KATADATA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tetap stabil di tengah semakin besarnya peluang bank sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunganya pada bulan Desember nanti. Pada perdagangan di pasar spot hari Kamis ini (19/11), berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,32 persen dibandingkan hari sebelumnya menjadi Rp 13.775 per dolar AS. Ini mengakhiri tren pelemahan rupiah sejak awal pekan ini.

Padahal, pada perdagangan Rabu kemarin, rupiah sempat melemah menembus kembali level Rp 13.800 per dolar AS. Jika dihitung selama hari Senin hingga Rabu lalu, rupiah terkoreksi hampir satu persen menjadi Rp 13.819 per dolar AS. Sedangkan berdasarkan kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI), rupiah pada Kamis ini berakhir di level Rp 13.787 per dolar AS.

Pergerakan rupiah hari ini seakan tidak terpengaruh oleh risalah rapat (minutes meeting) Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed pada 27-28 Oktober lalu, yang baru dirilis Kamis dinihari (19/11). Dalam risalah itu, mayoritas peserta rapat berpendapat mungkin menjadi saat yang tepat untuk menaikkan suku bunga acuan pada Desember nanti. Namun, kenaikannya akan dilakukan secara bertahap.

Peluang menaikkan suku bunga terbuka setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan tren positif. Jumlah karyawan bertambah 271 ribu orang pada Oktober lalu, yang merupakan penambahan terbesar tahun ini. Sedangkan angka pengangguran menurun menjadi 5 persen. Saat berpidato di Kongres AS pada 4 Desember lalu, Kepala The Fed Janet Yellen menyatakan sudah memungkinkan kenaikan suku bunga.

Keputusan menaikkan suku bunga itu akan dilakukan pada rapat The Fed, 15-16 Desember mendatang. Dengan begitu, kenaikan suku bunga tersebut merupakan yang pertama kali sejak tahun 2006. “Angin perubahan akhirnya datang setelah bertahun-bertahun. Suku bunga akan naik tahun 2015,” kata Chris Rupkey, Chief Financial Economist Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd. di New York, seperti dikutip Bloomberg.

Para pelaku pasar dalam beberapa pekan terakhir ini memang sudah mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga AS pada bulan depan. Namun, yang masih menjadi pertanyaan adalah besaran kenaikan Fed rate. "Sampai pelaku pasar mendapat kejelasan mengenai hal tersebut, volatilitas pasar masih akan tinggi," kata Regional Investment Strategist U.S. Bank Wealth Management di Minneapolis, AS, Dan Farley.

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra juga menyatakan, pelaku pasar sudah mengantisipasi kenaikan suku bunga AS sehingga malah melakukan aksi ambil untung dengan melepas dolar. “Minutes FOMC tersebut tidak ada kejutan,” katanya kepada Katadata. Karena itulah, rupiah pada perdagangan hari Kamis ini tidak melemah.

Selain faktor luar negeri, pergerakan rupiah juga dapat dipengaruhi oleh kondisi di dalam negeri. Analis Pasar Uang Bank Himpunan Saudara Rully Nova menilai, kegaduhan politik di dalam negeri, seperti kasus yang tengah membelit Ketua DPR Setya Novanto dan isu pergantian menteri (reshuffle) dapat mengganggu rupiah. “Ada (pengaruh politik), tapi tidak signifikan,” katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Desy Setyowati