Dirut CIMB Niaga (BNGA) Respons Kabar Delisting dari BEI, Ungkap Opsi Disiapkan
Direktur Utama PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) Lani Darmawan merespons kabar tentang rencana perseroan melakukan penghapusan pencatatan saham (delisting) dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Kabar tersebut beredar seiring dengan sejumlah aksi yang tengah dilakukan perusahaan.
Lani menjelaskan, hingga saat ini perseroan masih melakukan penilaian terhadap sejumlah opsi strategis. Perusahaan pun menurut dia memegang komitmen menjalankan tata kelola perusahaan.
“Kami saat ini masih melakukan assessment terhadap beberapa opsi, dan komitmen kami untuk comply dengan peraturan,” kata Lani kepada Katadata.co.id saat dikonfirmasi mengenai kabar rencana delisting BNGA, Rabu (21/10).
Lebih jauh ia mengatakan kajian yang dilakukan pun terus dikonsultasikan dengan regulator. Mengutip laporan The Star, bank swasta yang merupakan bagian dari grup perbankan asal Malaysia, CIMB Group Holdings Bhd itu disebut tengah meningkatkan upaya untuk merealisasikan opsi delisting.
CIMB Investment Bank Bhd (CIMB IB) menyebut langkah tersebut didasari pandangan bahwa saham CIMB Niaga masih dihargai di bawah nilai wajarnya (undervalued). Sementara itu prospek jangka panjang Indonesia dinilai positif. Perusahaan menyebut terdapat tiga opsi yang masih dipertimbangkan untuk memenuhi ketentuan free float atau batas minimum saham yang beredar di publik.
Opsi tersebut meliputi penempatan saham kepada investor strategis pada valuasi yang dapat diterima, penawaran umum perdana saham kembali (re-IPO) dan privatisasi. Sementara itu opsi re-IPO kecil kemungkinan dilakukan dalam kondisi pasar Indonesia saat ini. Atas alasan itu privatisasi disebut sebagai opsi yang lebih strategis dan realistis.
Menurut CIMB IB, delisting juga dapat dilakukan melalui skema yang memungkinkan pemegang saham minoritas tetap memiliki sebagian saham setelah perusahaan keluar dari bursa. CIMB mencontohkan, pengaturan kepemilikan minoritas yang pernah diterapkan di CIMB Thai dan CIMB Bank Malaysia.
Selain itu, CIMB mempertimbangkan keberlanjutan aliran dividen dari CIMB Niaga kepada induk usahanya. CIMB juga melihat peluang optimalisasi modal, mengingat rasio common equity tier 1 (CET1) CIMB Niaga mencapai 23%. Rasio tersebut berpotensi diarahkan ke level 20%, meskipun belum ada target resmi.