Bertemu Bos Jardine hingga Tambah Porsi Investasi, Apa Skenario Danantara?
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia bertemu dengan petinggi Jardine Matheson di Hong Kong. Jardine Matheson merupakan grup investasi yang mengendalikan PT Astra International Tbk (ASII) melalui Jardine Cycle & Carriage Ltd, serta memiliki seluruh saham Mandarin Oriental International Ltd melalui anak usahanya, Jardine Strategic Ltd.
Mengutip postingan Instagram pribadi Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani @rosanroeslani, dia bertemu dengan Ketua Eksekutif Jardine Matheson Ben Keswick di Hong Kong Senin 20 Oktober 2026. Dalam pertemuan itu, Rosan dan Keswich melakukan diskusi soal investasi konglomerasi multinasional asal Britania Raya itu di Indonesia.
“Kami membahas keberlanjutan investasi Jardines di Indonesia, mengoptimalkan aset serta memperluas ekspansi investasi jangka panjang di berbagai sektor strategis,” tulis Rosan dalam postingan Instagramnya dikutip Jumat (23/10).
Namun, Rosan tidak merinci secara jelas mengenai rencana investasi tersebut atau hasil pertemuan dengan Jardine.
Jardine Matheson adalah salah satu konglomerat multinasional tertua dan terbesar yang berpusat di Hong Kong. Perusahaan ini didirikan pada 1 Juli 1832 oleh dua pedagang asal Skotlandia, William Jardine dan James Matheson.
Jardine Matheson mengendalikan berbagai perusahaan besar di berbagai industri melalui beberapa anak usaha utamanya, salah satunya adalah ASII.
Diskusi kerja sama ini terjadi seiring langkah Danantara mencari mitra investasi dan langkah ASII untuk memperkuat fokus bisnis, mendisiplinkan alokasi modal dan meningkatkan imbal hasil bagi pemegang saham.
Perbesar Porsi Investasi
Di kesempatan berbeda, Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengatakan, karakter Danantara sebagai badan pengelola investasi milik negara membuat lembaga tersebut perlu menerapkan prinsip kehati-hatian lebih kuat dibandingkan investor swasta. Karena itu, Danantara cenderung menyasar perusahaan yang telah memiliki rekam jejak usaha, alih-alih masuk langsung ke perusahaan rintisan yang berisiko tinggi.
Dalam investasi di sektor teknologi, misalnya, Danantara akan mengandalkan pengelola dana yang memiliki keahlian dan rekam jejak yang terbukti.
“Kita harus tahu apa yang memang kita kuasai dan percaya kepada pihak yang memang ahli di bidangnya,” ujar Pandu pekan lalu di Bangkok, Thailand.
Danantara berencana memperbesar porsi investasi di dalam negeri pada 2027. Pandu menilai peluang investasi domestik masih terbuka. Sejumlah sektor yang menarik perhatian Danantara antara lain energi terbarukan, hilirisasi, infrastruktur digital, pusat data, efisiensi energi, pengolahan air hingga pembangunan pabrik yang mendukung rantai pasok energi bersih.
Menurut Pandu, Danantara ingin memastikan bahwa modal yang dikeluarkan dapat menarik investasi tambahan dari mitra swasta. Dengan begitu, investasi negara tidak hanya membiayai proyek, tetapi juga mendorong pembentukan modal dan kegiatan ekonomi yang lebih luas.
Sementara itu, Managing Director Global Relations & Communications Danantara Pahala Mansury mengatakan, Danantara tengah mengkurasi sejumlah proyek dalam pipeline investasi untuk menentukan sektor strategis untuk tahun depan. Proses kurasi tersebut melibatkan Danantara Investment Management, badan usaha milik negara (BUMN) dan pihak swasta.
“Yang paling besar, khususnya dari BUMN, adalah sektor critical minerals dan downstreaming. Jadi, ada cukup banyak proyek di kedua sektor tersebut,” kata Pahala dalam agenda Media Coffee Session di Wisma Danantara, Kamis (22/10).
Selain itu, Danantara melihat potensi investasi yang cukup besar di sektor pusat data dan AI. Dia mengatakan proyek data center tersbeut dapat difinalisasi dalam New Asia Forum yang akan diselenggarakan pada 3–4 Desember 2026.
Forum yang akan digelar di Bali itu menargetkan komitmen investasi hingga US$ 30 miliar.
Kendati demikian, Pahala mengatakan Danantara tetap membuka peluang investasi di sektor lain. Sejumlah sektor yang turut dijajaki antara lain ketahanan pangan (food security), energi rendah karbon (low carbon energy), energi tanpa karbon (carbonless energy) serta pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.