Ekspor Agustus 2026 Naik 6,72% menjadi US$ 26,61 Miliar

ANTARA FOTO/Fitra Yogi/kye
Operator menjalankan crane untuk menurunkan peti kemas dari kapal di terminal peti kemas Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, Sumatera Barat, Jumat (14/8/2026). Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat mencatat nilai ekspor pada semester I 2026 mencapai 1.568,05 juta dolar AS atau meningkat 22,33 persen, sedangkan nilai impor mencapai 599,48 juta dolar AS atau meningkat 166,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
1/10/2026, 14.04 WIB

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 26,61 miliar pada Agustus 2026. Naik 6,72% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025.

Secara kumulatif, total nilai ekspor mencapai US$ 193,64 miliar sepanjang Januari-Agustus 2026. Angkanya naik 4,74% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan nilai ekspor migas tercatat senilai US$ 0,99 miliar atau turun 5,10%. Sedangkan nilai ekspor nonmigas tercatat naik sebesar 7,23%, sebesar US$ 25,62 miliar pada Agustus 2026.

“Pada Agustus 2026 kenaikan nilai ekspor secara tahunan didorong oleh kenaikan nilai ekspor nonmigas, pada beberapa komoditasnya, terutama nikel dan barang daripadanya yang naik cukup tinggi 51,67% secara year-on-year-nya dengan andilnya 1,84% terhadap kenaikan total ekspornya,” kata Ateng dalam konferensi pers, Kamis (1/10).

Selain nikel, lonjakan juga disumbang oleh besi dan baja (HS 72) naik 20,38% secara year-on-year-nya dengan andilnya 1,79%. Aluminium dan barang daripadanya (HS 76) naik 206,78% secara year-on-year-nya, ini andilnya sebesar 1,59%.

Jika dilihat berdasarkan sektor, ekspor non-migas Indonesia pada periode tersebut mencapai US$ 25,62 miliar. Sektor industri pengolahan sebesar US$ 22,29 miliar, sektor pertambangan dan lainnya US$ 2,79 miliar, dan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang sebesar US$ 0,53 miliar. 

“Peningkatan nilai ekspor nonmigas utamanya didorong oleh sektor industri pengolahan yang naik secara year-on-year-nya sebesar 12,48% dengan andil kenaikannya 9,92%,” ujarnya

Peningkatan ini disebabkan oleh naiknya nilai ekspor pada logam dasar bukan besi, juga pada nikel, aluminium, tembaga, serta kimia dasar organik dan lainnya.

Sementara itu ekspor sektor pertambangan dan lainnya menurun secara year-on-year-nya 19,47% dan sektor pertanian secara year-on-year-nya mengalami penurunan sebesar 11,64%.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani