Asing Terus Jual Saham RI, Analis: Investor Domestik Bukan Benteng Terakhir

Katadata/diolah
Investor asing tinggalkan bursa saham Indonesia
2/11/2026, 12.34 WIB

Arus dana asing terus keluar dari pasar saham Indonesia. Tercatat, investor asing membukukan net sell atau jual bersih sebesar Rp 4,2 triliun dalam sepekan terakhir. Sementara itu, akumulasi jual bersih asing sepanjang tahun berjalan telah mencapai sekitar Rp 127 triliun.

Analis sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai derasnya aksi jual investor asing menjadi sinyal adanya persoalan kepercayaan terhadap transparansi, tata kelola, dan kredibilitas pengawasan pasar modal Indonesia.

Menurut dia, investor asing tidak hanya mempertimbangkan prospek pertumbuhan ekonomi dan kinerja emiten. Mereka juga memperhatikan kewajaran pembentukan harga saham, transparansi kepemilikan, serta kemampuan regulator memastikan pasar berjalan secara adil.

"Ketika pertanyaan mendasar tersebut belum terjawab, maka fundamental ekonomi yang baik sekalipun tidak cukup untuk menahan keluarnya modal," ujar Hendra kepada Katadata, Senin (2/11).

Padahal, menurut dia, Indonesia memiliki sejumlah penopang fundamental ekonomi, mulai dari konsumsi domestik, potensi pertumbuhan ekonomi, kekayaan sumber daya alam, hingga sektor perbankan. Sejumlah emiten juga masih mencatatkan kinerja keuangan yang solid.

Hendra mengingatkan bahwa fundamental perusahaan dan kredibilitas pasar merupakan dua hal berbeda. Kinerja emiten yang baik tidak otomatis membuat pasar saham menarik apabila investor masih meragukan tata kelola dan mekanisme pembentukan harga.

Investor Domestik Belum Tentu Bisa Gantikan Asing

Di tengah berlanjutnya aksi jual investor asing, Hendra menilai basis investor domestik sebenarnya memiliki potensi besar untuk menopang stabilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Meski demikian, investor lokal belum tentu mampu sepenuhnya menggantikan kontribusi asing, terutama dalam hal likuiditas, kedalaman pasar, pembentukan harga, dan aliran modal berskala besar.

Menurut dia, kemampuan investor domestik menyerap tekanan jual asing juga tidak boleh dijadikan alasan bagi regulator untuk mengabaikan persoalan yang mendorong keluarnya modal asing.

Bahkan, apabila investor dalam negeri terus didorong membeli saham ketika persoalan tata kelola belum terselesaikan, terdapat risiko beban krisis kepercayaan justru berpindah kepada masyarakat.

"Investor domestik harus diperkuat melalui pasar yang sehat dan kredibel, bukan dijadikan benteng terakhir untuk menahan tekanan jual akibat kelemahan pengawasan," katanya.

Karena itu, Hendra menilai penguatan investor domestik perlu diiringi pembenahan kualitas pasar modal. Hal ini mencakup transparansi kepemilikan saham, keterbukaan informasi, pengawasan transaksi, serta penegakan aturan secara konsisten.

Kritik Wacana Indonesia Bikin Rating Sendiri

Selain menyoroti aksi jual asing, Hendra juga menanggapi wacana Indonesia membangun rating atau indeks acuan pasar modal sendiri di tengah evaluasi lembaga indeks global seperti MSCI, FTSE Russell, dan S&P.

Menurut dia, pembentukan indeks nasional tidak akan menyelesaikan persoalan mendasar yang tengah dihadapi pasar modal Indonesia. Pasalnya, kredibilitas indeks internasional terbentuk dari independensi, metodologi yang transparan, serta konsistensi penerapan standar.

Lembaga indeks global tersebut juga menjadi salah satu rujukan investor institusi internasional dalam menentukan alokasi investasi.

Hendra menilai, apabila regulator merespons penilaian negatif lembaga independen dengan membangun rating sendiri, langkah tersebut berisiko menimbulkan kesan bahwa Indonesia lebih sibuk memperdebatkan pihak yang memberikan penilaian dibandingkan memperbaiki kondisi pasar yang dinilai.

"Rating tidak bisa menggantikan reformasi, dan label positif tidak akan berarti apabila persoalan transparansi serta investabilitas masih belum terselesaikan," ujarnya.

Ia menambahkan, regulator perlu melakukan evaluasi secara terbuka terhadap efektivitas pengawasan selama ini. Sejumlah persoalan seperti transparansi kepemilikan saham, keterbatasan free float, dugaan transaksi terkoordinasi, dan pembentukan harga yang tidak wajar perlu menjadi perhatian.

IHSG Dibayangi Evaluasi MSCI November

Lebih lanjut, Hendra memperkirakan IHSG masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek menjelang evaluasi MSCI pada November.

Ia menyebut level support penting IHSG berada di 4.980, sedangkan resistance berada di kisaran 5.200. Apabila level support 4.980 ditembus, risiko koreksi lanjutan semakin terbuka.

Sebaliknya, peluang penguatan menuju 5.200 perlu didukung perbaikan volume transaksi, stabilitas nilai tukar rupiah, serta meredanya tekanan jual investor asing.

Menurut Hendra, penguatan IHSG yang hanya ditopang sentimen sesaat berisiko menjadi technical rebound dan belum mencerminkan pemulihan kepercayaan investor. Karena itu, ia menilai pemulihan pasar modal Indonesia membutuhkan pembenahan struktural, mulai dari penguatan transparansi kepemilikan saham, peningkatan kualitas pengawasan transaksi, hingga penegakan hukum dan perlindungan investor.

"Kita tidak membutuhkan rating yang membuat Indonesia terlihat baik di atas kertas, tetapi pasar yang memang layak mendapatkan penilaian baik. Sebab, kepercayaan investor tidak bisa dibangun melalui narasi, apalagi rating yang dibuat sendiri," kata Hendra.


 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah