Nilai tukar rupiah melemah hingga menembus level 18.100 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Senin (26/10). Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memastikan, pihaknya selalu memantau pergerakan nilai tukar rupiah yang tengah menghadapi volatilitas akibat situasi global.
“Ya, kami tetap ada di pasar. Ya, ini tergantung supply-demand hari ini, ya, mungkin lagi. Ya, pokoknya tetap kami monitor pergerakannya,” kata Destry kepada wartawan di hotel Fairmont, Jakarta, Senin (26/10).
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 15.05 WIB, kurs rupiah melemah 48 poin atau 0,27% ke level 18.133 per dolar AS. Ia menilai, hal ini merupakan pergerakan biasa.
“Volatility biasa, ya. Tapi kita kan ada terus monitor, ya. Kami lihat root-cause-nya juga,” kata dia.
Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada pekan lalu mengungkapkan sejumlah faktor yang membuat nilai tukar rupiah melemah dan menembus lebih dari 18.000 per dolar AS. Salah satunya, kondisi global masih diwarnai volatilitas tinggi, termasuk akibat inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih berada di atas target dan prospek suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer.
Tantangan bagi rupiah lainnya, yakni perkembangan kebijakan suku bunga bank sentral AS, yakni Federal Reserve (The Fed).
“Sehingga itu menjadi salah satu tantangan buat rupiah kita,” kata Destry dalam konferensi pers usai rapat terbatas ekonomi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/10).
Destry mengklaim, bank sentral dapat mengantisipasi sejumlah kondisi yang menekan nilai tukar rupiah tersebut. Ia pun mengaku diminta Presiden Prabowo Subianto untuk mengupayakan stabilitas mata uang garuda.
“Tapi so far, dua hari ini rupiah, bisa kami jaga stabilitasnya, sehingga terjadi memang sedikit perlambatan. Dan itu juga sesuai dengan beberapa negara di (emerging markets),” katanya.
Lebih jauh ia menuturkan, langkah BI untuk menjaga stabilitas rupiah yaitu dengan memanfaatkan berbagai instrumen kebijakan, mulai dari intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot dan non-deliverable forward (NDF), hingga insentif biaya lindung nilai atau hedging.
Destry menyebut, insentif hedging yang dikucurkan sejak akhir Juni 2026 telah mendatangkan aliran dana melalui instrumen swap dan domestic non-deliverable forward (DNDF) senilai sekitar US$ 8 miliar hingga US$ 9 miliar.
“Intinya, Bank Indonesia akan selalu tetap berjaga di pasar,” kata Destry.