BEI Bidik 25 IPO pada 2027, Turun Separuh dari Target 2026
Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan 25 perusahaan melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada 2027. Target tersebut tercantum dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) BEI 2027 yang disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Rabu (28/10).
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, bursa menetapkan tiga asumsi utama dalam penyusunan RKAT 2027. Pertama, nilai transaksi harian rata-rata ditargetkan mencapai Rp 21 triliun, naik 16,7% dibandingkan target dalam RKAT 2026 revisi sebesar Rp 18 triliun. Target tersebut dihitung dengan asumsi 241 hari bursa.
Kedua, BEI menargetkan pencatatan 905 efek baru pada 2027, meningkat 13,1% dibandingkan target dalam RKAT 2026 revisi sebanyak 800 efek. Target tersebut turun separuh dari target IPO pada 2026 yaitu sebesar 50 perusahaan.
“Target tersebut mencakup 25 pencatatan saham baru, 175 emisi obligasi dan sukuk, serta 705 efek lainnya, termasuk waran terstruktur dan produk investasi kolektif,” ujar Jeffrey dalam konferensi pers RUPSLB BEI, Rabu (28/10).
Ketiga, BEI menargetkan rata-rata investor aktif bulanan mencapai 1,3 juta investor pada 2027. Target ini meningkat 44,4% dibandingkan RKAT 2026 revisi sebanyak 900 ribu investor.
Untuk mencapai target tersebut, BEI akan memperluas jangkauan edukasi dan literasi pasar modal, serta meningkatkan aktivitas investor melalui jaringan kantor perwakilan, galeri investasi, dan kanal digital.
Jeffrey mengatakan, ketiga asumsi tersebut menjadi dasar penyusunan proyeksi kinerja dan anggaran BEI pada 2027. Bursa juga mempertimbangkan dinamika pasar dan keberlanjutan pertumbuhan dalam menetapkan target tersebut.
Dari sisi keuangan, BEI memproyeksikan total pendapatan pada 2027 mencapai Rp 2,59 triliun, tumbuh 14,6% dibandingkan target dalam RKAT 2026 revisi.
Pertumbuhan pendapatan tersebut diperkirakan ditopang oleh aktivitas transaksi efek, dengan target nilai transaksi harian rata-rata Rp 21 triliun. Selain itu, pendapatan juga diharapkan meningkat dari jasa pencatatan efek dan layanan data pasar modal.