Lompatan Kripto Usai Anjlok Minggu Lalu, Bitcoin Naik 3% Saat Wall Street Rontok
Setelah sempat anjlok pada akhir pekan lalu, harga aset kripto pada awal pekan ini mulai berbalik menguat. Berdasarkan aplikasi trading pukul 12.17 WIB, Bitcoin kini naik 3% ke Rp 1,92 miliar dengan kapitalisasi pasarnya mencapai Rp 37,90 triliun. Kemudian Ethereum naik 7,35% ke Rp 69,60 juta, BNB naik 12,11% ke Rp 21,63 juta, dan Solana naik 6,38% ke Rp 3,25 juta.
Mengutip Reuters, sebelumnya Bitcoin turun 8,4% menjadi US$ 104.782 pada Jumat (waktu AS) usai memanasnya konflik dagang Presiden AS Donald Trump dengan Cina.Sementara itu, Ethereum, mata uang kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar, juga melemah 5,8% ke level US $3.637.
Trump mengumumkan rencana untuk menaikkan tarif impor barang-barang asal China hingga 100% dan memberlakukan kontrol ekspor terhadap “semua perangkat lunak kritis.” Langkah tersebut menjadi respons atas kebijakan Cina yang membatasi ekspor mineral tanah jarang.
Ketegangan dagang tersebut mengguncang pasar keuangan dunia, dengan indeks S&P 500 tercatat turun lebih dari 2% pada perdagangan Jumat.
Indeks Wall Street Rontok
Berbeda dengan kripto, Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) ditutup anjlok pada Jumat (10/10) setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif terhadap Cina. Trump menuding Beijing bersikap bermusuhan lantaran menerapkan pembatasan pada ekspor logam tanah jarang Menjelang akhir sesi, tekanan jual meningkat tajam.
Dow Jones Industrial Average merosot 878,82 poin atau 1,9% ke posisi 45.479,60, S&P 500 turun 2,71% menjadi 6.552,51. Lalu Nasdaq Composite anjlok 3,56% ke 22.204,43. Koreksi luas ini menjadi yang terdalam sejak 10 April. Padahal, sebelum pernyataan Trump, pasar sempat bergerak positif dengan Nasdaq mencetak rekor tertinggi intraday baru. Trump menulis di platform Truth Social bahwa ia seharusnya bertemu Presiden Cina Xi Jinping dalam dua minggu mendatang pada pertemuan APEC di Korea Selatan.
Namun kini, dia menilai pertemuan itu tidak lagi diperlukan. Menurutnya, salah satu langkah yang sedang dipertimbangkan adalah kenaikan besar-besaran tarif terhadap produk asal Cina. Trump juga menuding Beijing “menjerat dunia” melalui kendali atas pasokan logam tanah jarang.
Di samping itu Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, mengutip analis JPMorgan terhadap Bitcoin berbasiskan metode perbandingan volatilitas terhadap emas, BTC diprediksi masih memiliki ruang kenaikan lanjutan sekitar 40% menuju US$ 165.000.
“Akan tetapi, reli agresif tanpa dukungan fundamental yang kuat berpotensi memicu koreksi tajam. Jika dorongan aliran dana melemah, atau jika shutdown AS berkepanjangan hingga memicu tekanan fiskal dan sosial, dan inflasi naik lebih tinggi dari ekspektasi, pasar bisa bergeser ke mode risk-off. Dalam skenario seperti itu, level support psikologis di US$ 100.000 akan menjadi area harga yang krusial,” kata Fahmi dalam analisisnya, dikutip Senin (13/10).
Sementara di saham AS, positifnya kinerja kuartal ketiga 2025 yang positif dari perusahaan-perusahaan di sektor-sektor strategis seperti Teknologi dapat meningkatkan kepercayaan diri pasar di tengah valuasi yang sudah relatif tinggi secara rata-rata saat ini.
”Sementara kekhawatiran terhadap pelemahan ekonomi dapat semakin mereda dengan proyeksi penurunan suku bunga, kinerja keuangan perusahaan yang positif dapat meningkatkan minat investor untuk mengambil risiko lebih dengan berinvestasi pada saham-saham dengan potensi pertumbuhan yang besar (high-growth stocks),” lanjut Fahmi.