Goldman Sachs: Yen Jepang Kian Efektif Lindungi Portofolio dari Guncangan AI
Bank investasi global, Goldman Sachs menilai yen Jepang kini menjadi instrumen lindung nilai (hedging) yang lebih efektif terhadap guncangan pasar akibat perkembangan kecerdasan buatan.
Mengutip Bloomberg, Goldman Sachs menyebut, perubahan kebijakan di Jepang mengurangi risiko pelemahan tajam yen ketika imbal hasil (yield) global meningkat.
"Yen kini tampak sebagai instrumen lindung nilai yang lebih menarik bagi portofolio yang bersifat pro-siklikal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, meskipun kondisi global saat ini masih cenderung mendorong pelemahan lebih lanjut pada yen," demikian penjelasan para analis Goldman Sahcsh, termasuk Kamakshya Trivedi, dalam sebuah catatan akhir pekan lalu.
Pandangan ini muncul setelah yen kembali menunjukkan karakteristiknya sebagai aset aman atau safe haven selama aksi jual saham teknologi global pekan lalu. Yen melonjak 0,9% terhadap dolar AS pada Kamis (22/10) dan sempat mencapai level terkuatnya dalam lebih dari sebulan pada Jumat (23/10).
Hal ini terjadi seiring kekhawatiran terkait lonjakan investasi AI yang menekan harga saham dan memicu reli tajam pada obligasi pemerintah AS . Nilai tukar yen kemudian terkoreksi setelah imbal hasil obligasi AS kembali stabil.
Goldman Sachs berpendapat bahwa lonjakan investasi AI telah membuat saham AS dan dolar AS menjadi sangat rentan terhadap penurunan prospek pertumbuhan ekonomi. Guncangan yang menyebabkan harga saham dan imbal hasil obligasi turun secara bersamaan akan menciptakan kondisi pasar yang secara historis paling menguntungkan bagi yen.
Menurut bank investasi ini, terdapat pula tanda-tanda awal bahwa yen menjadi lebih tahan ketika imbal hasil global meningkat. Pelemahan yen sebagai respons terhadap kenaikan imbal hasil belakangan ini lebih terbatas dibandingkan enam hingga tujuh tahun terakhir; menurut para ahli strategi, hal ini kemungkinan mencerminkan berkurangnya tekanan depresiasi yang berasal dari kebijakan domestik Jepang.
Kondisi ini berbeda dengan tahun 2022 saat Bank of Japan masih mempertahankan kebijakan pengendalian kurva imbal hasil (yield-curve control) di tengah lonjakan biaya pinjaman global.
"Perubahan dinamika ini berarti yen seharusnya menjadi instrumen lindung nilai yang tidak terlalu membebani untuk dipegang, meskipun selisih suku bunga (carry) tetap negatif," ujar Goldman.
Latar kebijakan domestik yang lebih konstruktif, valuasi yen yang tergolong murah, serta tingginya risiko intervensi mata uang turut membatasi potensi penguatan dolar AS terhadap yen sehingga memperbaiki asimetri dalam memegang mata uang Jepang tersebut sebagai instrumen lindung nilai. Dalam jangka pendek, Goldman tetap memilih untuk menjual euro terhadap yen, dengan alasan bahwa hampir tidak ada katalis domestik yang jelas untuk mendorong apresiasi yen secara signifikan, serta sulit bagi Bank of Japan (BOJ) untuk mengejutkan pasar melalui pesan yang bersifat hawkish atau ketat pada pengumuman keputusan kebijakannya tanggal 30 Oktober mendatang.
Namun untuk jangka waktu yang lebih panjang, para analis memandang perdagangan dolar-yen sebagai perlindungan yang lebih efektif terhadap memburuknya sentimen risiko.
"Posisi jual pada mata uang USD/JPY semestinya menjadi lindung nilai yang paling efektif terhadap ketidakstabilan pertumbuhan ekonomi secara umum, atau secara khusus, terhadap guncangan luas yang dipicu oleh kecerdasan buatan (AI)," kata mereka.