Koreksi Tajam Saham Peluang Bagi Pemula: Empat Tips Investasi, Jangan Asal Serok

Katadata/Fauza Syahputra
Pekerja berjalan di dekat layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (19/10/2026). Pasar saham RI tertekan aksi jual masif, IHSG anjlok ke bawah level psikologis 5.000, terendah dalam enam tahun.
19/10/2026, 17.53 WIB

Koreksi harga tajam di pasar saham Indonesia disebut bisa menjadi momentum emas bagi investor pemula. Namun, kesempatan ini perlu disikapi secara bijak dan bukan sekadar ikut-ikutan alias fomo. Lalu, bagaimana sebaiknya pemula memanfaatkan momentum ini?

Analis Pasar Modal Hans Kwee menjelaskan, koreksi harga saat ini dipicu perubahan sentimen pasar imbas faktor teknis jangka pendek. Sedangkan fundamental ekonomi dan kinerja keuangan emiten-emiten utama tetap tumbuh solid.

“Penurunan harga saham akibat sentimen pasar seringkali menciptakan valuasi diskon atau bargain price pada saham-saham perusahaan berkualitas tinggi yang biasanya harganya mahal,” kata Hans kepada Katadata, pada Senin (19/10). Ini disebutnya sebagai peluang bagus yang dapat dimanfaatkan para investor pemula.

Namun, Hans mengingatkan agar investor pemula tidak hanya ikut-ikutan dan tetap mempertimbangkan betul strateginya, dengan masuk ke saham-saham blue chip yang harganya terjangkau. Saham blue chip adalah saham dari perusahaan besar yang memiliki fundamental bisnis kokoh dan laba stabil. 

Dia menjelaskan, pasar saham Indonesia sangat inklusif karena tidak perlu modal besar untuk bisa berinvestasi. “Investasi saham maupun reksa dana kini bisa dimulai hanya dengan modal puluhan hingga ratusan ribu rupiah,” ujar dia. 

Menurut dia, berinvestasi dengan modal kecil saat pasar bergejolak adalah strategi paling aman bagi pemula untuk belajar mengelola risiko dan emosi transaksi. “Tanpa perlu merasa cemas secara finansial,” ucapnya.

Empat Tips "Berselancar" Aman di Pasar Saham

Hans kemudian memberi empat tips bagi pemula maupun investor muda untuk menavigasi portofolionya saat ini.

Pertama, berinvestasi dengan uang dingin. Artinya, berinvestasi dengan menggunakan dana bebas yang bukan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pokok, bukan pula dana darurat jangka pendek. Dengan demikian, investor tidak panik ketika terjadi fluktuasi harga harian. 

Kedua, menerapkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA). Maksudnya, daripada memasukkan seluruh modal sekaligus, Hans menyarankan agar investor membeli saham atau reksa dana secara berkala dan bertahap.

“Misalnya, setiap bulan atau setiap terjadi koreksi wajar,” ucapnya. Tujuannya, untuk meratakan harga rata-rata pembelian dan menekan risiko salah momentum. 

Ketiga, fokus pada fundamental dan diversifikasi. Hans menyarankan agar investor memilih saham-saham emiten berkapitalisasi besar yang memiliki rekam jejak profitabilitas jelas, manajemen kredibel, serta rutin membagikan dividen.

“Hindari saham-saham yang bergerak abnormal tanpa fundamental yang jelas atau saham gorengan,” ujarnya. Selain itu, menurut dia, alokasi investasi ke beberapa sektor atau instrumen dengan risiko lebih rendah juga diperlukan, misalnya pada reksa dana pasar uang atau obligasi negara. 

Keempat, dia mengingatkan agar para investor selalu mengedukasi dirinya dan bertindak rasional. Salah satu caranya adalah dengan tidak mudah terpengaruh isu atau rumor liar di media sosial. Momentum kali ini, kata dia, harus dimanfaatkan untuk membaca laporan keuangan ringkas, lalu memahami prospek bisnis perusahaan yang dibeli sahamnya.

Hans lalu menegaskan, pasar saham bukan area lari cepat, melainkan maraton. Sentimen jangka pendek seperti saat ini, kata dia, lumrah dalam siklus dalam pasar keuangan. 

“Bagi anak muda yang memiliki horison investasi jangka panjang, masa-masa penyesuaian seperti saat ini adalah waktu terbaik untuk mulai membangun portofolio secara disiplin dan rasional,” ujar Hans. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas