Peringati Bulan Inklusi Keuangan 2026, BRI Dorong Kebiasaan Finansial yang Sehat
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus mendorong peningkatan literasi keuangan masyarakat di tengah semakin luasnya penggunaan layanan keuangan digital. Upaya tersebut dilakukan melalui edukasi yang tidak hanya menekankan akses terhadap layanan keuangan, tetapi juga kemampuan masyarakat memahami risiko dan menggunakan layanan keuangan secara bijak.
Komitmen tersebut turut tercermin dalam keterlibatan BRI pada rangkaian acara Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 melalui kegiatan Katadata Financial Healing x Wayang Kuliterasi bertajuk Pandawa Kalah Judol di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Jakarta, Sabtu (3/10).
BIK merupakan agenda nasional tahunan yang diselenggarakan setiap Oktober oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama kementerian/lembaga dan pelaku usaha jasa keuangan. Agenda ini menjadi momentum untuk memperluas akses keuangan sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan jasa keuangan
BRI menilai peningkatan literasi keuangan berperan penting dalam memperluas inklusi keuangan. Semakin mudah masyarakat mengakses layanan keuangan, semakin penting pula pemahaman tentang manfaat, risiko, serta cara menggunakan produk dan layanan tersebut secara bijak dan bertanggung jawab.
Perluasan akses keuangan perlu diikuti dengan peningkatan pemahaman masyarakat. BRI ingin masyarakat tidak hanya semakin mudah menggunakan layanan keuangan, tetapi juga mampu mengambil keputusan finansial dengan mempertimbangkan kebutuhan, kemampuan, keamanan, dan tujuan keuangan masing-masing.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen sekaligus Anggota Dewan Komisioner OJK Dicky Kartikoyono yang memberikan pidato pembuka pada acara BIK 2026, menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi risiko di ekosistem keuangan digital.
Menurutnya, masyarakat, khususnya generasi muda yang semakin aktif menggunakan layanan digital, perlu memiliki pengetahuan dan kesadaran agar dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi keuangan.
“Semakin kita terdorong untuk melakukan apa yang diminta oleh sebuah pesan, semakin harus berhati-hati. Semakin kita terdorong untuk klik, semakin besar potensinya itu adalah scam,” ujar Dicky.
Ia juga mengungkapkan bahwa berdasarkan data yang diketahui OJK, kerugian akibat scam di ekosistem digital mencapai sekitar Rp12 triliun dalam dua tahun, meski angka tersebut dinilai masih under reported. Kondisi itu, menurut Dicky, menunjukkan pentingnya langkah perlindungan konsumen yang lebih proaktif, tidak hanya menangani kerugian setelah terjadi.
Salah satu pendekatan yang tengah didorong OJK adalah pengembangan anti-scam apps yang dapat terhubung dengan ekosistem keuangan digital. Dicky menjelaskan, konsep tersebut diarahkan agar konsumen dapat melakukan pengecekan sebelum bertransaksi, termasuk mengetahui legalitas perusahaan maupun validitas rekening tujuan.
“Check before payment. Check before transfer. Ini nanti kita campaign bareng-bareng,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Editor in Chief Katadata Yura Syahrul mengatakan, momentum BIK menjadi kesempatan untuk terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat.
“Dengan memahami dan meningkatkan kemampuan berkaitan dengan keuangan, termasuk bagaimana menggunakan dan memanfaatkan instrumen keuangan, kita akan lebih dapat mengelola keuangan, tidak hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan,” ujar Yura.
Ia menambahkan, pemahaman terhadap berbagai instrumen keuangan juga penting, terutama bagi generasi muda, agar masyarakat dapat mengakses dan memanfaatkannya secara optimal.
BRI Dorong Kebiasaan Finansial yang Sehat
Hal ini semakin relevan di tengah akselerasi digitalisasi layanan keuangan. BRI terus mengembangkan ekosistem layanan yang memungkinkan masyarakat mengakses berbagai kebutuhan finansial melalui kanal digital. Per Juni 2026, BRImo telah digunakan oleh 49,7 juta pengguna dengan 3,32 miliar transaksi finansial dan volume transaksi mencapai Rp4.166 triliun.
Di sisi lain, semakin luasnya pemanfaatan layanan keuangan digital juga membuat pemahaman terhadap risiko menjadi penting. Masyarakat perlu mengenali berbagai risiko dalam aktivitas finansial digital, mulai dari penipuan dan penyalahgunaan data pribadi hingga aktivitas keuangan ilegal seperti judi online.
Pesan tersebut juga menjadi inti dalam pertunjukan “Pandawa Kalah Judol” bersama Dalang Ki Amar Pradopo. Melalui cerita pewayangan, isu mengenai risiko judol disampaikan dalam format budaya yang lebih dekat dengan masyarakat.
Bagi BRI, edukasi tersebut tidak berhenti pada kemampuan mengenali risiko, tetapi juga mendorong terbentuknya kebiasaan finansial yang sehat. Masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk membedakan kebutuhan dan keinginan, menjaga keamanan informasi keuangan, serta mempertimbangkan konsekuensi sebelum melakukan transaksi atau mengambil keputusan finansial.
Literasi keuangan berkaitan erat dengan bagaimana masyarakat memahami dan menggunakan produk keuangan dalam kehidupan sehari-hari. Momentum BIK diharapkan dapat mendorong kesadaran untuk bertransaksi secara aman sekaligus mengelola keuangan dengan lebih baik sesuai kebutuhan dan tujuan masing-masing.