Harga Bergejolak, Bagaimana Prospek Saham Emiten Emas ANTM hingga MDKA di BEI?

ANTARA FOTO/Yudi Manar/tom.
Pekerja merapikan emas perhiasan di Toko Mas Medan, Sumatera Utara, Selasa (22/4/2025). Menurut pedagang emas sejak tiga pekan terakhir penjualan emas perhiasan mengalami peningkatan 35-45 persen dibandingkan tahun lalu dengan omzet penjualan mencapai Rp35 juta sampai Rp45 juta per hari.
5/11/2026, 10.07 WIB

Harga emas dunia masih bergerak volatil setelah mengalami koreksi cukup dalam sepanjang Oktober 2026. Harga emas sempat tercatat rebound pada perdagangan Rabu (4/11). Lalu bagaimana prospek harga emas dan prospek saham emiten emas ke depan?

Berdasarkan data Trading Economics pada Kamis (5/11), harga emas tercatat sebesar US$ 4.090,8 per troy ounce. Angka tersebut turun 644 poin atau 13,60% dibandingkan posisi enam bulan sebelumnya.

Secara bulanan, harga emas juga terkoreksi 1,65%. Namun, secara tahunan harganya masih mencatatkan kenaikan 2,98%. Trading Economics memperkirakan harga emas akan berada di level US$ 3.815,16 per troy ounce pada kuartal IV 2026.

Meski demikian, harga emas sempat menunjukkan penguatan signifikan pada perdagangan Rabu. Berdasarkan data Stockbit, harga emas spot naik hingga 2,5% ke kisaran US$ 4.030 per troy ounce. Kenaikan intraday tersebut menjadi yang tertinggi sejak Agustus 2026.

Harga emas juga telah rebound 3,9% dari level terendah sepanjang 2026, yakni US$ 3.870 per troy ounce pada 30 Oktober 2026. Namun, harga emas masih terkoreksi 6,9% secara year to date (YTD) dan berada 28% di bawah rekor tertingginya sebesar US$ 5.595 per troy ounce pada 28 Januari 2026.

“Kenaikan harga emas terjadi seiring pelemahan dolar AS dan penurunan yield obligasi pemerintah AS, setelah Partai Demokrat yang memenangkan kendali atas Kongres AS yang terdiri atas DPR dan Senat AS dalam pemilu midterm,” tulis Stockbit.

Pasar menilai penguasaan Kongres oleh Demokrat berpotensi membatasi agenda fiskal Presiden Donald Trump sehingga mengurangi kebutuhan pemerintah AS untuk menerbitkan utang baru. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat turun 7 basis poin ke level 4,89%.

Pada saat bersamaan, indeks dolar AS (DXY) melemah ke level terendah dalam satu bulan di 101,41. Kekhawatiran bahwa pengetatan regulasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi AS turut menekan dolar.

“Yield yang rendah menguntungkan emas sebagai non yielding asset, sementara dolar AS yang lemah membuat emas lebih terjangkau,” tulisnya lagi.

Trading Economics juga mencatat harga emas naik sekitar 2,6% ke level US$ 4.035 per troy ounce pada Rabu. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak pertengahan Agustus.

Investor kini menantikan rilis data tenaga kerja nonpertanian AS atau nonfarm payrolls (NFP) untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter The Fed. Pada pertemuan Oktober 2026, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunganya.

Di sisi lain, tekanan inflasi masih menjadi perhatian pasar seiring harga minyak yang bertahan tinggi. Pelaku pasar juga mencermati perkembangan perang AS-Israel dengan Iran. 

Berdasarkan data CME FedWatch Tool yang dikutip Trading Economics, pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mencapai 79%.

Sebelumnya, harga emas turun hampir 7% sepanjang Oktober dan sempat jatuh di bawah US$4.000 per troy ounce pada akhir bulan. Koreksi tersebut terjadi di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed akibat inflasi AS yang kembali memanas serta kenaikan harga minyak Brent yang sempat berada di kisaran US$117 per barel.

Prospek Saham Emiten Emas

Pergerakan harga emas turut memengaruhi saham sejumlah emiten tambang emas di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada perdagangan Rabu (4/11), mayoritas saham emiten yang terkait dengan komoditas emas bergerak menguat seiring rebound harga emas dunia.

Saham Aneka Tambang (ANTM) melonjak 8,33%. Berikutnya, saham Archi Indonesia (ARCI) menguat 6,75%, J Resources Asia Pasifik (PSAB) naik 3,57%, dan Merdeka Gold Resources (EMAS) bertambah 2,91%.

Namun, penguatan tidak terjadi pada seluruh saham. Saham Bumi Resources Minerals (BRMS) justru terkoreksi 6,67%. Sementara itu, Amman Mineral Internasional (AMMN) melemah 1,46% dan Merdeka Copper Gold (MDKA) turun 0,27%. Pelemahan AMMN dan MDKA sejalan dengan penurunan harga tembaga yang mencapai 1,5% pada hari yang sama.

Stockbit menilai prospek harga emas ke depan masih akan bergerak volatil dan bergantung pada dua faktor utama. Pertama, perkembangan data inflasi AS dan arah kebijakan suku bunga The Fed, terutama setelah bank sentral tersebut mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober.

Kedua, perkembangan negosiasi antara AS dan Iran. Harga minyak Brent memang telah turun dari kisaran US$ 117 per barel pada akhir Oktober menjadi sekitar US$ 104 per barel. Namun, ancaman serangan AS terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu masih menjadi risiko bagi pasar.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah