Dapur Tara, Menikmati Jiwa Flores Lewat Kuliner yang Menghidupkan Tradisi
Labuan Bajo – Labuan Bajo selama ini identik dengan Taman Nasional Komodo, gugusan pulau eksotis, dan panorama bawah laut kelas dunia. Namun, di balik pesona alam tersebut, terdapat pengalaman wisata lain yang menawarkan cara berbeda untuk mengenal Flores, yakni melalui kuliner yang sarat nilai budaya dan pemberdayaan masyarakat.
Sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Labuan Bajo, tepatnya di Desa Liang Ndara, kawasan Mbeliling, berdiri Dapur Tara, sebuah destinasi gastronomi yang memadukan cita rasa lokal, keindahan alam, dan filosofi hidup masyarakat Flores. Tempat ini bukan sekadar restoran, melainkan ruang belajar yang mengajak wisatawan memahami budaya Flores melalui setiap hidangan yang disajikan.
Suasana asri langsung menyambut pengunjung begitu memasuki kawasan Dapur Tara. Udara perbukitan yang sejuk dan pepohonan rindang menciptakan atmosfer tenang yang jauh dari hiruk-pikuk kawasan wisata Labuan Bajo.
Pendiri Dapur Tara, Elizabeth Yani Tararubi atau yang akrab disapa Kak Lis, mengatakan bahwa tempat ini lahir dari keinginan memperkenalkan Flores secara lebih utuh kepada wisatawan.
Bagi Kak Lis, makanan bukan sekadar santapan, tetapi juga media untuk menceritakan sejarah, budaya, serta hubungan masyarakat Flores dengan alam yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
“Konsep yang diusung Dapur Tara adalah memanfaatkan bahan baku segar yang berasal dari kebun organik sendiri maupun dipasok langsung oleh petani di sekitar kawasan Mbeliling,” katanya saat kunjungan media trip BCA, akhir pekan lalu.
Sayuran, rempah-rempah, hingga hasil kebun dipanen sesuai kebutuhan sehingga kesegaran dan kualitasnya tetap terjaga. Pendekatan ini sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar serta mendorong praktik pertanian yang berkelanjutan.
Komitmen terhadap kelestarian lingkungan juga menjadi bagian dari identitas Dapur Tara. Konsep zero waste diterapkan melalui pengelolaan limbah organik, penggunaan material alami, serta pemanfaatan wadah makan berbahan bambu, rotan, dan tempurung kelapa.
Salah satu menu andalan yang menjadi daya tarik adalah Kolo, nasi khas Flores yang dimasak di dalam bambu menggunakan bara api sehingga menghasilkan aroma khas. Hidangan tersebut biasanya disajikan bersama ayam asap berbumbu tradisional, sayur Lomak berbahan daun ubi dan kelapa parut, serta aneka olahan hasil kebun lokal.
Namun, pengalaman di Dapur Tara tidak berhenti di meja makan. Pengunjung juga diajak mengikuti kelas memasak tradisional, mengenal berbagai rempah lokal, hingga mempraktikkan teknik memasak menggunakan bambu.
Melalui konsep Flores Living, wisatawan diajak merasakan kehidupan masyarakat Flores secara lebih dekat, mulai dari mengenal bahan pangan lokal hingga memahami filosofi di balik setiap proses memasak.
Pendekatan tersebut dinilai mampu menghadirkan pengalaman wisata yang lebih bermakna karena tidak hanya menonjolkan keindahan destinasi, tetapi juga memperkuat keterlibatan masyarakat lokal sebagai pelaku utama pariwisata.
Konsep pemberdayaan yang dijalankan Dapur Tara juga mendapat dukungan dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui program Corporate Shared Value (CSV) Bakti BCA.
Bakti BCA menggandeng Dapur Tara untuk menyelenggarakan workshop peningkatan keterampilan gastronomi bagi sembilan pengelola Desa Bakti BCA di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.
Workshop tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan pengelola desa wisata dalam mengembangkan potensi kuliner lokal, mulai dari pemilihan bahan baku, teknik memasak, hingga penyajian hidangan yang menarik bagi wisatawan.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, kuliner merupakan salah satu potensi yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat desa dan memiliki peluang besar menjadi penggerak ekonomi lokal. “Melalui workshop ini, kami ingin mendorong para pengelola Desa Bakti BCA untuk semakin percaya diri menyajikan cita rasa dan budaya khas daerahnya dengan standar penyajian yang lebih baik, sehingga dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat desa,” ujar Hera.
Menurutnya, pendekatan gastronomi yang utuh tidak hanya mengajarkan cara memasak, tetapi juga bagaimana membangun pengalaman kuliner yang mampu memperkenalkan sejarah, budaya, dan identitas suatu daerah kepada wisatawan.
Selama ini Bakti BCA juga terus mendampingi desa-desa wisata binaan di berbagai wilayah Indonesia melalui berbagai program pengembangan, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengelolaan keuangan, rumah pangan hidup, revitalisasi kebun kopi, hingga dukungan sertifikasi produk.
Melalui kolaborasi tersebut, Dapur Tara menjadi contoh bagaimana kuliner dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat pariwisata berbasis masyarakat. Di tempat ini, setiap hidangan bukan hanya menyajikan cita rasa khas Flores, tetapi juga menghadirkan cerita tentang alam, budaya, dan harapan akan masa depan desa wisata yang tumbuh secara berkelanjutan.