Apa Itu Inverted Yield Curve dan Mengapa Dikaitkan dengan Risiko Resesi RI?
Pasar obligasi Indonesia mengalami fenomena inverted yield curve atau kondisi ketika imbal hasil (yield) obligasi jangka pendek lebih tinggi daripada obligasi jangka panjang. Fenomena ini sering dianggap oleh pelaku pasar sebagai sinyal perlambatan ekonomi atau resesi ekonomi. Namun, benarkah sinyal serupa tengah terjadi di Indonesia?
Inverted yield curve adalah kondisi kondisi ketika imbal hasil surat utang, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) tenor jangka pendek lebih tinggi dibandingkan tenor jangka panjang. Kondisi ini tengah terjadi di pasar obligasi negara sejak pekan lalu.
Imbal hasil atau yield surat berharga negara terpantau melonjak tajam pada awal pekan ini menunjukan kurva berbalik atau inversi yang curam. Berikut data yield SBN tenor 1 tahun, 3 tahun, 5 tahun, dan 10 tahun pada Rabu (10/6).
Berdasarkan data tersebut, terlihat terjadi inversi pada yield SBN tenor 1 tahun dan 3 tahun, serta SBN tenor 5 tahun dan 10 tahun.
Hubungan antara yield dan harga obligasi berlawanan arah, kenaikan yield berarti harga obligasi sedang turun. Pada posisi yang inverted, investor sedang menuntut imbal hasil lebih tinggi dari oblias tenor jangka pendek dibandingkan jangka panjang, karena melihat risiko jangka pendek lebih mengkhawatirkan.
Purbaya sebelumnya mengatakan, kondisi inverted yield curve terjadi karena adanya intervensi kebijakan Bank Indonesia (BI) yang secara sengaja dengan menaikkan suku bunga instrumen jangka pendek. Hal ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan menarik aliran modal asing masuk.
“Yield curve kita di sini enggak selalu sama dengan di buku-buku teori, bahwa kalau inverted berarti suku bunga jangka panjang akan turun, bank sentral akan turunkan bunga karena ekonominya resesi,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KITA, Jumat (5/6).
Pada kondisi saat ini, menurut dia, imbal hasil jangka pendek memang didorong naik oleh BI melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sedangkan yield tenor panjang lebih banyak dibentuk oleh mekanisme pasar.
“Yang jangka pendek kan dinaikkan BI sengaja lewat SRBI, akhirnya inverted. Tapi bukan menggambarkan itu akan resesi karena enggak pure market condition yang menjalankan itu,” katanya.
Di banyak negara, kondisi inverted yield curve sering dianggap sebagai sinyal perlambatan ekonomi atau bahkan resesi karena pasar memperkirakan bank sentral akan menurunkan suku bunga di masa depan untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
Purbaya menilai kondisi di Indonesia berbeda karena dipengaruhi kebijakan moneter aktif dari BI untuk menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah tekanan global dan pelemahan rupiah. Ia meminta investor dan pelaku pasar tidak hanya melihat teori secara tekstual tanpa memahami faktor di balik pergerakan kurva imbal hasil.
Menurut Purbaya, fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih kuat dan belum menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang mengarah ke resesi.
“Fondasinya ekonomi kita bagus dan tidak membutuhkan suku bunga yang rendah sekali gara-gara kita memasuki masa resesi. Kita masih ekspansi bahkan ekspansinya mengalami akselerasi,” ujarnya.
Mengapa Inverted Yield Curve Dikaitkan dengan Resesi?