Rupiah Berpeluang Menguat di Tengah Tekanan Data Inflasi terhadap Dolar AS

ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/YU
Warga memperlihatkan uang rupiah saat layanan penukaran uang rupiah layak edar pada mobil kas keliling Bank Indonesia (BI) di Pasar Tradisional Setonobetek, Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (18/9/2025).
Penulis: Rahayu Subekti
29/9/2025, 09.33 WIB

Nilai tukar rupiah pada hari ini, Senin (29/9)diproyeksikan berpeluang menguat terhadap dolar AS. Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan hal ini dipicu oleh kondisi data ekonomi di Amerika Serikat yang menekan dolar.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang terkoreksi setelah data inflasi AS yang sesuai dengan perkiraan,” kata Lukman kepada Katadata.co.id, Senin (29/9).

Data Inflasi AS pada Agustus 2025 menunjukkan harga Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 2,9% secara tahunan atau year on year (yoy). Menurut Lukman, data ini membuka peluang bagi Bank Sentral AS alias The Fed untuk memangkas suku bunga.

Lukman menambahkan, indeks dolar AS juga tertekan oleh sentimen konsumen yang di luar dugaan direvisi lebih rendah.

“Rupiah akan berada di level Rp 16.650 per dolar AS hingga Rp 16.750 per dolar AS,” ujar Lukman.

Berdasarkan data Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka menguat pada level Rp 16.651 per dolar AS. Level ini menguat 86,5 poin atau 0,52% dari penutupan sebelumnya.

Si sisi lain, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengungkapkan masih ada peluang pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini.

“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di level  Rp 16.730 per dolar AS hingga Rp 16.800 per dolar AS,” kata Ibrahim.

Ibrahim menjelaskan, kebijakan Presiden AS Donald Trump masih akan membayangi pergerakan dolar AS, termasuk nilai tukar dengan rupiah. Trump juga sudah mengulangi seruannya untuk menurunkan suku bunga AS meminta The Fed untuk memangkas suku bunga menjadi 2%.

“Ia juga terus menyerang Powell, yang sebagian besar mengabaikan seruan presiden untuk menurunkan suku bunga,” ujar Ibrahim.

Sementara dari sisi geopolitik, serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia mendorong Moskow untuk membatasi ekspor bahan bakar. Hal ini hampir memangkas produksi minyak mentah.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti