PT Adhi Karya Tbk (ADHI) berencana menjual seluruh kepemilikan saham di PT Jasamarga Jogja Solo (JMJ) senilai Rp 1,76 triliun kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Dana hasil divestasi ini salah satunya akan digunakan untuk membayar utang berbunga dan memperkuat likuiditas perseroan.

Dalam transaksi itu, ADHI akan menjual 1.714.808 saham JMJ atau 47,18% dari total saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh. 

Perseroan menargetkan penyelesaian transaksi pengalihan saham tersebut paling lambat pada 30 November 2026, sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian jual beli bersyarat (PJBB).

“Setelah penyelesaian transaksi divestasi, SMI akan menjadi pemegang saham JMJ dan ADHI tidak lagi memiliki saham dalam JMJ,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Jumat (9/10). 

Manajemen ADHI menyebut divestasi saham JMJ merupakan bagian dari strategi invest to divest, yakni investasi yang dilakukan untuk memperoleh nilai tambah melalui pelepasan aset atau kepemilikan saham.

Strategi itu diterapkan pada investasi di badan usaha jalan tol yang awalnya untuk mendukung perolehan proyek konstruksi. Melalui divestasi, ADHI berharap dapat mengoptimalkan alokasi modal dan sumber daya untuk memperkuat fokus pada bisnis inti perseroan di bidang konstruksi.

“Sejalan dengan arah strategis pemegang saham untuk melakukan penyehatan keuangan dan penguatan fokus usaha BUMN karya,” ujar manajemen.

Manajemen BUMN Karya itu juga mengatakan divestasi saham JMJ diharapkan dapat meningkatkan likuiditas dan memperbaiki struktur keuangan perseroan. Dana hasil penjualan saham senilai Rp 1,7 triliun itu direncanakan untuk membayar utang berbunga, memenuhi kebutuhan modal kerja, dan mendukung kebutuhan usaha lainnya sesuai skala prioritas.

Selain itu, divestasi dilakukan untuk membatasi kebutuhan tambahan penyertaan modal ADHI dalam pembangunan Tol Solo-Yogyakarta-NYIA Kulon Progo. Proyek tersebut masih membutuhkan pendanaan lanjutan dari para pemegang saham JMJ. Dengan melepas kepemilikannya, ADHI dapat mengalokasikan kapasitas pendanaan untuk bisnis inti dan prioritas usaha lainnya.

Manajemen juga mempertimbangkan proyeksi kinerja keuangan JMJ yang diperkirakan masih merugi pada tahap awal pengoperasian jalan tol. Kondisi tersebut antara lain disebabkan pendapatan tol yang belum optimal seiring perkembangan volume lalu lintas, serta adanya beban bunga pembiayaan.

“Kerugian tersebut berpotensi memengaruhi kinerja keuangan Perseroan melalui pengakuan bagian rugi atas investasi pada JMJ,” tulis manajemen.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila