Pendapatan TOBA Turun 11% Jadi Rp 4,65 Triliun, Bagaimana Prospek Bisnis Limbah?

Katadata
PT TBS Energi Utama Tbk melakukan divestasi dua PLTU sebagai bagian dari komitmen netralitas karbon pada 2030, menargetkan pengurangan emisi karbon sebesar 1,3 juta ton CO2 per tahun.
30/10/2026, 14.21 WIB

PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) membukukan pendapatan konsolidasian sebesar US$257,3 juta atau sekitar Rp 4,65 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Angka tersebut turun 11% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama akibat penurunan pendapatan dari bisnis batu bara yang menjadi bagian dari bisnis legacy perseroan.

Meski pendapatan mengalami penurunan, TOBA mencatatkan perbaikan pada sejumlah indikator profitabilitas. Laba kotor perseroan tumbuh 105% secara tahunan menjadi US$45,2 juta atau sekitar Rp 818,12 miliar. Margin laba kotor juga meningkat menjadi 18%, lebih dari dua kali lipat dibandingkan 8% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur dan Chief Financial Officer TBS Energi Utama Juli Oktarina mengatakan, transformasi bisnis yang dijalankan perseroan mulai memberikan hasil terhadap kinerja keuangan.

“Pada sembilan bulan pertama tahun 2026, TBS terus membuktikan bahwa transformasi yang sedang dijalankannya menghasilkan pendapatan yang berkualitas. Meskipun terdapat berbagai tantangan, kami bangga telah dapat mencatatkan peningkatan pada laba kotor serta EBITDA yang disesuaikan serta penyusutan rugi bersih,” ujar Juli dalam keterangan resmi, Jumat (30/10).

Dari sisi bottom line, TOBA mencatatkan rugi bersih konsolidasian sebesar US$35,4 juta atau sekitar Rp 640,74 miliar pada Januari-September 2026. Kerugian tersebut menyusut 72% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$127,9 juta atau sekitar Rp 2,31 triliun.

Perbaikan tersebut antara lain didorong oleh tidak berulangnya kerugian dari divestasi bisnis pembangkit listrik tenaga batu bara yang dibukukan pada 2025. Pada periode ini, rugi bersih masih mencakup sejumlah beban terkait akuisisi Cora Environment Pte. Ltd. dan pembiayaan kembali atau refinancing pinjaman senior dari entitas bisnis pengelolaan limbah.

TOBA juga membukukan EBITDA konsolidasian yang disesuaikan sebesar US$44,4 juta atau sekitar Rp 803,64 miliar, tumbuh 39% secara tahunan. Margin EBITDA yang disesuaikan mencapai 17%, meningkat enam poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi arus kas, perseroan mencatatkan arus kas dari aktivitas operasi sebesar US$20,3 juta atau sekitar Rp 367,43 miliar. Capaian ini berbalik dari posisi arus kas operasional negatif pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Per 30 September 2026, saldo kas TOBA, termasuk kas yang dibatasi penggunaannya, tercatat sebesar US$89,6 juta atau sekitar Rp 1,62 triliun.

Bisnis Pengelolaan Limbah Jadi Kontributor Utama

Dalam transformasi bisnisnya, TOBA terus memperbesar kontribusi bisnis infrastruktur berkelanjutan, terutama pengelolaan limbah dan kendaraan listrik.

Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, bisnis pengelolaan limbah mencatatkan pendapatan US$157,3 juta atau sekitar Rp 2,85 triliun. Angka tersebut tumbuh 41% secara tahunan, dengan peningkatan margin laba kotor sebesar 13,3%.

Secara keseluruhan, bisnis pengelolaan limbah TOBA mengumpulkan 755.990 ton limbah sepanjang periode tersebut. Lini bisnis ini juga melayani lebih dari 470.000 rumah tangga dan pelaku usaha di Indonesia serta Singapura.

Sementara itu, bisnis kendaraan listrik melalui Electrum mencatatkan pendapatan US$12,9 juta atau sekitar Rp 233,49 miliar, tumbuh 120% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Segmen ini juga membukukan laba kotor US$1,2 juta atau sekitar Rp 21,72 miliar, berbalik dari rugi kotor US$0,7 juta atau sekitar Rp 12,67 miliar pada tahun sebelumnya.

Hingga 30 September 2026, lebih dari 14.000 sepeda motor listrik Electrum telah beroperasi. Jumlah tersebut meningkat 115% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Electrum juga mengoperasikan 701 stasiun penukaran baterai atau battery swapping station (BSS), tumbuh 85% secara tahunan.

Adapun bisnis energi terbarukan TOBA mencakup pengoperasian pembangkit listrik tenaga mini-hidro Sumberjaya berkapasitas 6 megawatt (MW) di Lampung dan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung berkapasitas 46 megawatt peak (MWp). Proyek PLTS terapung tersebut ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada kuartal IV 2026.

Karena kepemilikan TOBA pada bisnis energi terbarukan bersifat minoritas, pendapatannya dicatat sebagai bagian dari laba entitas asosiasi dan ventura bersama. Pada 9M2026, kontribusi laba dari pos tersebut mencapai US$0,3 juta atau sekitar Rp 5,43 miliar, tumbuh 77% secara tahunan.

Di sisi lain, bisnis batu bara masih menjadi bagian dari portofolio TOBA selama masa transisi. Segmen pertambangan batu bara mencatatkan pendapatan US$61,8 juta atau sekitar Rp 1,12 triliun, turun 10% secara tahunan. Segmen ini membukukan laba kotor US$21,6 juta atau sekitar Rp 390,96 miliar dan EBITDA US$20,1 juta atau sekitar Rp 363,81 miliar.

Sementara itu, bisnis perdagangan batu bara mencatatkan pendapatan US$19,5 juta atau sekitar Rp 352,95 miliar, turun 76% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Segmen tersebut membukukan laba kotor US$0,6 juta atau sekitar Rp 10,86 miliar dan rugi EBITDA US$0,5 juta atau sekitar Rp 9,05 miliar.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah