Generasi muda sering dihadapkan pada pilihan sulit antara menikmati hidup sekarang atau menjaga kondisi finansial tetap waras. Muncul pertanyaan klasik: strategi apa sih yang paling masuk akal untuk Gen Z menata gaya hidup, berinvestasi, dan tetap punya tabungan masa depan?
Head of Mandiri Institute, Andre Simangunsong menjelaskan pola investasi setiap generasi memang berveda. Berdasarkan Mandiri Spending Index, yang memetakan kebiasaan belanja lintas generasi, terlihat jelas tiap generasi punya cara sendiri memaknai uang dan prioritas.
Perubahan itu muncul di tengah ekonomi yang meningkat. Pertumbuhan PDB Indonesia yang sempat 4,8% pada kuartal I kembali menembus level di atas 5% sejak kuartal II hingga kuartal III 2025. Andre memproyeksikan ekonomi tahun ini bisa ditutup di kisaran 5,07%–5,10%, disokong konsumsi rumah tangga yang kini banyak digerakkan Gen Z.
Rumah Bukan Pilihan Investasi Gen Z
Namun daya beli kuat tidak berarti mereka mengejar rumah sebagai tujuan hidup. Andre mencontohkan anak muda di timnya, yang terdiri dari lima hingga enam orang Gen Z, mengaku tidak punya niat membeli rumah. “Mereka bilang, buat apa punya rumah?” ujarnya dalam acara Financial Healing yang digelar Katadata di Jakarta, Jumat (14/11).
Menurutnya, banyak Gen Z melihat pengalaman generasi sebelumnya sebagai peringatan keras. Baby boomers masih dapat membeli tanah dan properti ketika harganya relatif jinak. “Dulu mungkin gaji orang tua kita cuma Rp 500 ribu atau Rp 1 juta. Tapi dengan Rp 1 juta, bisa membeli 100 meter tanah. Sekarang enggak begitu,” kata Andre.
Baby boomers pun umumnya punya aset lebih dari satu, mulai dari rumah, tanah, sampai apartemen.Kondisi saat ini berbeda jauh. Dengan gaji Rp 5–8 juta sebulan di Jakarta, membeli tanah atau membangun rumah sudah makin tidak realistis.
Itu sebabnya Gen Z lebih memilih membangun fleksibilitas finansial lewat instrumen yang lebih likuid dan relevan dengan gaya hidup mereka.
Data Mandiri juga menunjukkan arah uang mengalir dari tiap generasi. Untuk Gen Z, milenial, dan Gen X, kategori pengeluaran terbesar adalah restoran, dengan porsi Gen Z menembus lebih dari 20%. Sementara baby boomers masih memprioritaskan kebutuhan rumah tangga.
Meski pola belanjanya beda, Andre tetap memberi patokan dasar: dari total pendapatan, minimal 20–30% perlu ditabung. Dari 70% sisanya yang dipakai untuk kebutuhan pokok, sekitar 50% idealnya dialokasikan untuk mencicil atau membeli aset bernilai seperti investasi, emas, atau reksa dana.
Adapun 20% terakhir boleh dipakai untuk hiburan, termasuk makan di restoran atau memberi diri sendiri hadiah kecil.