Pemerintah memastikan penerapan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam proses industrialisasi akan dilakukan secara hati-hati. Kepala Badan Pengaturan BUMN Danantara Dony Oskaria mengatakan, pihaknya akan te

kehatian-hatian ini diperlukan lantaran sebagian besar pekerja Indonesia didominasi lulusan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). 

“Kami juga ingin sebetulnya melakukan implementasi dalam AI, kita coba, tapi saya bilang kita hati-hati. Kenapa? Kita harus lihat tenaga kerja kita itu ya akan kena kalau kita implementasikan AI itu sangat masif, kita tidak bisa membandingkan kita dengan negara maju,” kata Dony dalam forum ‘Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Kerja Nyata Melanjutkan Asta Cita’ di Jakarta, Kamis (8/10).

Dony mengatakan, kondisi tenaga kerja Indonesia yang didominasi lulusan SD-SMP harus menjadi pertimbangan dalam menentukan arah industrialisasi. Sekitar 38% tenaga kerja Indonesia merupakan lulusan SD.

Kondisi tersebut, menurut dia, membuat pemerintah tidak bisa hanya berfokus pada industri berteknologi tinggi yang membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu.

“Ini kan fakta. Karena itu makanya pemerintah berpikir kita harus ada yang short term planning, ada yang medium term,” katanya.

Dony mengatakan, strategi pemerintah akan dibagi ke dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Dalam jangka panjang, pemerintah tetap mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi dan pendidikan.

Ia menuturkan, kebutuhan untuk menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat berpendidikan rendah harus dijawab dalam jangka pendek. Salah satu caranya melalui pengembangan industri padat karya.

“Untuk menuju negara maju memang mau enggak mau harus mulai dari basic, gizinya dicukupi, pendidikannya dibuat, ini untuk jangka panjang. Kita juta harus memberikan employment terhadap masyarakat kita yang tadi lulusan SD, lulusan SMP, salah satunya padat karya,” kata Dony.

Ia mengatakan, pemerintah mendorong sejumlah sektor padat karya seperti tekstil dan alas kaki. Di sisi lain, pemerintah juga mulai mengembangkan industri elektronik dan semikonduktor sebagai bagian dari strategi industrialisasi jangka panjang.

“Kami masuk kembali ke tekstil, orang mungkin bilang bahwa 'kok masih masuk ke tekstil?' tetapi itu memang memberikan lapang pekerjaan yang banyak, masuk ke sepatu, kita mulai lagi ke elektronik,” katanya.

Menurut Dony, pemerintah tidak bisa meninggalkan kondisi ketenagakerjaan saat ini meskipun di saat yang sama harus mengejar ketertinggalan industrialisasi dari negara lain.

Selain tekstil, alas kaki dan elektronik, Dony mengatakan, pemerintah juga menyiapkan pengembangan industri pakan dan poultry. Ia menyebut lima perusahaan akan dibangun.

Dony mengatakan, pengembangan sektor tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah.

“Masuk lagi sekarang itu kita akan membuka paling tidak yang sudah kita akan bikin itu lima untuk perusahaan pakan, poultry, kenapa? Karena tadi, bahwa sebagian besar tenaga kerja kita,” kata Dony.

Di sisi lain, Dony menyebut, pemerintah tetap mendorong industri dengan teknologi tinggi. Salah satunya melalui pengembangan industri semikonduktor.

Dony mengatakan, Danantara telah bekerja sama dengan ARM, perusahaan asal Inggris, untuk masuk ke industri tersebut. Menurutnya, Indonesia tidak bisa terus bergantung pada komoditas dan harus mulai membangun basis industri nasional.

“Kita harus masuk ke dalam industrialisasi. Tetapi dibayangkan juga kita tidak bisa juga meninggalkan situasi yang ada hari ini,” kata Dony. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman