Cerita Figur Publik Kelola Investasi, dari Fokus di Saham hingga Rugi di Kripto
Setiap orang punya cara berbeda dalam membangun ketahanan finansial. Ada yang mulai berinvestasi sejak muda hingga mencapai kebebasan finansial (financial freedom) di usia kepala tiga. Ada pula yang memilih investasi hijau, hingga melakukan diversifikasi aset dan bisnis.
Investasi adalah cara menempatkan modal atau aset pada instrumen tertentu dengan harapan dapat memberi keuntungan pada masa mendatang. Pilihannya pun beragam, mulai dari emas, saham obligasi hingga reksa dana.
Bagi sebagian orang, investasi bukan semata-mata untuk mengejar keuntungan. Investasi juga menjadi cara untuk menjaga nilai aset dari gerusan inflasi, mempersiapkan dana pensiun sekaligus membangun sumber penghasilan pasif.
Investasi pun bukan hanya milik konglomerat atau pengusaha yang ingin memperbesar bisnis. Siapa pun dapat berinvestasi dengan menyesuaikan instrumen dan profil risiko serta tujuan keuangan masing-masing.
Sejumlah figur publik punya cerita investasi yang menarik. Misalnya Raditya Dika yang mulai membangun investasi sejak muda hingga mencapai financial freedom di usia kepala tiga. Sementara Luna Maya memilih melakukan diversifikasi ke berbagai instrumen dan bisnis, termasuk investasi berkelanjutan.
Di sisi lain, Lo Kheng Hong dikenal sebagai investor kawakan yang konsisten mengoleksi saham hingga mendapat julukan Warren Buffett-nya Indonesia. Ada pula cerita pelakon FTV Lutfi Agizal yang sempat rugi miliaran rupiah di kripto.
Lantas, seperti apa perjalanan investasi para pesohor itu dan bagaimana cara mereka mengelola aset masing-masing?
Raditya Dika Capai Financial Freedom di Usia Kepala 3
Raditya Dika punya cara sendiri untuk mencapai kebebasan finansial atau financial freedom di usia muda. Ia menggunakan konsep yang dikenal sebagai 4% rule.
Menurut penulis buku Marmut Merah Jambu itu, seseorang dapat dikatakan mencapai financial freedom apabila memiliki dana yang ditempatkan dalam instrumen investasi dalam jumlah cukup. Dana tersebut kemudian dapat ditarik sekitar 4% setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa membuat simpanan habis sepanjang hidup.
“Teknik itu menurutku namanya 4% rule. Kalau kamu punya uang sebanyak itu, kamu bisa tarik 4% setahun, kamu udah financially free sampai mati,” kata Radit dalam tayangan YouTube Agatha Chelsea bertajuk Raditya Dika: Pelit atau Minimalis? Gen Z Susah Financial Freedom, dikutip pada Jumat (2/10).
Radit mengaku sudah mengenal konsep tersebut sejak masih duduk di bangku kuliah. Karena itu, ketika mulai memperoleh penghasilan dari menulis buku hingga menjadi sutradara film, ia tidak hanya menggunakan uangnya untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga menyisihkan sebagian pendapatan untuk investasi jangka panjang.
Pria yang belakangan aktif menjadi penyiar siniar alias podcaster itu mengatakan, setiap mendapatkan penghasilan tambahan termasuk bonus dari film yang ditanganinya, sebagian uang tersebut dialihkan ke dana pensiun dan instrumen investasi.
“Jadi dari muda dapat bonus kan? Kalau film, sebagai sutradara biasanya kita ada bonusnya itu. Film laku, bonus gede. Nah selisihnya itu aku taruh di instrumen investasi kayak saham dan lain-lain,” ujarnya.
Menurut Radit, langkah pertama untuk mencapai financial freedom bukan memilih instrumen investasi tapi mengetahui kebutuhan hidup sendiri. Seseorang perlu menghitung berapa besar pengeluaran setiap bulan dan tahun untuk mengetahui jumlah dana yang dibutuhkan ketika tidak lagi aktif bekerja.
