Geliat Danantara - ENRG di Migas AS, Bidik Aset Jumbo di Permian Basin?
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia, melalui Danantara Investment Management (DIM) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mulai masuk ke industri hulu minyak dan gas bumi (migas) Amerika Serikat.
Keduanya berinvestasi di HighPeak Energy Inc, perusahaan migas yang beroperasi di Permian Basin, salah satu wilayah penghasil minyak terbesar di Amerika Serikat.
Danantara mengucurkan investasi US$ 250 juta atau Rp 4,5 triliun (kurs Rp 18.000 per dolar AS). Transaksi ini dilakukan melalui penerbitan saham preferen konvertibel dalam beberapa tahap.
HighPeak Energy merupakan perusahaan berbasis di Texas yang tercatat di Nasdaq dengan kapitalisasi pasar sekitar US$1 miliar. Perusahaan tersebut bergerak di bidang akuisisi, pengembangan, eksplorasi, serta eksploitasi minyak dan gas bumi di Permian Basin.
Senior Research Analyst Sinarmas Sekuritas Yosua Zisokhi mengatakan aksi korporasi tersebut memiliki dua sisi. Sebagai sovereign wealth fund (SWF), Danantara dapat membangun portofolio investasi sekaligus masuk ke aset strategis, terutama sektor energi.
Menurut Yosua, meski investasi tersebut hanya mengambil porsi minoritas, langkah itu tetap memiliki nilai strategis, terutama di tengah kondisi geopolitik Timur Tengah yang masih memanas.
Aset migas di Amerika Serikat menjadi salah satu yang banyak dilirik, karena memiliki cadangan minyak besar sekaligus teknologi yang mendukung pengembangan industri migas. “Ini jadi alasan kenapa aset-aset migas di sana diincar banyak pihak secara global”, kata Yosua dalam analisisnya, dikutip Kamis (8/10).
Menurut Yosua, mengacu pada Badan Informasi Energi Amerika Serikat, Permian Basin merupakan wilayah penghasil minyak mentah terbesar di AS. Wilayah tersebut menyumbang 48% dari total produksi minyak Amerika Serikat sepanjang 2025.
Selain akses terhadap cadangan minyak, Yosua menilai investasi DIM di HighPeak Energy memiliki nilai strategis dari sisi akses terhadap teknologi. Investasi ini juga membuka peluang pertukaran keterampilan melalui program pelatihan dan penugasan kerja.
Dari sisi struktur transaksi, Yosua menilai penggunaan skema saham preferen konvertibel mencerminkan aspek kehati-hatian dalam investasi. Skema ini berbeda dengan saham biasa sehingga memberikan perlindungan tambahan bagi investor.
“Ada aspek perlindungan dari penurunan nilai investasi tetapi juga membuka akses upside ke depan jangka panjang,” katanya.
Investasi DIM ke perusahaan migas AS menambah daftar investor besar yang masuk ke sektor tersebut, seperti Mitsubishi, JAPEX, dan Osaka Gas. Sejumlah lembaga investasi negara, termasuk GIC, Mubadala, dan ADIA, juga telah berinvestasi pada aset migas di AS.
Pada saat yang sama, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga melakukan investasi di HighPeak Energy Inc. Nilai investasi ENRG mencapai US$ 200 juta atau sekitar Rp 3,6 triliun.
Yosua menilai langkah Danantara di sektor migas Amerika Serikat dapat menjadi bagian dari upaya membangun portofolio di sektor strategis yang terdiversifikasi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Sementara itu, ENRG dinilai memiliki fokus yang berbeda. Investasi perusahaan lebih diarahkan pada ekspansi geografis dan penguasaan teknologi yang diharapkan dapat menjadi nilai tambah bagi perusahaan.
“Ko-investasi pada dasarnya sangat umum dilakukan. Danantara dan ENRG menjadi salah satunya. Danantara dari sisi SWF, sementara ENRG sebagai pelaku migas asal Indonesia,” ujar Yosua.
