Saham Hary Tanoe Meredup, 5 Emiten dari BHIT hingga KPIG Bertahan di Level Gocap
Saham-saham yang terafiliasi dengan pengusaha Hary Tanoesoedibjo masih menghadapi tekanan di Bursa Efek Indonesia. Sejumlah emiten Grup MNC bahkan berada di level harga Rp 50 ke bawah.
Dari 10 emiten yang masuk dalam daftar saham terkait kelompok usaha Hary Tanoesoedibjo, lima di antaranya berada di rentang Rp21 hingga Rp50 per saham. Kelima emiten tersebut yakni PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP), PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP), PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT), PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG), dan PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV).
Tekanan juga terlihat dari kinerja saham secara year to date (ytd). Saham KPIG menjadi yang terkoreksi paling dalam, yakni 66,22%, disusul IPTV yang turun 55,56% dan PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) yang melemah 52,38%.
Di tengah tekanan saham tersebut, Grup MNC juga melakukan sejumlah perubahan pada portofolio bisnisnya. Salah satunya adalah pelepasan iNews Group oleh PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN).
MNCN melepas iNews Group kepada PT Republik Media Anak Bangsa (RMAB), entitas Republikorp Group milik pengusaha Norman Joesoef.
"PT Republik Media Anak Bangsa (RMAB) adalah entitas Grup yang menaungi kegiatan usaha di bidang media dan menjadi pihak pengakuisisi dalam transaksi," tulis manajemen MNCN dalam penjelasan resmi yang dikutip Kamis (17/9).
BMTR Terbitkan Obligasi dan BHIT Lepas IATA
Di sisi pendanaan, PT Global Mediacom Tbk (BMTR) kembali menerbitkan surat utang. BMTR menerbitkan Obligasi Berkelanjutan V Global Mediacom Tahap II Tahun 2026 dengan jumlah pokok Rp 500 miliar. Selain itu, perseroan menerbitkan Sukuk Ijarah Berkelanjutan V Global Mediacom Tahap II Tahun 2026 dengan sisa imbalan ijarah Rp 300 miliar.
Penerbitan tersebut melanjutkan aksi serupa pada tahap I tahun 2025. Saat itu, BMTR menerbitkan obligasi dengan jumlah pokok Rp 1,75 triliun dan sukuk ijarah dengan total sisa imbalan ijarah Rp 1,25 triliun.
Dana hasil penerbitan surat utang tersebut digunakan untuk pelunasan utang dan modal kerja perusahaan. Perubahan portofolio Grup MNC juga terjadi di sektor energi dan pertambangan.
PT Karya Pacific Investama (KPI) resmi menjadi pengendali baru PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) setelah menuntaskan rangkaian proses tender sukarela dan divestasi bertahap dari Grup MNC melalui PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT).
Berdasarkan data Lotus Andalan Sekuritas, BHIT melepas 658,52 juta saham IATA dalam tujuh kali transaksi pada 29 Mei hingga 16 Juli 2026. Saham tersebut dijual pada kisaran Rp 59-Rp 65 per saham. Dari rangkaian transaksi itu, BHIT mengantongi dana sekitar Rp 39,88 miliar.
Pada 14, 15, dan 16 Juli 2026, BHIT menjual 308,23 juta saham IATA dengan harga Rp59 per saham senilai Rp 18,18 miliar. Sementara itu, pada 29 Mei, 3, 10, dan 13 Juli 2026, BHIT melepas 350,3 juta saham dengan harga rata-rata Rp 62 per saham senilai Rp21,7 miliar.
Setelah transaksi tersebut, kepemilikan BHIT di IATA turun menjadi 6,83% atau sekitar 2,13 miliar saham, dari sebelumnya 8,93% atau sekitar 2,79 miliar saham. Setelah keluar dari Grup MNC, IATA berganti nama menjadi Karya Pacific Energy.
CMNP Gugat Hary Tanoe dan BHIT
Di tengah perubahan portofolio bisnis, persoalan hukum juga menjadi perhatian terhadap Hary Tanoesoedibjo dan BHIT.
Emiten milik pengusaha jalan tol Jusuf Hamka alias Babah Alun, PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP), memenangkan gugatan terhadap BHIT.
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) menghukum Hary Tanoesoedibjo selaku pendiri dan pemilik BHIT untuk membayar ganti rugi kepada CMNP sebesar Rp531 miliar, ditambah bunga 6% per tahun.
Putusan tersebut mengakhiri sengketa yang telah bergulir cukup lama.
"Alhamdulillah, kebenaran telah menemukan jalannya sendiri. Selama ini kami dibilang halusinasi, tapi putusan ini membuktikan fakta yang sebenarnya," kata Jusuf Hamka di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (23/4).
Perkara tersebut bermula dari gugatan CMNP terhadap Hary Tanoe yang dianggap melakukan perbuatan melawan hukum dalam transaksi surat berharga yang dimiliki CMNP dan PT Bank Unibank Tbk. Dalam transaksi tersebut, Hary Tanoe berposisi sebagai perantara antara kedua pihak.
Kakak Hary Tanoe Diperiksa KPK
Perhatian terhadap keluarga Hary Tanoesoedibjo juga muncul dari pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bambang Rudijanto Tanoesoedibjo (BRT) alias Rudy Tanoe, kakak Hary Tanoesoedibjo, diperiksa KPK pada Selasa (11/8).
Pemeriksaan Rudy Tanoe berkaitan dengan kasus dugaan korupsi penyaluran bantuan sosial (bansos) beras yang menyeret sejumlah pihak di lingkungan Kementerian Sosial dan PT Dosni Roha Logistik.
Dalam perkara tersebut, KPK telah menetapkan tiga orang dan dua korporasi sebagai tersangka. Namun, hingga kini KPK belum mengungkap secara resmi identitas seluruh tersangka.
| No | Nama Emiten | Harga Terakhir Per Penutupan 25 September 2026 (Rp) | Kapitalisasi Pasar (Rp) | Pergerakan Saham year to date (ytd) |
| 1 | PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) | 50 | Rp 2,22 triliun | -9,09% |
| 2 | PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP) | 50 | Rp 2,13 triliun | -10,71% |
| 3 | PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT) | 21 | Rp 1,81 triliun | -46,15% |
| 4 | PT Global Mediacom Tbk (BMTR) | 86 | Rp 1,43 triliun | -38,13% |
| 5 | PT Karya Pacific Energy Tbk (IATA) | 91 | Rp 2,85 triliun | -36,81% |
| 6 | PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV) | 24 | Rp 1,01 triliun | -55,56% |
| 7 | PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG) | 50 | Rp 5,37 triliun | -66,22% |
| 8 | PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) | 136 | Rp 2,05 triliun | -48,09% |
| 9 | PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) | 200 | Rp 12,14 triliun | -52,38% |
| 10 | PT Tripar Multivision Plus Tbk (RAAM) | 169 | Rp 1,15 triliun | -27,16% |
Sumber: RTI Business/Diolah Katadata