelah pergantian pengendali.
Dari sisi teknikal, saham BYAN saat ini berada dalam fase konsolidasi setelah sempat melonjak hingga sekitar Rp 18.000 akibat euforia rumor akuisisi.
Harga saham BYAN kini berada di bawah moving average (MA) 100 hari di sekitar Rp 12.927 dan MA 200 hari di sekitar Rp13.464. Sementara itu, indikator relative strength index (RSI) berada di level 46,7 atau dalam zona netral.
Area MA50 di sekitar Rp 11.946 menjadi salah satu support dinamis terdekat. Sementara itu, area Rp 10.000-Rp 10.500 menjadi level psikologis yang perlu diperhatikan.
Wahyu melihat area Rp 12.900-Rp 13.500 sebagai zona resistensi yang cukup kuat. Jika harga kembali menguat, area tersebut berpotensi menjadi tempat bertemunya tekanan jual dari investor yang sebelumnya membeli saham pada harga lebih tinggi.
Risiko Derating Mengintai
Lebih lanjut, menurut Wahyu, kenaikan saham BYAN hingga Rp18.000 sebelumnya lebih banyak dipicu euforia atas rumor akuisisi dibandingkan perubahan fundamental baru pada perseroan. Setelah sentimen tersebut mereda, harga saham kembali terkoreksi dan kini berada di bawah sejumlah level rata-rata pergerakan penting.
Selain faktor teknikal, risiko lain yang perlu diperhatikan adalah potensi penurunan valuasi atau derating. Pada harga Rp 12.300, valuasi BYAN masih berada pada PER TTM 29,37 kali dan PBV 9,23 kali. Premi tersebut jauh di atas rata-rata emiten batu bara nasional.
Wahyu menilai perubahan struktur kepemilikan dan harga transaksi pengendali baru dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap valuasi BYAN.
Jika harga transaksi dalam negosiasi pengambilalihan berada jauh di bawah harga pasar reguler, terdapat risiko pasar menyesuaikan kembali valuasi saham BYAN.
Dengan mempertimbangkan kondisi itu, Wahyu menyarankan investor mencermati perkembangan transaksi dan struktur kepemilikan baru sebelum mengambil keputusan.
Ia melihat area Rp 13.400-Rp 13.800 sebagai resistensi yang perlu diperhatikan. Sementara itu, area Rp 9.800-Rp 10.200 menjadi salah satu level support jangka menengah.
Adapun berdasarkan pendekatan valuasi dengan menggunakan rata-rata emiten sejenis, nilai fundamental BYAN menurut Wahyu berada di kisaran Rp 6.000-Rp 7.500 per saham.