Komika Yudha Keling Pilih Bertahan di Saham GOTO meski Rugi Besar, Ini Alasannya
Komika Yudha Keling merasa sedih dari pergerakan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang hingga kini babak belur. Komedian sekaligus financial content creator itu menyebut GOTO sebelumnya pernah menjadi salah satu saham andalannya.
Menurut Yudha, saat ini ia masih mengalami floating loss atau nyangkut di saham GOTO. Meski begitu, di tengah kerugian besar yang dialami ia mengaku memilih pasrah.
“Ya gimana? Kalau setiap hari harganya turun ya pasti sedih, saya sama seperti bapak Garibaldi “Boy” Thohir, loss-nya udah kedaleman jadi didiemin aja,” kata Yudha kepada Katadata di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (14/10).
Namun Yudha enggan menjawab berapa lembar saham yang dimilikinya. Meski begitu sebelumnya Yudha Keling memberikan 1.412.025 lembar saham GOTO sebagai mahar pernikahannya dengan Fadhilah Eryanda di Hotel Grand Savero, Bogor, Minggu (14/12/2025).
Apabila menilik perdagangan hari ini, Rabu (14/10), saham GOTO naik 3,70% ke Rp 28 per saham. Volume yang diperdagangkan tercatat 9,37 miliar dengan nilai transaksi Rp 256,67 miliar dan kapitalisasi pasarnya mencapai Rp 31,94 triliun. Namun secara year to date (ytd) anjlok 56,25% dan terperosok 44% dalam sebulan terakhir.
Lebih jauh, ia menilai strategi yang paling tepat di tengah kondisi pasar saat ini adalah menahan dana dalam bentuk tunai atau stay cash di rekening dana nasabah (RDN). Menurutnya, investor tidak harus selalu membeli saham, sebab tidak melakukan apa-apa juga termasuk dari strategi investasi.
Adapun bagi investor yang sudah nyangkut, ia menyarankan untuk mengevaluasi kembali alasan awal membeli saham. Menurutnya, apabila penurunan harga hanya dipicu sentimen pasar, sementara fundamental perusahaan tidak berubah, investor disarankan untuk wait and see.
Sebaliknya, jika harga anjlok dan mengubah tesis dari awal untuk trading, investor dapat mempertimbangkan untuk cut loss. Ia menyebut keputusan membeli saham perlu disesuaikan dengan tujuan awal, baik untuk trading maupun investasi berdasarkan fundamental perusahaan.
“Kalau tesisnya untuk trading, ya berarti penurunannya memang harus di cut loss gitu. Tapi kalau benarnya karena fundamentalnya dan sejauh ini fundamentalnya gak berubah, ya mungkin bisa jadi pilihan untuk wait and see atau mungkin tambah,” ucap Yudha.