Dari Dividen hingga Investasi, Mampukah Danantara Capai Target Rp 800 T Prabowo?
Presiden Prabowo Subianto menargetkan agar Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara dapat menyetorkan dana hingga US$ 50 miliar atau setara Rp 800 triliun ke kas negara setiap tahun. Ia meminta Danantara dapat mencatatkan tingkat pengembalian aset atau return on assets (RoA) hingga 5%. Target itu telah turun 2% dari target yang diminta Prabowo sebelumnya sebesar 7%.
Salah satu cara untuk mendapatkan ROA 5% adalah dengan menggenjot penerimaan melalui dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria sebelumnya menyebut lembaga sovereign wealth fund (SWF) itu menerima dividen sekitar Rp 150 triliun dari seluruh BUMN pada 2025.
Dividen yang berasal dari kinerja tahun buku 2024 itu meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun sebelumnya, Kementerian BUMN menerima dividen sekitar Rp 86,38 triliun dari seluruh perusahaan pelat merah.
Meski meningkat signifikan, jumlah tersebut masih jauh dari target Rp 800 triliun yang dipatok pemerintah. Pertanyaannya, mampukah Danantara menghimpun dana sebesar itu dalam satu tahun?
Modal Dividen Apakah Cukup?
Associate Director BUMN Research Universitas Indonesia Toto Pranoto mengatakan, menghimpun target dana merupakan pekerjaan yang sulit bagi Danantara. Dia menjelaskan dengan mengambil permisalan laba konsolidasi BUMN pada 2024 sekitar Rp 300 triliun.
Menurut Toto, jika seluruh laba tersebut dibagikan sebagai dividen dengan dividend payout ratio (DPR) 100%, nilainya masih belum cukup untuk memenuhi target setoran ke negara.
“Misal laba konsol BUMN di 2025 naik jadi 400 triliun, dengan DPR 100% juga belum akan cukup (mengejar target Prabowo),” ujar Toto kepada Katadata, dikutip Selasa (17/3).
Toto mengatakan untuk menghasilkan dana sesuai permintaan Presiden, Danantara perlu mencari sumber pendapatan lain di luar setoran laba BUMN yang berada di bawah pengelolaan lembaga tersebut. Salah satu opsi adalah mengoptimalkan imbal hasil (return) investasi dari portofolio yang dikelola Danantara Investment Management (DIM).
Pendapatan tambahan juga dapat berasal dari hasil investasi portofolio maupun proyek kerja sama (joint venture) yang dikelola bersama mitra strategis. Namun, Toto menilai data mengenai portofolio dan kinerja investasi tersebut masih terbatas.
“Namun data ini relatif belum terbuka, jadi kita tidak bisa melakukan analisis dengan cukup akurat,” ujarnya.
Sebenarnya pada Oktober tahun lalu, CEO Danantara Rosan Roeslani telah mengatakan bahwa penerimaan negara dari dividen perusahaan BUMN diperkirakan akan turun pada tahun buku 2025. Hal tersebut terjadi lantaran seluruh perusahaan pelat merah telah diinstruksikan untuk tidak mempercantik laporan keuangan.
Menurut dia, penunjukan laporan keuangan secara riil merupakan bagian dari strategi peningkatan dividen BUMN senilai Rp 165 triliun pada 2029.
“Kami di Danantara ingin menampilkan laporan keuangan yang apa adanya, itu kami sampaikan ke seluruh BUMN. Jadi, dividen tahun ini akan ada koreksi karena langkah ini kami lakukan cukup masif,” kata Rosan Oktober tahun lalu.
Hitung-Hitung Penghasilan Danantara, Dividen BUMN hingga Proyek Strategis
Setoran dividen badan usaha milik negara (BUMN) menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025, pemerintah menerima dividen sekitar Rp 150 triliun dari seluruh BUMN yang berasal dari kinerja tahun buku 2024.
Sementara itu, dalam laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tercatat penerimaan negara dari dividen BUMN pada tahun anggaran 2024 mencapai Rp 86,38 triliun. Nilai tersebut meningkat 5,27% dibandingkan realisasi pada 2023 yang sebesar Rp 82,05 triliun.
Realisasi tersebut juga melampaui target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024 sebesar Rp 85,84 triliun, atau mencapai 100,63% dari target. Jika ditarik lebih jauh, setoran dividen BUMN juga terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2022, pemerintah menerima dividen sebesar Rp 40,6 triliun, sedangkan pada 2021 nilainya tercatat sekitar Rp 30,5 triliun. Meski data BPK belum mengumumkan LHP LKPP tahun 2025, Katadata pernah menghitung nilai dividen yang diperoleh negara dari perusahaan pelat merah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan catatan Katadata, Danantara setidaknya mengantongi Rp 71,38 triliun dari total delapan BUMN.
Dari dua bank pelat merah misalnya yaitu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Danantara mengantongi Rp 50 triliun. Di luar sektor perbankan, dividen terbesar diperoleh Danantara dari PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan besaran dividen total yang diterima Rp 10,96 triliun. Angka ini diperoleh dari total kepemilikan saham 51,6 miliar lembar atau setara 52%.
Untuk tahun buku 2025, hanya PT Bank Tabungan Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang telah mengumumkan dividen final, artinya akan dilaporkan pada tahun 2026. BBNI membagikan dividen senilai Rp 349,41 per saham.
Dengan mengakumulasi kepemilikan saham Danantara di BBNI sebanyak 22,37 miliar saham, maka negara akan mengantongi dividen senilai Rp 7,81 triliun. Angka tersebut meningkat 24,56% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Berikut rincian lengkap setoran dividen BUMN dari tahun 2024 - 2022:
| Perusahaan | Dividen 2024 | Dividen 2023 | Dividen 2022 |
| PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) | Rp 25,71 triliun | Rp 23,23 triliun | Rp 14,04 triliun |
| PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) | Rp 17,17 triliun | Rp 12,84 triliun | Rp 8,75 triliun |
| PT Mineral Industri Indonesia | Rp 11,21 triliun | Rp 7,45 triliun | - |
| PT Pertamina | Rp 9,36 triliun | Rp 14,02 triliun | Rp 2,92 triliun |
| PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) | Rp 9,21 triliun | Rp 8,64 triliun | Rp 7,73 triliun |
| PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) | Rp 6,27 triliun | Rp 4,39 triliun | Rp 1,63 triliun |
| PT Perusahaan Listrik Negara | Rp 3,09 triliun | Rp 2,18 triliun | Rp 750 miliar |
| PT Pupuk Indonesia | Rp 1,21 triliun | Rp 5,04 triliun | Rp 750 miliar |
| PT Pelabuhan Indonesia | Rp 1,03 triliun | Rp 1,37 triliun | Rp 1,31 triliun |
| PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) | - | Rp 847,60 miliar | Rp 522,34 miliar |
| PT Sarana Multi Infrastruktur | Rp 520 miliar | - | - |
| BUMN Lainnya | Rp 1,56 triliun | Rp 1,99 triliun | Rp 1,25 triliun |
| Kesalahan Setoran PT. Virama Karya | Rp 2,24 miliar | - | - |
| PT Indonesia Asahan Aluminium | - | - | Rp 900 miliar |
| Total | Rp 86,38 triliun | Rp 82,05 triliun | Rp 40,59 triliun |
(Sumber: diolah dari data LHP LKPP, Laporan Keuangan Audited)
Selain dari dividen, Danantara tercatat pernah mengeluarkan instrumen investasi lainnya yaitu obligasi patriotik atau patriot bond senilai US$ 3,1 miliar atau sekitar Rp 50 triliun. Instrumen ini digunakan untuk mendanai proyek waste-to-energy (WTE) atau pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).
Sementara itu, paling anyar, PT Danantara Investment Management akan menerbitkan instrumen surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN) dengan nilai total Rp 7 triliun.
Penerbitan MTN tersebut terbagi menjadi dua seri, yakni Seri A dan Seri B dengan tenor masing-masing lima dan tujuh tahun. Nilai nominal masing-masing seri tercatat sebesar Rp 3,5 triliun.
Secara rinci, MTN Seri A dengan kode efek DNTR02A1JP memiliki nilai nominal Rp 3,5 triliun dengan tanggal jatuh tempo pada 18 Maret 2031 atau bertenor lima tahun. MTN Seri B dengan kode efek DNTR02B1JP juga memiliki nilai nominal Rp 3,5 triliun, namun menawarkan tenor lebih panjang yakni tujuh tahun dengan jatuh tempo pada 17 Maret 2033.
Di samping itu, Danantara tengah ngebut mendirikan 20 proyek hilirisasi lintas sektor dengan nilai investasi sekitar US$ 26 miliar atau sekitar Rp 404,25 triliun. Tak hanya itu, Rosan menyebut program-proyek yang masuk dalam pipeline Danantara tersebut diperkirakan mampu menciptakan hingga 600 ribu lapangan kerja baru.
“Ini adalah proyek hilirisasi yang on the pipeline, yang di mana dari total 20 program hilirisasi ini, 6–7 sudah dimulai sejak minggu lalu,” kata Rosan dalam agenda Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2).
Rosan menyampaikan, dari total 20 program hilirisasi yang disiapkan, sebanyak enam proyek telah memulai tahap groundbreaking atau peletakan batu pertama pada 6 Februari 2025 lalu dengan nilai proyek mencapai US$ 7 miliar.
Usai keenam proyek tersebut melakukan groundbreaking, Danantara kemudian menargetkan 14 proyek hilirisasi lainnya segera menyusul dengan nilai proyek sebesar US$ 19 miliar. Menurut dia, program hilirisasi menjadi kunci untuk menangkap nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
Daftar 20 Proyek Hilirisasi Danantara
- Alumina menjadi aluminium
- Bauksit menjadi smelter grade alumina
- Bioavtur dari UCO
- Bioethanol
- Bisnis ayam terintegrasi
- Pengolahan garam industri
- Hilirisasi batu bara ke DME
- Pengembangan oil refinery domestik
- Hilirisasi rumput laut menjadi carrageenan
- Pengembangan produk turunan minyak sawit (Oleofood)
- Produksi copper rod, wire and tube
- Pengolahan aspal buton
- Produksi besi baja dari pasir besi
- Produksi stainless steel slab dari Nikel
- Manufaktur modul surya terintegrasi dari Bauksit dan Silika
- Pengolahan Manganese Sulfate
- Pengembangan kapasitas penyimpanan minyak bumi
- Hilirisasi Pala menjadi oleoresin
- Pengembangan ekosistem produksi Ikan Tilapia
- Hilirisasi kelapa terintegrasi
Dasar Prabowo Targetkan RoA 5%
Sebelumnya Prabowo menyatakan telah menghitung, total aset seluruh BUMN yang berada di bawah Danantara berada di kisaran US$ 1.000 miliar. Ia mengatakan berdasarkan laporan yang diterima pada 2025 nilai ROA BUMN di bawah Danantara telah naik lebih dari 300%.
“Kalau hanya 5% return on assets, berarti Danantara harus mengembalikan ke negara US$50 miliar atau Rp 800 triliun. Jadi pimpinan Danantara, sasaranmu masih jauh," kata Prabowo seperti dikutip Jumat (13/3).
Prabowo mengatakan, bila merujuk pada standar perusahaan dunia rata-rata bisa menghasilkan ROA 10% dan bahkan lebih. Meski begitu ia mengatakan angka itu cukup tinggi sehingga ia hanya menargetkan 5%. Salah satu cara untuk mendapatkan ROA 5% adalah dengan menggenjot penerimaan melalui dividen BUMN.
Selain dari dividen BUMN, peningkatan ROA juga bisa dilakukan melalui pengembangan investasi seperti lewat surat berharga negara (SBN) dan pengembangan investasi di pasar modal. Selain Danantara juga bisa berinvestasi di sejumlah proyek strategis.