“Banyak orang enggak tahu sebulan mereka keluar uang berapa. Kalau enggak tahu, gimana bisa ngitung dana pensiun?” kata dia.
Setelah mengetahui kebutuhan pengeluaran, barulah seseorang dapat menentukan strategi investasi dan instrumen yang sesuai. Meski bukan penasihat keuangan, Radit mengingatkan setiap orang perlu menyesuaikan investasi dengan profil risiko masing-masing.
Dia juga menilai masih banyak anak muda yang keliru memahami fungsi investasi. Menurutnya, investasi bukan jalan utama untuk menjadi kaya, melainkan alat untuk mencapai tujuan keuangan.
Bagi Radit, pekerjaan dan kemampuan menghasilkan pendapatan tetap menjadi fondasi utama dalam membangun kondisi finansial. Karena itu, ia menilai salah satu kunci mencapai financial freedom adalah memahami nilai uang sekaligus meningkatkan nilai diri.
Diversifikasi Bisnis Ala Luna Maya
Lama berkecimpung di dunia entertainment tak membuat aktris Luna Maya lupa untuk menyisihkan penghasilannya. Kepada Katadata, Luna mengungkapkan strategi investasi yang telah lama dilakukannya.
Aktris yang dikenal lewat perannya sebagai Suzanna dalam film Suzzanna: Malam Jumat Kliwon itu tidak hanya menempatkan kekayaannya pada satu instrumen investasi. Luna memiliki sederet investasi, mulai dari reksa dana, saham, obligasi hingga emas. Di luar instrumen pasar keuangan, dia juga berinvestasi hijau di sektor startup pengelolaan sampah.
Luna mengatakan dirinya lebih senang menyebut aktivitas investasi tersebut sebagai “menabung”. Menurut dia, dana yang dimilikinya dialokasikan ke sejumlah instrumen dengan porsi yang berbeda.
“Presentasi terbesar aku bilang menabungnya lah ya. Itu di reksa dana, saham, baru obligasi dan emas,” kata Luna saat ditemui setelah menjadi pembicara dalam acara Katadata SAFE 2026, Rabu (16/9).
Dari sejumlah instrumen tersebut, reksa dana dan saham menjadi bagian terbesar dalam portofolio Luna. Setelah itu, dia menempatkan dananya pada obligasi dan emas.
Menabung emas sudah dilakukan Luna sejak dahulu. Dia mengatakan dirinya mulai menabung emas jauh sebelum harga logam mulia ini melambung seperti saat ini. Namun, meski harga emas yang dimilikinya telah meningkat, dia memilih tetap menyimpannya.
“Emas itu aku punya dari zaman dulu, dari zaman harganya belum seperti sekarang. Jadi ya sudah, disimpan aja,” ujarnya.
Cerita Warren Buffett-nya Indonesia
Julukan “Warren Buffett-nya Indonesia” tidak diperoleh Lo Kheng Hong dalam sehari, sebulan, atau setahun. Lelaki yang mulai menjadi investor saham sejak 1989 itu membangun pengetahuan dan portofolio investasi selama puluhan tahun.
Lo punya cerita menarik dari perjalanan investasinya. Pada 1998, saat Indonesia mengalami kejatuhan pasar atau market crash, Lo tidak panik dan buru-buru menjual saham-saham yang dia punya. Lo justru melihat itu sebagai hujan emas, peluang membeli saham bagus dengan harga murah.
Strategi itu disebutvalue investing , yaitu mencari perusahaan yang dinilai memiliki fundamental baik tetapi harga sahamnya masih berada di bawah nilai wajarnya. Saham tersebut kemudian dipertahankan untuk jangka panjang, terutama jika perusahaan terus bertumbuh dan menghasilkan laba.
Menurut Lo, investasi saham dapat menjadi sumber kekayaan tanpa harus membuat investor terus-menerus bekerja. Syaratnya, investor perlu memilih perusahaan yang memiliki prospek pertumbuhan dan kemampuan menghasilkan laba, kemudian membeli sahamnya pada harga yang tepat.
Karier Lo dimulai sebagai staf tata usaha di Overseas Express Bank. Pekerjaannya saat itu antara lain menggandakan berbagai laporan keuangan bank. Alih-alih sekadar menyelesaikan pekerjaan, Lo memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membaca dan mempelajari laporan keuangan.
Dari sana, ketertarikannya terhadap pasar modal mulai tumbuh. Ia kemudian mulai membeli saham sembari tetap bekerja.
Setelah sekitar 10 tahun bekerja di Overseas Express Bank, Lo pindah ke Bank Ekonomi pada 1990. Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi kepala cabang. Posisi tersebut membuat pendapatannya meningkat dan memberinya ruang lebih besar untuk mengalokasikan dana ke investasi saham.
Namun, perjalanan investasinya tidak selalu mulus. Saham pertama yang dibelinya pada 1989 adalah PT Gajah Surya Multi Finance Tbk. Lo akhirnya harus menjual saham tersebut dengan harga lebih rendah setelah nilainya turun.
Pengalaman itu menjadi salah satu pelajaran penting dalam perjalanan investasinya. Lo kemudian semakin serius mempelajari pasar modal, laporan keuangan dan karakteristik perusahaan sebelum membeli saham.
Pada 1996, ketika berusia 37 tahun, Lo memutuskan pensiun dini dari dunia perbankan. Sejak saat itu, ia memilih menekuni investasi saham secara penuh.
Lutfi Agizal Rugi di Kripto
Investasi tidak selalu berakhir dengan keuntungan karena setiap instrumen memiliki risiko. Pengalaman tersebut dirasakan oleh artis Lutfi Agizal yang mengaku mengalami kerugian hingga miliaran rupiah dari investasi kripto.
Mengutip tayangan YouTube TransTV Official berjudul Lutfi Agizal Rugi 5M Karena Investasi Crypto, Lutfi mengatakan telah berinvestasi di aset kripto sejak 2020. Namun, ia tidak menempatkan seluruh dananya di satu instrumen. Selain kripto, ia juga memiliki investasi di saham dan emas.
“Prinsip investasi itu don't put your investment in one basket, harus disebar. Saya juga ada di saham dan di emas. Di kripto memang porsinya lebih banyak kemarin,” ujar Lutfi.
Kerugian besar mulai dialaminya ketika pasar kripto mengalami gejolak. Lutfi mengungkapkan, penurunan pasar tersebut membuatnya mengalami rugi awal sekitar Rp 1,9 miliar. Meskipun beritu, sebelumnya ia juga sempat memperoleh keuntungan dari investasi serupa.
Menurut Lutfi, pengalaman tersebut membuatnya semakin menyadari pentingnya mengatur rasio risiko dan tidak menempatkan seluruh modal pada satu instrumen. “Enggak mungkin dong kita semua all in dan semuanya habis. Enggak mungkin begitu. Di semua sektor juga saat ini kan lagi terdampak,” katanya.
Pemain FTV itu mengungkapkan kerugian floating dari investasi kriptonya secara keseluruhan sempat mendekati Rp 5 miliar. Nilai tersebut mencakup investasi Bitcoin hingga aktivitas perdagangan berjangka atau futures. Sebagian posisi bahkan kena likuidasi dan lainnya tercatat sebagai kerugian yang belum direalisasikan.
Lutfi mengatakan masih membuka kemungkinan kerugiannya berbalik ketika pasar kembali pulih atau rebound. Ia pun mengaku memiliki kebiasaan untuk terus memutar kembali keuntungan yang diperoleh ke dalam investasi dan belum merealisasikannya.
“Saya tipe orang yang ketika untung saya gulung terus, saya gulung terus di situ. Betul, belum waktunya saya realisasi. Tapi kemarin didewasakan oleh market sampai ambil Rp 5 miliar,” ujarnya.