Pemerintah Waspadai Perubahan Iklim Ganggu Produksi Pangan, Apa Strateginya?

ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/foc.
Seorang pekerja membajak sawah sebagai tahapan tanaman pangan padi di Desa Bulu Pasar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Minggu (11/1/2026).
Penulis: Rahayu Subekti
13/1/2026, 15.19 WIB

Pemerintah mewaspadai perubahan iklim yang saat ini menjadi sorotan secara global. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, perubahan iklim ini bisa menjadi ancaman karena bisa mengganggu produksi pangan.

“Beberapa ancaman yang harus diperhatikan adalah perubahan iklim. Kita pengalaman di 2024 baik El Nino maupun La Nina yang bareng itu menurunkan produksi padi sampai dengan empat juta ton,” kata Airlangga dalam acara Road To Jakarta Food Security Summit 2026 di Menara Kadin, Selasa (13/1).

Belum lagi pengaruh sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi juga besar. Airlangga mengatakan sumbangan sektor pertanian terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional sebesar 14,35%.

Untuk itu, Airlangga mengatakan pemerintah sudah menyiapkan sejumlah strategi. Ia memastikan hal tersebut akan dilakukan dengan mendorong beberapa program, salah satunya food estate.

“Nah tentu untuk pengembangan food estate itu kita harus mendorong yang namanya modern farming,” ujar Airlangga.

Airlangga menjelaskan, program ini salah satunya sudah diterapkan di Merauke untuk pengembangan tebu dan juga etanol. Menurutnya, berbagai ekspert dari Australia mengatakan tanah di Merauke dibandingkan Australia, jauh lebih baik.

“Sehingga para ahli dari Australia juga percaya bahwa Merauke bisa dikembangkan menjadi lumbung pertanian. Apalagi mereka percaya bahwa tebu adalah tanaman indigenous," kata Airlangga.

Ia mengatakan tantangan ke depan adalah selain biodiesel, pemerintah juga sedang mendorong pengembangan etanol base untuk bensin. Untuk mewujudkan bensin dengan etanol E5 dan E10 membutuhkan dua sampai tiga juta etanol.

“Dan ini akan baik kalau kita bisa produksi melalui food estate. Nah beberapa intensifikasi yang didorong tentunya mulai dari pupuk, irigasi, penyuluh, dan bibit itu menjadi kunci,” ujarnya.

Dan salah satu yang merupakan game changer tentu penelitian mengenai bibit. Dan penelitian berbasis genom itu juga satu hal yang harus kita dorong dan didukung.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti