Membaca Arah IHSG Tanpa Saham HSC DCII, BYAN dan DSSA, Berlaku Mulai Hari Ini

Katadata/Fauza Syahputra
Pekerja berada di dekat layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (23/10/2026). IHSG perdagangan akhir pekan ditutup menguat 0,95% atau naik 51,35 poin ke level 5.439,26 dengan sepanjang perdagangan, mayoritas saham bergerak menguat, dengan 477 saham naik, 187 saham melemah, dan 129 saham tidak mengalami perubahan.
Penulis: Karunia Putri
2/11/2026, 07.04 WIB

Saham-saham yang masuk dalam daftar konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) resmi dikeluarkan dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai hari ini, Senin (2/11). Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan kebijakan tersebut tidak mengubah level awal IHSG pada perdagangan hari ini yang mengacu pada penutupan sebelumnya di posisi 5.057.

Langkah ini dilakukan BEI usai lembaga pengelola indeks global MSCI membuka konsultasi mengenai kemungkinan mereklasifikasi pasar saham Indonesia dari kategori pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, pengeluaran saham-saham HSC tidak akan mengubah bobot IHSG pada pembukaan perdagangan hari ini. Sebab, bobot saham-saham yang dikeluarkan akan didistribusikan kembali ke saham-saham lain yang masih menjadi konstituen indeks.

“Bobot dari saham-saham yang dikeluarkan akan didistribusikan ke sisa saham konstituen yang ada,” ujar Jeffrey dalam acara media gathering di Lombok, akhir pekan lalu.

Menurut Jeffrey, mekanisme tersebut serupa dengan penghapusan pencatatan saham atau delisting. Bobot saham yang dikeluarkan akan dialihkan secara otomatis ke saham-saham lain yang masih tercatat dalam indeks.

Dengan kebijakan ini, jumlah saham yang diperhitungkan dalam IHSG berkurang dari sebelumnya 963 saham menjadi 881 saham. Sebanyak 82 saham yang masuk kategori HSC tidak lagi menjadi bagian dari perhitungan indeks.

Sebelumnya, BEI mencatat saham-saham HSC berkontribusi sekitar 18% terhadap bobot IHSG. Sementara itu dari sisi kapitalisasi pasar, kelompok saham itu mencakup sekitar 30% dari total kapitalisasi pasar bursa.

Besarnya kontribusi tersebut tidak terlepas dari keberadaan sejumlah saham HSC dalam jajaran emiten berkapitalisasi pasar terbesar di BEI. Di antaranya PT DCII Indonesia Tbk (DCII) milik konglomerat Otto Toto Sugiri dengan kapitalisasi pasar Rp 417,09 triliun yang menempati posisi ketiga terbesar di bursa.

Selain itu, terdapat PT Bayan Resources Tbk (BYAN) milik Low Tuck Kwong dengan kapitalisasi pasar Rp 305 triliun dan PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN) milik Prajogo Pangestu sebesar Rp 240,14 triliun.

Kendati demikian, pengeluaran saham-saham HSC tidak serta-merta membuat IHSG kehilangan 18% dari nilainya. Analis menilai dampak kebijakan tersebut terhadap level indeks bergantung pada mekanisme penyesuaian bobot yang diterapkan BEI.

Dampak IHSG tanpa Saham HSC

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, kontribusi saham HSC sebesar 18% terhadap IHSG tidak bisa langsung diartikan bahwa indeks akan terkoreksi sebesar 18% setelah saham-saham tersebut dikeluarkan.

“Karena perubahan komposisi dan bobot saham tidak selalu berdampak secara proporsional terhadap level indeks,” kata Elandry.

Sebagai ilustrasi matematis, apabila IHSG di level 5.000 mengalami penurunan 18%, indeks akan berada di kisaran 4.100. Namun, angka tersebut bukan proyeksi aktual melainkan simulasi dengan asumsi terjadi penurunan sebesar 18%.

Menurut Elandry, dampak sebenarnya akan bergantung pada metodologi perhitungan indeks, respons investor, serta potensi aliran dana (capital flow) setelah kebijakan diterapkan.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, pengeluaran saham-saham HSC merupakan langkah untuk meningkatkan kualitas IHSG. Dengan mengecualikan saham yang kepemilikannya terkonsentrasi pada segelintir pihak, indeks diharapkan lebih mencerminkan pergerakan saham dengan distribusi kepemilikan yang lebih luas dan likuiditas yang lebih sehat.

Namun, Nafan mengingatkan bahwa perubahan komposisi tersebut tidak otomatis membuat IHSG bergerak naik ataupun turun. Dampaknya terhadap indeks bergantung pada kinerja saham-saham yang dikeluarkan.

Jika saham-saham HSC sebelumnya menjadi sumber tekanan jual, pengeluarannya berpotensi mengurangi tekanan terhadap pergerakan indeks. Sebaliknya, apabila saham-saham tersebut sedang menguat, kontribusi positifnya tidak lagi tercermin dalam IHSG.

Karena itu, Nafan menyarankan investor tidak menjadikan perubahan komposisi IHSG sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan investasi. Investor tetap perlu mencermati fundamental emiten, tata kelola, transparansi kepemilikan saham, likuiditas, serta porsi saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan atau free float.

Khusus saham-saham HSC, investor perlu memperhitungkan risiko volatilitas dan ketimpangan antara kapitalisasi pasar dengan likuiditas riil. Di tengah ketidakpastian evaluasi MSCI, investor juga disarankan menerapkan manajemen risiko secara disiplin dan menghindari penggunaan utang berlebihan untuk berinvestasi.

Sementara itu, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su memproyeksikan IHSG berpotensi mencapai level 5.925 dalam jangka panjang. Proyeksi tersebut disampaikan dengan mengacu pada posisi IHSG di kisaran 4.997 pada penutupan perdagangan Senin (19/10).

Harry menilai, saham-saham HSC selama ini menjadi salah satu sumber tekanan terhadap IHSG. Karena itu, pengeluaran saham-saham tersebut dari perhitungan indeks berpotensi membuat pergerakan IHSG terlihat lebih baik.

“Kan HSC stocks drop-nya paling banyak, jadi kalau dikeluarkan, indeks kita naik. Saham HSC paling besar menurunkan indeks,” ujar Harry.

Daftar saham HSC per 22 Oktober 2026:

Berikut daftar lengkap 82 saham HSC yang akan dikeluarkan dari IHSG

  1. PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS)
  2. PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT)
  3. PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS)
  4. PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG)
  5. PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA)
  6. PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB)
  7. PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI)
  8. PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA)
  9. PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY)
  10. PT Akasha Wira International Tbk (ADES)
  11. PT Temas Tbk (TMAS)
  12. PT Bank Mestika Dharma Tbk (BBMD)
  13. PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP)
  14. PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME)
  15. PT Diamond Food Indonesia Tbk (DMND)
  16. PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL)
  17. PT Enseval Putera Megatrading Tbk (EPMT)
  18. PT Sillo Maritime Perdana Tbk (SHIP)
  19. PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI)
  20. PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD)
  21. PT Royalindo Investa Wijaya Tbk (INDO)
  22. PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE)
  23. PT Multi Spunindo Jaya Tbk (MSJA)
  24. PT Charnic Capital Tbk (NICK)
  25. PT Steady Safe Tbk (SAFE)
  26. PT Berdikari Pondasi Perkasa Tbk (BDKR)
  27. PT Intermedia Capital Tbk (MDIA)
  28. PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA)
  29. PT Bukit Darmo Property Tbk (BKDP)
  30. PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA)
  31. PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR)
  32. PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII)
  33. PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL)
  34. PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE)
  35. PT Golden Flower Tbk (POLU)
  36. PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI)
  37. PT Hoffmen Cleanindo Tbk (KING)
  38. PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII)
  39. PT Hotel Fitra International Tbk (FITT)
  40. PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI)
  41. PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI)
  42. PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI)
  43. PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT)
  44. PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR)
  45. PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP)
  46. PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY)
  47. PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO)
  48. PT Global Digital Niaga Tbk (BELI)
  49. PT Bank Mega Tbk (MEGA)
  50. PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS)
  51. PT Multipolar Technology Tbk (MLPT)
  52. PT Siantar Top Tbk (STTP)
  53. PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN)
  54. PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI)
  55. PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO)
  56. PT FAP Agri Tbk (FAPA)
  57. PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE)
  58. PT Soho Global Health Tbk (SOHO)
  59. PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI)
  60. PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN)
  61. PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA)
  62. PT Bank Permata Tbk (BNLI)
  63. PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ)
  64. PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA)
  65. PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET)
  66. PT Bayan Resources Tbk (BYAN)
  67. PT DCI Indonesia Tbk (DCII)
  68. PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM)
  69. PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG)
  70. PT Kota Satu Properti Tbk (SATU)
  71. PT Mahkota Group Tbk (MGRO)
  72. PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI)
  73. PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA)
  74. PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS)
  75. PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK)
  76. PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO)
  77. PT Ifishdeco Tbk (IFSH)
  78. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
  79. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
  80. PT Samator Indo Gas Tbk (AGII)
  81. PT Tifico Fiber Indonesia Tbk (TFCO)
  82. PT MD Entertainment Tbk (FILM)  
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri