5 Fakta IPO Anak Usaha Prodia (PRDL), Incar Dana Rp 62 M Akankah Bagi Dividen?

vecteezy.com/ecaterina tolicova
Initial Public Offering (IPO) atau penawaran saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI)
Penulis: Karunia Putri
18/6/2026, 11.35 WIB

PT Prodia Diagnostic Line Tbk akan mencatatkan saham perdana publik atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 Juli 2026. Perseroan akan melantai di bursa dengan kode ticker PRDL. 

Perseroan bergerak di bidang industri alat kesehatan, khususnya produk in vitro diagnostics (IVD). Selain memproduksi alat kesehatan, PRDL juga menjalankan bisnis perdagangan alat laboratorium, alat farmasi dan alat kedokteran, jasa kalibrasi dan metrologi serta layanan pengujian dan kalibrasi alat kesehatan.

PRDL mengklaim memiliki pengalaman dalam pengadaan pemerintah. Pada 2023, perseroan memenangkan tender pengadaan reagen profil lipid senilai sekitar Rp 90 miliar. Sementara pada 2025, perseroan kembali memperoleh pengadaan untuk kebutuhan skrining penyakit kardiovaskular dan APRI Score untuk skrining kanker hati.

Selain itu, meningkatnya jumlah fasilitas kesehatan di Indonesia juga menjadi peluang bagi perseroan. Hingga akhir 2025 terdapat lebih dari 3.000 rumah sakit dan lebih dari 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia.

Saat ini PRDL telah melayani lebih dari 7.600 pelanggan yang terdiri atas rumah sakit, puskesmas, dan laboratorium klinik milik pemerintah maupun swasta. Meski demikian, perseroan menilai ruang ekspansi masih terbuka karena lebih dari 47% fasilitas kesehatan dan sekitar 38% dinas kesehatan kabupaten/kota di Indonesia belum menjadi pelanggan.

Manajemen PRDL pun optimis dapat memanfaatkan pertumbuhan industri melalui pengalaman lebih dari satu dekade di bisnis IVD, kemitraan dengan perusahaan internasional, jaringan distribusi yang luas serta layanan purna jual yang mendukung operasional pelanggan.

Terafiliasi dengan PRDA

Mengutip prospektus IPO PRDL, entitas induk dan entitas induk terakhir perusahaan adalah PT Prodia Utama. Sebelum IPO, Prodia Utama menggenggam sebanyak 622,20 juta saham PRDL atau setara dengan 51% sahamnya. Usai IPO, kepemilikan Prodia Utama berkurang menjadi 35,70%.

Grup Prodia Utama ini juga memiliki anak usaha yang telah tercatat di BEI yakni PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA). Dengan kata lain, PRDL merupakan sister holding dari PRDA. Berdasarkan data kepemilikan saham di atas 1% per 2 Juni 2026, perusahaan konglomerat Prajogo Pangestu yaitu PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) tercatat menggenggam 13,89 juta atau setara 1,48% saham PRDA. 

Tawarkan Harga Rp 100 hingga 120 per Saham

PRDL menawarkan sebanyak-banyaknya 522,9 juta saham baru atau setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO. Perseroan mematok kisaran harga penawaran Rp 100-Rp 120 per saham.

Dengan harga tersebut, PRDL berpotensi menghimpun dana segar mencaoai Rp 62,74 miliar. Kemudian perseroan telah menunjuk PT Sucor Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Bersamaan dengan IPO, PRDL juga menggelar program alokasi saham untuk karyawan atau employee stock allocation (ESA) sebanyak-banyaknya 36,6 juta saham atau setara 7% dari saham yang ditawarkan. Harga pelaksanaan program ESA sama dengan harga penawaran umum.

Kebijakan Dividen

Usai IPO, perseroan berkomitmen untuk membagikan dividen setiap tahun dengan rasio sebanyak-banyaknya 20% dari laba bersih setelah penyisihan untuk cadangan wajib yang dimulai dari tahun buku 2026 dengan tidak mengabaikan tingkat kesehatan perseroan

Ketentuan itu mengacu pada ketentuan dalam anggaran dasar perseroan. Manajemen menyebut, sepanjang perseroan membukukan laba dan mencadangkan laba, perseroan dapat membagikan dividen tunai atau saham. 

“Seluruh saham biasa atas nama yang telah ditempatkan dan disetor penuh, termasuk saham biasa atas nama yang ditawarkan dalam penawaran umum perdana saham ini, mempunya hak yang saham dan sederajat termasuk hak atas pembagian dividen,” tulis manajemen PRDL dalam prospektus IPO dikutip Kamis (18/6). 

Rencana Usai IPO

Setelah berhasil melaksanakan IPO, perseroan berencana menggunakan dana IPO untuk ekspansi. Setelah dikurangi biaya-biaya emisi efek, dana IPO akan digunakan antara lain Rp 35,66 miliar untuk pelunasan pokok fasilitas kredit kepada Tbk Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan pelunasan pokok fasilitas kredit kepada PT Bank Pan Indonesia Tbk atau Bank Panin.

Lalu sekitar Rp 23,92% dari dana itu akan digunakan untuk belanja modal atau capital expenditure, namun tidak terbatas pada pembelian mesin dan peralatan kalibrasi, kendaraan, sistem software, relayout area produksi dan penambahan AHU Lab Biomolekuler. Sisanya sekitar 8,51% akan digunakan untuk modal kerja (working capital) perseroan termasuk, naun tidak terbatas pada pembelian bahan baku, biaya produk dan development dan selling & marketing.

Struktur Manajemen

Dewan Komisaris 

  • Komisaris Utama: Andi Widjaja
  • Komisaris: Endang Wahjuningtyas Hoyaranda
  • Komisaris Independen: Emmanuel Lestarto Wanandi

Dewan Direksi 

  • Direktur Utama: Cristina Sandjaja
  • Direktur: Eka Herawati
  • Direktur: Lucia Herminawati
  • Direktur: Prasti Sulanjari
  • Direktur: Sesilia Dian Krismawati
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri