Harga emas dunia mengalami koreksi cukup dalam dalam enam bulan terakhir. Berdasarkan data Trading Economics pada Senin (2/11), harga emas tercatat sebesar US$3.912,8 per troy ounce, turun US$773,5 atau 16,51% dibandingkan posisi enam bulan sebelumnya.

Penurunan harga emas juga tercermin dalam pergerakan bulanan dan tahunan. Secara bulanan, harga emas terkoreksi 5,89%, sedangkan secara tahunan turun 2,66%. Trading Economics memperkirakan harga emas berada di level US$3.815,16 pada kuartal IV.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan harga emas dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari penunjukan Kevin Warsh sebagai calon pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS) hingga konflik antara AS dan Iran yang berdampak terhadap pasokan energi global.

Menurut Ibrahim, penunjukan Warsh memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Sementara itu, konflik di sekitar Selat Hormuz dan blokade yang dilakukan Iran mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.

"Yang akhirnya membuat apa? Membuat harga minyak mentah mengalami kenaikan. Kenapa mengalami kenaikan? Karena jalur transportasi Selat Hormuz ini 20% minyak itu melalui Selat Hormuz," kata Ibrahim kepada Katadata.

Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak berdampak terhadap biaya logistik dan transportasi. Kondisi tersebut kemudian meningkatkan tekanan inflasi, terutama di AS, seiring melonjaknya harga bahan bakar seperti bensin dan solar.

Tekanan inflasi tersebut turut memengaruhi prospek kebijakan suku bunga The Fed. Ekspektasi suku bunga yang bertahan tinggi dapat mengurangi daya tarik emas sebagai instrumen investasi karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga.

Meski demikian, Ibrahim menilai koreksi harga emas saat ini masih bersifat sementara. Menurutnya, logam mulia masih memiliki prospek sebagai instrumen lindung nilai atau safe haven dalam jangka panjang.

Ia memperkirakan harga emas berpeluang kembali menguat apabila konflik AS-Iran berakhir, harga minyak mentah kembali turun di bawah US$60 per barel, dan The Fed mulai menurunkan suku bunganya.

"Jadi intinya, kesimpulannya bahwa save heaven, yaitu loga mulia. Kalau secara jangka pendek mengalami penurunan itu adalah hal yang wajar," ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah