Perusahaan di Cina rata-rata memiliki keuntungan yang lebih tipis dibandingkan perusahaan sejenis di Amerika Serikat (AS). Kondisi ini membuat eksportir Cina semakin rentan kehilangan pendapatan.
Tekanan semakin besar setelah tarif yang diterapkan Presiden Donald Trump menurunkan permintaan produk asal Cina. Hal itu terungkap dalam riset terbaru Bloomberg Economics.
“Perusahaan Cina bisa bertahan dengan margin tipis berkat dominasi pasar dalam jangka pendek. Namun, pada akhirnya konsumen AS akan menghadapi kenaikan harga,” tulis ekonom Bloomberg untuk Cina, Chang Shu dan David Qu dikutip dari Bloomberg, Senin (29/9).
Mereka menambahkan bahwa tarif pada akhirnya akan dibebankan ke konsumen sehingga permintaan melemah, pola yang sudah terlihat pada perang dagang akhir 2010-an. Dampaknya dinilai bisa lebih parah kali ini karena cakupan tarif lebih luas dan pembatasan transshipment AS lebih ketat.
Riset Bloomberg Economics menunjukkan margin laba bersih perusahaan AS yang terdaftar di sektor barang perdagangan rata-rata mencapai 12% pada tahun lalu. Angka itu lebih dari dua kali lipat margin perusahaan Cina yang hanya 4,9%.
Kesenjangan paling besar terlihat di sektor komunikasi dan perangkat teknologi. Perusahaan AS mencatat margin lebih dari 20%, sementara perusahaan Cina hanya sekitar 3%. Perbedaan serupa juga terlihat pada produsen bangunan dan produk rumah tangga.
Sementara itu, perusahaan Cina merespons lemahnya permintaan domestik dengan menurunkan harga dan meningkatkan ekspor ke berbagai negara. Namun, strategi ini dinilai tidak akan banyak membantu memperbaiki profitabilitas.
Data terbaru menunjukkan laba perusahaan industri besar Cina sepanjang Januari–Agustus tahun ini hanya naik kurang dari 1% dibandingkan periode sama tahun lalu. Lonjakan laba pada Agustus pun lebih banyak dipengaruhi oleh basis yang rendah tahun sebelumnya.
Bloomberg juga mencatat, pada periode setahun hingga Juli, sekitar 29% perusahaan industri besar di Cina masih merugi. Angka yang sama dengan rekor tahun lalu.
Bisa Makin Susut
Aktivitas pabrik di Cina diperkirakan kembali menyusut pada September 2025, menandai kontraksi enam bulan beruntun. Kondisi ini semakin memperkuat desakan agar pemerintah menggulirkan stimulus tambahan untuk menopang perekonomian terbesar kedua di dunia, di tengah belum jelasnya kesepakatan dagang dengan AS.
Survei terhadap 32 ekonom memperkirakan indeks manajer pembelian (purchasing managers' index/PMI) resmi akan naik tipis menjadi 49,6 dari 49,4 pada Agustus. Meski demikian, angka itu masih di bawah ambang 50 yang memisahkan ekspansi dari kontraksi. Data resmi akan diumumkan Selasa.
Lesunya aktivitas pabrik mencerminkan tekanan ganda pada ekonomi Cina. Permintaan domestik belum mampu pulih secara berkelanjutan sejak pandemi, sementara tarif yang diterapkan Trump menekan pabrik-pabrik Cina sekaligus perusahaan luar negeri yang bergantung pada komponen buatan Cina.
Dalam survei, Maybank Investment Bank memberikan proyeksi tertinggi di level 50,0 atau netral, sedangkan Pantheon Macroeconomics mencatat perkiraan terendah di 49,0.
Untuk merespons pelemahan, pemerintah Cina sempat menggulirkan subsidi kredit konsumsi pada pertengahan Agustus. Kebijakan itu dianggap tepat waktu setelah data produksi pabrik dan penjualan ritel bulan yang sama mencatat pertumbuhan terlemah dalam setahun terakhir.
Gubernur Bank Sentral China (PBoC) Pan Gongsheng pekan lalu menegaskan pihaknya masih memiliki beragam instrumen moneter untuk mendukung ekonomi. Namun, ia tidak mengikuti langkah Bank Sentral AS atau The Fed yang menurunkan suku bunga, meski sebagian ekonom sempat memperkirakan hal itu.