BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 4,75% di Tengah Tersungkurnya Rupiah
Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20-21 Januari 2026. Keputusan ini diambil di tengah kondisi nilai tukar rupiah yang tengah melemah mendekati 17.000 per dolar AS.
Suku bunga deposit facility diputuskan tetap sebesar 3,75% dan lending facility tetap sebesar 5,50%.
"Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini, yakni pada upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global dan mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Rabu (21/1).
Perry mencatat, nilai tukar rupiah pada Selasa (20/1) bertengger di level 16.945 per dolar AS, melemah 1,53% sepanjang tahun ini. Ia menjelaskan, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh aliran keluar modal asing akibat meningkat ketidakpastian di pasar keuangan global dan kenaikan permintaan valas sejalan dengan kegiatan ekonomi.
"Guna menjaga stabilitas ini, BI akan meningkat intensitas langkah-langkah stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar offsore maupun onshore," kata dia.
BI pun memperkirakan, pertumbuhan ekonomi 2025 akan berada di kisaran 4,7%-5,5%. Sedangkan pada tahun depan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat ke kisaran 4,9%-5,7%.
Penyebab Rupiah Melemah: Efek Trump hingga Thomas Djiwandono
Pergerakan kurs rupiah dipengaruhi oleh banyak faktor. Pengamat pasar mata uang dan aset digital Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah saat ini, antara lain dipengaruhi ancaman tarif dari Presiden AS Donald Trump sebesar 10% terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencana Washington mengakuisisi Greenland.
Selain itu, menurut dia, faktor eksternal lainnya, seperti perkembangan pemanggilan Gubernur The Fed Jerome Powell oleh Kejaksaan Agung, spekulasi suku bunga The Fed, hingga data terbaru Amerika Serikat soal data ketenagakerjaan turut menekan rupiah.
"Pelemahan rupiah memang karena banyak permasalahan yang sudah komplikasi, baik eksternal maupun internal," ujar Ibrahim, Selasa (20/1).
Dari sisi internal, menurut dia, pelaku pasar mengkhawatirkan kondisi defisit fiskal yang mendekati 3% terhadap PDB pada akhir tahun lalu. Investor khawatir, tekanan terhadap penerimaan pajak masih akan terjadi dan berpotensi membuat defisit fiskal melebar.
"Sedangkan terkait pencalonan Thomas Djiwandono sebagai calon deputi BI memberikan pengaruh ke pelemahan rupiah, tetapi tidak besar," ujar dia.
Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana menjelaskan, masuknya Thomas Djiwandono dalam radar calon Deputi Gubernur BI menekan rupiah karena adanya kekhawatiran gangguan independensi terhadap Bank Indonesia.
Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menampik dugaan melemahnya rupiah akibat wacana penunjukan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia.
Dugaan tersebut muncul karena kekhawatiran gangguan terhadap independensi BI lantaran salah seorang dewan gubernurnya diisi oleh mantan pejabat pemerintahan yang juga keponakan dari Presiden Prabowo.
“Enggak ada yang aneh. Kalau independensi, enggak ada hubungannya, kecuali nanti pada waktu mengambil keputusan ada intervensi langsung dari pemerintah. Selama ini kan enggak ada, jadi BI independen,” kata Purbaya.