Rupiah Diproyeksi Menguat Hari Ini, Pasar Sambut Harapan Damai Timur Tengah
Rupiah mengawali perdagangan awal pekan ini dengan pergerakan yang menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini, Rabu (26/8).
Melansir dari Bloomberg, mata uang Garuda itu membuka perdagangan di level Rp 17.703 per dolar AS menguat 0,11% atau 21 poin. Pantauan Katadata hingga pukul 09.10 rupiah bergerak semakin menguat berada di level Rp 17.695 per dolar AS naik 0,16% atau 28 poin.
Adapun pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup di level Rp 17.723 per dolar AS. Rupiah melemah tipis 0,03% dibandingkan posisi penutupan Senin (24/8) di Rp 17.721 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah diproyeksikan berpeluang menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Penguatan rupiah berpotensi ditopang penurunan harga minyak mentah dunia seiring meningkatnya harapan terhadap penyelesaian konflik di Timur Tengah.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan sentimen positif datang dari perkembangan pembicaraan Iran dan Oman terkait upaya memulihkan pelayaran di Selat Hormuz.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS seiring penurunan harga minyak mentah dunia di tengah meningkatnya harapan perdamaian di Timur Tengah, menyusul laporan bahwa Iran dan Oman membahas pembentukan ‘koridor maritim gabungan sementara’ di Selat Hormuz,” ujar Lukman.
Berdasarkan proyeksinya, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp 17.650-Rp 17.750 per dolar AS hari ini.
Harga minyak mentah dunia melanjutkan koreksi pada perdagangan Rabu. Dilansir dari Reuters, harga minyak mentah Brent turun 3,59 dollar AS atau 3,9% menjadi 88,58 dollar AS per barrel. Harga tersebut merupakan level terendah sejak 14 Agustus 2026.
Penurunan harga minyak terjadi setelah Iran dan Oman membahas pembentukan “koridor maritim bersama sementara” yang ditujukan untuk memulihkan arus pelayaran melalui Selat Hormuz.
Pembicaraan teknis juga diarahkan untuk membahas pengelolaan selat, pertukaran informasi, manajemen lalu lintas, serta layanan keamanan dan maritim.
Negosiasi tersebut berlangsung ketika Iran menghadapi tekanan ekonomi yang semakin besar akibat kebijakan Presiden AS Donald Trump.