Fitch Ratings Sorot Telkom (TLKM), Ungkap Prospek Kinerja hingga Margin EBITDA
Fitch Ratings mempertahankan peringkat kredit jangka panjang PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) atau Telkom di level BBB, baik untuk utang dalam mata uang asing maupun rupiah.
Tak hanya itu, Fitch juga mempertahankan outlook Telkom pada level negatif, sejalan dengan outlook peringkat Indonesia yang berada di level BBB.
Di sisi lain, Fitch menaikkan Standalone Credit Profile (SCP) Telkom menjadi ‘a’ dari sebelumnya ‘a-’. Fitch menilai Telkom sebagai perusahaan telekomunikasi utama di Indonesia dengan posisi kepemimpinan pasar yang stabil.
Profil kredit tersebut juga didukung oleh rasio EBITDA net leverage yang sangat rendah, yakni sekitar 0,4 kali, dibandingkan dengan perusahaan sejenis. Revisi SCP mencerminkan ekspektasi Fitch bahwa Telkom mampu mengakomodasi investasi jaringan 5G dengan tetap menjaga tingkat leverage yang sesuai dengan SCP level ‘a’.
Meski SCP Telkom naik, perubahan tersebut tidak berdampak pada peringkat IDR perseroan. Fitch membatasi peringkat Telkom pada level yang sama dengan peringkat pemerintah Indonesia.
Fitch Ratings menilai profil kredit mandiri atau SCP Telkom lebih kuat dibandingkan peringkat kredit Indonesia. Namun, Fitch tetap membatasi peringkat kredit Telkom pada level sovereign karena kepemilikan mayoritas pemerintah dan tidak adanya pembatasan akses pemerintah terhadap aset TLKM.
Pemerintah Indonesia memiliki 52% saham Telkom dan menjadi satu-satunya pemegang saham khusus Seri A Dwiwarna. Saham tersebut memberikan hak veto kepada pemerintah atas sejumlah keputusan penting, termasuk pengangkatan dan pemberhentian dewan komisaris dan direksi, penerbitan saham baru, dan perubahan anggaran dasar perseroan.
Di sisi lain, Telkom masih mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar pada segmen inti business-to-consumer (B2C), yang menyumbang 72% dari total pendapatan perseroan pada 2025. Telkom menguasai sekitar 48% pangsa pasar seluler dan 67% pasar broadband tetap.
Fitch memperkirakan pasar telekomunikasi Indonesia masih akan tumbuh, terutama di segmen seluler. Prospek itu didukung konsolidasi industri menjadi tiga pemain utama yang dinilai menciptakan persaingan lebih rasional, fokus pada pelanggan bernilai tinggi, dan peningkatan konsumsi data.
“Kami memproyeksikan pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) akan terus meningkat, sementara pertumbuhan pelanggan diperkirakan akan moderat,” tulis Fitch Ratings, dikutip Senin (5/10).
Tak hanya itu, Telkom diperkirakan tetap mempertahankan keunggulan di bisnis broadband tetap dengan lebih dari 9 juta pelanggan. Namun, pertumbuhan segmen ini berpotensi melambat akibat ketatnya persaingan dan adopsi layanan konvergensi yang mulai melambat.
Fitch juga memperkirakan Telkom mampu menjaga rasio utang bersih terhadap EBITDA di sekitar 0,4 kali sepanjang 2026–2029. Rasio tersebut jauh lebih rendah dibandingkan perusahaan telekomunikasi sejenis yang di peringkat Fitch.
Kondisi itu didukung profil utang Telkom yang stabil dan pertumbuhan EBITDA yang diproyeksikan semakin kuat, terutama mulai 2028 saat program reorganisasi perusahaan mulai memberikan dampak. Fitch memperkirakan leverage bersih terhadap EBITDA tetap berada di kisaran 0,4–0,5 kali meski Telkom meningkatkan belanja modal pada 2027–2028 untuk memodernisasi jaringan.
Dari sisi spektrum, biaya yang harus dikeluarkan Telkom dalam lelang pita 700 MHz dan 2,6 GHz terbaru lebih rendah dari perkiraan Fitch. Hal ini karena biaya di muka dalam lelang tersebut setara dengan biaya tahunan, berbeda dengan lelang spektrum sebelumnya.
Dalam lelang tersebut, Telkom memperoleh 2x10 MHz pada pita 700 MHz dan 80 MHz pada pita 2,6 GHz. Akuisisi itu semakin memperkuat posisi Telkom sebagai pemilik portofolio spektrum terbesar di Indonesia. Fitch juga tidak memperkirakan adanya lelang spektrum tambahan dalam skenario pemeringkatannya.
Fitch turut memperhitungkan kepemilikan minoritas Telkom dalam sejumlah aset utama. Lembaga pemeringkat tersebut mengonsolidasikan secara proporsional 70% laporan keuangan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) dan 72% laporan keuangan perusahaan infrastruktur telekomunikasi PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel) untuk mencerminkan dampak kepemilikan minoritas.
“Untuk Telkomsel, kami meyakini Singapore Telecommunications, yang memiliki 30% saham, tetap memiliki pengaruh strategis dan operasional atas perusahaan Indonesia tersebut,” tulis Fitch.
Fitch Ratings menilai Telkom menguasai hampir separuh pangsa pelanggan di segmen seluler dan memiliki posisi dominan di bisnis fixed broadband melalui Telkomsel.
Selain itu, Telkom memiliki diversifikasi bisnis dan kepemilikan infrastruktur yang lebih kuat dibandingkan pemain domestik lainnya. Infrastruktur tersebut mencakup menara telekomunikasi, jaringan serat optik, hingga kabel bawah laut.
Dibandingkan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk dan PT Indosat Tbk, Telkom mencatat margin EBITDA lebih tinggi, yakni sekitar 45%, serta rasio utang bersih terhadap EBITDA yang jauh lebih rendah di level 0,4 kali.
Sementara itu, XLSMART memiliki margin EBITDA terendah di antara perusahaan telekomunikasi domestik tersebut, yakni di bawah 30%, dengan rasio utang bersih terhadap EBITDA mencapai 2,1 kali pada 2025. Adapun Indosat mencatat margin EBITDA sekitar 30% dan rasio utang bersih terhadap EBITDA sekitar 1 kali.
Fitch juga membandingkan Telkom dengan perusahaan telekomunikasi Korea Selatan, KT Corporation. Menurut Fitch, Korea Selatan memiliki pasar telekomunikasi yang lebih maju secara teknologi, terutama dari sisi ketersediaan layanan konektivitas berkecepatan tinggi.
Layanan premium dan tingkat pendapatan masyarakat yang lebih tinggi di Korea Selatan mendukung average revenue per user (ARPU) lebih tinggi. Namun, pasar telekomunikasi Korea Selatan sudah berada pada tahap yang lebih matang sehingga ruang pertumbuhannya lebih terbatas dibandingkan Indonesia.
Dari sisi leverage, Telkom memiliki posisi yang lebih kuat dengan rasio utang bersih terhadap EBITDA sekitar 0,4 kali, dibandingkan KT Corporation yang berada di sekitar 1 kali.
Prospek Kinerja Telkom
Dalam skenario pemeringkatannya, Fitch memperkirakan pendapatan Telkom tumbuh sekitar 2% pada 2026 dan 2027. Fitch juga memproyeksikan margin EBITDA sebesar 44% pada kedua tahun tersebut.
Sementara itu, belanja modal atau capital expenditure (capex) diperkirakan mencapai 19% dari pendapatan pada 2026 dan meningkat menjadi 23% pada 2027.
Fitch juga memperkirakan Telkom membagikan dividen sekitar Rp 22 triliun pada 2026 dan Rp 23 triliun pada 2027. Selain itu, perseroan diproyeksikan melakukan pembelian kembali saham atau buyback sekitar Rp 1,8 triliun pada 2026.
Per Juni 2026, Telkom memiliki kas dan setara kas sebesar Rp 54,5 triliun serta fasilitas likuiditas yang belum ditarik sebesar Rp 4 triliun. Hal ini dibandingkan dengan utang yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan sebesar sekitar Rp 30 triliun dan profil jatuh tempo utang yang tersebar merata setelahnya.
“Kami memperkirakan perusahaan akan tetap memiliki akses keuangan yang baik ke pasar modal serta bank-bank lokal dan internasional, yang akan mendukung upaya refinansialisasinya,” tulis Fitch.