SEC Perketat Pengawasan AI, Wall Street Dibayangi Volatilitas

Antara
Ilustrasi - Pintu masuk Wall Street ke New York Stock Exchange (NYSE) terlihat di New York City, AS. ANTARA/REUTERS/Brendan McDermid/am.
Editor: Yuliawati
26/10/2026, 07.58 WIB

Pasar saham Amerika Serikat (AS) diperkirakan menghadapi volatilitas tinggi pada pekan ini. Investor Wall Street akan mencermati arah regulasi pasar keuangan AS yang akan mengawasi ketat pada AI.

Pada perdagangan Jumat (23/10), indeks S&P 500 turun 0,52% ke level 7.623,68, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah 1,23% ke posisi 52.215,16. Nasdaq Composite juga ditutup turun sekitar 0,2% ke level 25.955,34.

Secara mingguan, S&P 500 terkoreksi 0,5% dan Nasdaq turun 0,7%, sehingga keduanya mencatatkan penurunan mingguan selama dua pekan berturut-turut.

Komisi Sekuritas dan Bursa AS (Securities and Exchange Commission/SEC) menetapkan kecerdasan buatan, aset privat, kredit privat, serta sekuritas yang ditokenisasi sebagai sejumlah prioritas pemeriksaan terhadap perusahaan keuangan pada tahun fiskal 2027.

Dilansir dari Reuters, dalam pengumuman yang disampaikan pada Jumat, SEC menyatakan pemeriksaan pada tahun fiskal pemerintah federal yang dimulai pada 1 Oktober tersebut juga akan mencakup dana privat (private funds) dan kredit privat (private credit).

Langkah ini dilakukan di tengah upaya pemerintahan Presiden Donald Trump untuk memperluas akses investor ritel dan penabung dana pensiun terhadap aset privat. Investasi tersebut berpotensi memberikan imbal hasil lebih tinggi, tetapi juga dapat meningkatkan risiko yang harus ditanggung investor.

Bulan lalu, SEC juga mengumumkan pemberian pengecualian selama lima tahun yang memungkinkan perusahaan menawarkan saham berbasis blockchain atau saham yang ditokenisasi.

Tokenisasi merupakan proses merepresentasikan kepemilikan suatu aset dalam bentuk token digital pada jaringan blockchain. Teknologi ini dinilai dapat mengubah cara aset keuangan diterbitkan dan diperdagangkan.

Meski berpotensi memberikan keuntungan lebih besar, investasi pada aset privat menuai kritik karena memiliki sejumlah risiko. Para kritikus menilai investor ritel belum tentu memperoleh imbal hasil tinggi seperti yang diharapkan.

Selain itu, investor mungkin tidak sepenuhnya memahami biaya yang dikenakan. Aset privat juga kerap sulit dinilai secara akurat dan tidak selalu dapat dicairkan dengan cepat menjadi uang tunai.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena perluasan akses ke aset privat berpotensi membawa produk investasi yang lebih kompleks kepada masyarakat yang belum tentu memiliki pengalaman atau pemahaman memadai mengenai risikonya.

SEC juga akan meningkatkan perhatian terhadap penggunaan AI dan teknologi lainnya yang dapat memengaruhi operasional pasar, kepatuhan terhadap peraturan, pencegahan penipuan, serta perlindungan investor.

Selain perkembangan teknologi, regulator akan mengawasi risiko yang muncul akibat perubahan struktur pasar, termasuk meningkatnya penggunaan tokenisasi dalam perdagangan sekuritas.

Divisi Pemeriksaan SEC bertanggung jawab mengawasi perusahaan yang berada di bawah kewenangan lembaga tersebut, termasuk penasihat investasi, perusahaan perantara perdagangan efek (broker-dealer), dan bursa saham.

Apabila menemukan indikasi pelanggaran, divisi tersebut dapat meneruskan hasil pemeriksaannya kepada Divisi Penegakan Hukum untuk ditindaklanjuti.

Penetapan prioritas baru ini juga menandai perubahan arah pengawasan SEC. Pada tahun sebelumnya, lembaga tersebut mengurangi penekanan pada pengawasan sektor mata uang kripto.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah