Rupiah Dibuka Menguat Hari Ini di Tengah Penurunan Harga Minyak
Nilai Tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Rabu (4/11) pagi. Melansir data spot Bloomberg, rupiah dibuka di angka 18.134 per dolar AS. Nilai ini menguat 26 poin atau sekitar 0,14% dari penutupan sebelumnya yang berada di level 18.160 per dolar AS.
Analis Doo Financial, Lukman Leong memperkirakan penurunan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu penyebab penguatan rupiah seiring dengan pelemahan dolar AS.
“Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS di tengah penurunan harga minyak mentah dunia oleh harapan damai di timteng,” kata Lukman saat dihubungi, Rabu (4/11).
Ia juga menilai penurunan pada indeks dolar AS oleh antisipasi hasil pemilu paruh waktu di sana. Namun penguatan diperkirakan terbatas di tengah sentimen yang masih lemah di pasar ekuitas domestik dengan rentang 18.050-18.200.
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mengungkap sejumlah faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang Oktober hingga awal November 2026.
Gubernur BI, Destry Damayanti menuturkan, tekanan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global hingga kebijakan moneter AS.
Destry mengatakan, rupiah sebenarnya sempat menguat ke level 17.870 per dolar AS pada akhir September 2026. Namun, mata uang Garuda kembali tertekan sepanjang Oktober hingga awal November.
Berdasarkan data BI, rupiah berada di level 18.145 per dolar AS pada 2 November 2026. Posisi tersebut melemah dibandingkan akhir September yang masih berada di level 17.870 per dolar AS.
“Pelemahan ini dipengaruhi oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter di Amerika Serikat, serta sentimen investor global terhadap aset negara berkembang,” kata Destry dalam konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) IV tahun 2026, yang digelar di Jamarta, Selasa (3/11).
Di tengah tekanan terhadap nilai tukar ini, Destry mengatakan, posisi cadangan devisa Indonesia masih cukup kuat. Pada akhir September 2026, cadangan devisa tercatat sebesar US$ 146,3 miliar.
Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi itu juga masih jauh di atas standar kecukupan internasional sebesar tiga bulan impor.
Selain itu, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus. Sepanjang Januari-September 2026, surplus neraca perdagangan mencapai US$ 10,61 miliar. Sementara itu, surplus pada September 2026 tercatat sebesar US$ 3,36 miliar.
Destry memaparkan, dari sisi aliran modal, investasi portofolio asing mencatatkan arus keluar bersih atau net outflow sebesar US$ 80 juta pada kuartal III 2026. Arus keluar tersebut terutama disebabkan oleh pelepasan investasi asing di pasar saham.
Ia menyebut, kondisi mulai membaik pada awal kuartal IV. Hingga 23 Oktober 2026, investasi portofolio asing mencatatkan net inflow sebesar US$ 40 juta, terutama ditopang oleh investasi pada Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Dengan perkembangan tersebut, aliran investasi portofolio asing secara kumulatif sepanjang Januari hingga 23 Oktober 2026 masih mencatatkan net inflow sebesar US$ 13,23 miliar.
Destry mengatakan, untuk menjaga stabilitas rupiah, bank sentral memperkuat strategi intervensi di pasar valuta asing, baik melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik.
Destry mengatakan, BI juga memperluas insentif pengurangan premi lindung nilai atau hedging untuk menarik aliran modal asing, termasuk melalui transaksi DNDF dan swap dengan underlying pendanaan luar negeri.