IHSG Melesat 2 Hari Beruntun tapi Investor Masih Net Sell, Ada Sinyal Bullish?
IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan melesat lebih dari 1% pada dua perdagangan terakhir. Namun, analis mengatakan kenaikan ini belum cukup untuk menjadi sinyal bahwa indeks telah memasuki fase bullish, karena investor asing masih marak melakukan jual.
Pada perdagangan Senin (5/10), investor asing mencatatkan jual bersih atau net sell Rp 115,71 miliar. Tekanan jual berlanjut pada Selasa (6/10), sebesar Rp 629,87 miliar. Jika dikalkulasikan, sejak awal tahun hingga 6 Oktober, nilainya mnecapai Rp 83,29 triliun.
Di sisi lain, IHSG pada Senin (5/10) ditutup melonjak 1,36% atau 81,97 poin ke level 6.118. Penguatan berlanjut pada perdagangan Selasa (6/10), ketika IHSG naik 1,21% atau 74,07 poin ke level 6.192.
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, penguatan IHSG lebih dari 1% selama dua hari menunjukkan risk appetite investor mulai membaik. Namun, kondisi ini belum cukup untuk menyatakan IHSG telah memasuki tren bullish.
"Lebih tepat dilihat sebagai technical rebound dan perlu dikonfirmasi dengan volume serta foreign flow yang konsisten," kata Elandry kepada Katadata.co.id, Rabu (7/10).
Elandry memperkirakan IHSG berpeluang mencapai level 6.700-6.900 pada akhir tahun, apabila sentimen global dan aliran modal mendukung. Namun, isu MSCI masih menjadi risiko utama yang perlu dicermati investor.
Menurut dia, Santa Rally dapat menjadi katalis tambahan bagi IHSG, tetapi bukan alasan utama bagi investor untuk mengejar pasar. Sejumlah sektor yang dapat dicermati hingga akhir tahun antara lain energi, basic materials, financials terutama bank besar, serta consumer.
Tim Analis KISI juga menilai penguatan IHSG dalam dua perdagangan terakhir belum menunjukkan peralihan ke fase bullish. Kenaikan tersebut dinilai masih berupa rebound dari tren minor downtrend.
Pelaku pasar masih bersikap wait and see menunggu hasil peninjauan indeks MSCI pada November 2026. Hasil peninjauan ini dinilai akan menjadi salah satu penentu arah aliran dana asing ke pasar saham Indonesia.
Tim analis KISI memetakan dua skenario pergerakan IHSG hingga akhir 2026. Dalam skenario bullish atau bull case, IHSG diproyeksikan mencapai 6.800 apabila status freeze dicabut dan Indonesia tetap dipertahankan dalam indeks emerging market.
Sementara itu, dalam skenario alternatif, IHSG diproyeksikan berada di level 6.600 apabila status freeze belum dicabut. Skenario ini juga mempertimbangkan sejumlah faktor eksternal, seperti kebijakan suku bunga The Fed, imbal hasil US Treasury, serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Dengan berbagai katalis tersebut, Tim Analis KISI tetap merekomendasikan sektor energi dan komoditas batu bara untuk dicermati investor hingga akhir 2026.